KABA KACAUNYA MINANGKABAU (27)

Karya : Rafendi Sanjaya

Tinta Rakyat – Maka mereka pun beriringan memasuki aula.

Wali Nagari Marapi dan pimpinan lembaga mitranya – Ketua LPM, Ketua LMAN, dan Ketua LMSN Marapi – duduk di belakang barisan meja di atas pentas aula.

Gadih Minang dan kawan-kawan, Viktor Tanjung dan kawan-kawan duduk di barisan kursi di samping kanan depan aula.

Pandeka – koordinator Persatuan Urang Sumando Nagari Marapi – duduk di barisan kursi sebelah kiri mereka.

Di samping kiri dan kanan Pandeka, duduk kelima koordinator urang sumando korong se-Nagari Marapi.

Para anggotanya duduk di kursi di tengah-tengah aula.

“Pandeka, sudah bisa dialog dimulai?” tanya Wali Nagari.

“Sudah!” jawab Pandeka.

“Yang mau bicara, silahkan angkat tangan!” kata Wali Nagari melempar.

Pandeka mengacungkan jempol jari tangan kanannya ke atas kepalanya.

“Anak kami dibesarkan dengan beras dibeli, bukan dengan beras raskin!”

“Jadi?”

“Pecat Parik Paga Korong!”

“Bukankah Parik Paga Korong adalah urang sumando korong?”

“Ya!”

“Kenapa Parik Paga Korong harus dipecat?”

“Yang berhak menegur atau menghardik adalah ayahnya, bukan Parik Paga Korong!”

“Bukankah para ayah juga urang sumando korong?”

“Ya!”

“Berarti para ayah memecat dirinya sebagai urang sumando?“

Pandeka diam sambil memilin kumisnya.

“Pandeka…” seru Wali Nagari Marapi.

“Ya.

“Maksud dan tujuan adik-adik ini menghidupkan kembali Parik Paga Korong, baik atau tidak untuk membina akhlak umbuik mudo korong usia sekolah.”

“Belum tentu!”

“Kok belum tentu?”

“Karena kami yang akan merasa efek sampingnya!”

“Bukankah jika mereka seperintah Parik Paga Korong, nagari akan nyaman dan tenteram karena hidup dan kehidupan masyarakatnya sesuai dengan adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, dan syarak mangato adat mamakai. Ya?”

“Ya!”

“Kalau begitu, apa masalahnya?”

“Kami dituding tidak mampu membina anak sendiri. Oleh karena itu, pecat Parik Paga Korong!”

“Ya. Pecat Parik Paga Korong!” ulang-ulang kawannya nyaris serentak.

“Bukankah urang sumando adalah ayah dari anak-anak yang akan dihardik?” tukas Wali Nagari Marapi bertanya.

“Ya!”

“Berarti para ayah korong tidak seanak?”

“Ya. Apa boleh buat!”

“Astagfirullah! Masya-Allah!” ucap Wali Nagari Marapi seketika.

Pandeka memberi kode dengan menarik telapak tangan kanannya ke atas.

Kawan-kawan Pandeka pun berdiri lalu beriringan meninggalkan ruang rapat Kantor Wali Nagari Marapi.

Keempat pimpinan lembaga Pemerintahan Nagari Marapi memandang mereka sambil menggelengkan kepalanya.

“Minangkabau telah jadi Minangkacau,” gumam Gadih Minang dalam hatinya. (tamat)

Lubuk Alung, April 1992- Agustus 2025

 

Catatan:

Kaba: kisah/cerita

umbuik mudo: generasi muda

urang: orang

pulang basamo: pulang kampung bersama rombongan

nagari asa: negeri asal

kembang: bunga

surau gadang: surau besar

Indang: berdendang dengan menggunakan Rafai/salah satu seni tradisi di pesisir Minangkabau

