KABA KACAUNYA MINANGKABAU (26)

KARYA : RAFENDI SANJAYA 

Urang Sumando Unjuk Rasa Tolak Diberlakukannya Parik Paga Korong

Tinta Rakyat – BERBUAT kebajikan dan kebaikan yang tak diharapkan orang, samalah dengan musafir yang digonggong sang anjing ketika tak sengaja lewat di pekarangan rumah tuannya.

Besok paginya, urang sumando kelima Nagari asa nenek mereka berunjuk rasa di kantor wali nagari masing-masing.

Jadwalnya – sesuai sms dari ayah Julia Maya Panyalai – pukul sepuluh pagi. Gadih Minang dan kawan-kawan, Viktor Tanjung dan kawan-kawan pun menghadirinya.

Mereka ke sana dengan sepeda masing-masing.

Kurang pukul sepuluh, mereka tiba di jalan di depan Kantor Wali Nagari Marapi.

Di halamannya, tampak puluhan pengunjuk rasa berbaris dengan rapi menghadap keempat pimpinan lembaga Pemerintah Nagari Marapi yang berdiri berdampingan di depan teras.

Gadih Minang dan kawan-kawan, Viktor Tanjung dan kawan-kawan diam-diam menggiring sepedanya menuju tempat parkir.

Sekretaris Nagari Marapi – yang berdiri di bawah atap tempat parkir – melirik kedatangan mereka.

Dengan spontan ia melangkah menuju barisan keempat pimpinan lembaga Pemerintahan Nagari Marapi.

Setelah berdiri di belakang Wali Nagari Marapi, ia berbisik dengan tangan kiri menunjuk ke tempat parkir.

Mereka telah selesai memarkir sepeda, lalu menoleh ke barisan keempat pimpinan lembaga Pemerintahan Nagari Marapi.

Wali Nagari Marapi mengkode dengan menggerakkan telapak tangan kanannya ke arah dadanya.

Gadih Minang dan kawan-kawan, Viktor Tanjung dan kawan-kawan pun beriringan melangkah menuju teras Kantor Wali Nagari Marapi.

“Silahkan berdiri di kiri dan kanan kami,” kata Wali Nagari Nagari.

Gadih Minang dan kawan-kawan, Viktor Tanjung dan kawan-kawan pun berdiri di samping kiri dan kanan beliau-beliau itu.

Setelah berdiri, mereka menghadap kepada pengunjuk rasa dan memberi salam dengan kedua telapak tangan di dada.

Para pengunjuk rasa membalasnya dengan cara yang sama.

Wali Nagari Marapi bergantian melirik pimpinan lembaga mitranya, Gadih Minang dan kawan-kawan, Viktor Tanjung dan kawan-kawan.

“Sudah bisa dimulai?” kata Wali Nagari Marapi melempar.

Mereka serentak menganggukkan kepalanya. Begitu juga pengunjuk rasa.

“Pandeka, silahkan sampaikan orasi dengan santun,” kata Wali Nagari Marapi.

Pandeka pun balik kanan gerak, dan memberi kode dengan menunjukkan dua jari kanannya ke udara.

Dua kawannya dengan langkah tegap maju ke depan. Salah seorang di antaranya memegang lipatan spanduk. Setelah balik kanan, keduanya merapatkan barisannya, lalu yang berdiri di sebelah kiri menyerahkan kayu perentang spanduk kepada kawannya.

“Siap gerak!” kata Pandeka.

Keduanya dengan sigap merentang sebuah spanduk.

Gadih Minang dan kawan-kawan, Viktor Tanjung dan kawan-kawan membaca tulisannya: “Anak Kami Dibesarkan dengan Beras Dibeli. Yang Berhak Menghardik Ayahnya Bukan Urang Sumando! Pecat Parik Paga Korong!”

“Baik. Kita berdialog di aula,” kata Wali Nagari Marapi. (bersambung)

Komentar