ULu Ambek: dua lelaki dengan gerakan silat yang lambat seolah menyerang dan menanti serangan

tunduik: tunangan saumua hiduik/seumur hidup

bujang: lelaki

padusi: gadis/perempuan

pulang ka Bako: menikah dengan anak mamak/keponakan ayah

mahengong: melirik/memandang dengan memalingkan

Da: singkatan dari Uda/panggilan kepada suami/lelaki yang lebih tua usianya

ponakan: panggilan mamak kepada keponakan

Mak Ongga: mamak/paman satu-satunya

sinsa: pusing

Mintuo: panggilan kepada istri mamak/paman

lantun: pantulan/harapan

hep ta hep ti: ungkapan pengalih cerita/peristiwa dalam Randai (teater rakyat Sumatera Barat)

tuangku: panggilan kepada guru mengaji/ustad/ulama

tunduik bujang: tunduik yang laki-laki/lelaki

surel: surat elektronik

tunduik padusi: tunduik yang gadis/perempuan

udah: sudah

Jo: singkatan dari kata sapaan Ajo/panggilan kepada kakak lelaki atau suami di Kota Pariaman

Da: singkatan dari Uda/panggilan kepada lelaki yang lebih tua

hati mangka: kesal

Cuter: cucu tersayang

nggak: tidak

ntar: sebentar

Bisan: ibu atau ayah dari menantu (suami/istri anak)

Nak: singkatan dari anak/panggilan lisan

beriya-berbukan: berunding

baganjua: duduk bersama membahas suatu masalah

Ungku: panggilan kepada tuangku

Mak Datuak: panggilan kepada mamak yang bergelar datuak

adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah: adat bersandi agama agama bersandi Kitab Allah

syarak mangato adat mamakai (SMAM): agama memerintah adat melaksanakan

ngikut: mengikuti/ikut

nggak: tidak

Bako: keluarga ayah

Nagari Bako: kampung asal keluarga ayah

Tuak: panggilan seseorang kepada datuak yang sebaya usia

lahan tidur: lahan terlantar/tidak tergarap

Parik Paga Korong: penjaga keamanan korong

Parewa: seseorang yang mahir bersilat tetapi berjiwa pareman

rancak: bagus/elok

mamak adat: pemangku kepentingan adat

mamak syarak: pemangku kepentingan agama

Pandeka: pendekar/seseorang yang mahir bersilat

menggantang asap: menakar sesuatu yang tidak jelas

urang sumando: istri/suami dari kakak/adik

tamu malam: datang ke rumah istri hanya pada malam hari

zaman saisuak: dahulu kala

mengunyah-ngunyahnya: membahas/mempelajari

hati gadang: gembira

kurenah: kebiasaan

kadok pangana indak di badan: sering pikiran tidak di badan

hoyak tabuik Piaman: gerakkan menghoyak Tabuik pada acara tahunan Pesta Tabuik di Kota Pariaman

digantung tak bertali: sesuatu yang tidak berketentuan

urang tuo: seseorang yang dituakan dalam nagari/korong

cadiak pandai: seseorang yang berilmu pengetahuan luas dan berpengalaman

Bundo kanduang: panggilan/julukan kepada perempuan tua yang penyayang

kapalo umbuik mudo bujang: ketua lekaki yang muda-muda

kapalo umbuik mudo padusi: ketua yang gadis-gadis

rumah gadang: rumah besar/rumah asal kaum

kapalo mudo: perpanjangan tangan mamak adat/petugas fungsional adat

labai: perpanjangan tangan mamak syarak/petugas

fungsional agama

alek baik: pesta nikah

alek buruak: kematian

parik paga: pemuda pengawal/pengawas kampung

sumbang kata: berkata tidak pantas

sumbang tingkah laku: tindakan yang tidak beradat

kato nan ampek: kata yang empat (mendaki, mendatar, menurun, melereng)

lima menit ka tingga: batas waktu hampir habis

kamek: gadis/wanita yang rancak/manis

rang rumah: istri

Minangkacau: Minang yang kacau

labai korong: petugas fungsional agama tingkat korong/dusun

mati suri: sudah lama tidak berfungsi

batang terendam: paham/pedoman hidup lama/gelar penghulu

yang sudah lama tidak dipakai

urang sumando: urang semenda/suami kakak/adik perempuan

Manti: sekretaris nagari/petugas fungsional agama

kunker: singkatan dari kunjungan kerja

ndak rancak: tidak bagus

mati suri: sudah lama tidak hidup/berfungsi

membangkit batang terendam: membangkit ajaran/gelar penghulu yang sudah lama tidak berfungsi.

Komentar