Tinta Rakyat – Maka mereka pun beriringan memasuki aula.
Wali Nagari Marapi dan pimpinan lembaga mitranya – Ketua LPM, Ketua LMAN, dan Ketua LMSN Marapi – duduk di belakang barisan meja di atas pentas aula.
Gadih Minang dan kawan-kawan, Viktor Tanjung dan kawan-kawan duduk di barisan kursi di samping kanan depan aula.
Pandeka – koordinator Persatuan Urang Sumando Nagari Marapi – duduk di barisan kursi sebelah kiri mereka.
Di samping kiri dan kanan Pandeka, duduk kelima koordinator urang sumando korong se-Nagari Marapi.
Para anggotanya duduk di kursi di tengah-tengah aula.
“Pandeka, sudah bisa dialog dimulai?” tanya Wali Nagari.
“Sudah!” jawab Pandeka.
“Yang mau bicara, silahkan angkat tangan!” kata Wali Nagari melempar.
Pandeka mengacungkan jempol jari tangan kanannya ke atas kepalanya.
“Anak kami dibesarkan dengan beras dibeli, bukan dengan beras raskin!”
“Jadi?”
“Pecat Parik Paga Korong!”
“Bukankah Parik Paga Korong adalah urang sumando korong?”
“Ya!”
“Kenapa Parik Paga Korong harus dipecat?”
“Yang berhak menegur atau menghardik adalah ayahnya, bukan Parik Paga Korong!”
“Bukankah para ayah juga urang sumando korong?”
“Ya!”
“Berarti para ayah memecat dirinya sebagai urang sumando?“
Pandeka diam sambil memilin kumisnya.
“Pandeka…” seru Wali Nagari Marapi.
“Ya.
“Maksud dan tujuan adik-adik ini menghidupkan kembali Parik Paga Korong, baik atau tidak untuk membina akhlak umbuik mudo korong usia sekolah.”
“Belum tentu!”
“Kok belum tentu?”
“Karena kami yang akan merasa efek sampingnya!”
“Bukankah jika mereka seperintah Parik Paga Korong, nagari akan nyaman dan tenteram karena hidup dan kehidupan masyarakatnya sesuai dengan adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, dan syarak mangato adat mamakai. Ya?”
“Ya!”
“Kalau begitu, apa masalahnya?”
“Kami dituding tidak mampu membina anak sendiri. Oleh karena itu, pecat Parik Paga Korong!”
“Ya. Pecat Parik Paga Korong!” ulang-ulang kawannya nyaris serentak.
“Bukankah urang sumando adalah ayah dari anak-anak yang akan dihardik?” tukas Wali Nagari Marapi bertanya.
“Ya!”
“Berarti para ayah korong tidak seanak?”
“Ya. Apa boleh buat!”
“Astagfirullah! Masya-Allah!” ucap Wali Nagari Marapi seketika.
Pandeka memberi kode dengan menarik telapak tangan kanannya ke atas.
Kawan-kawan Pandeka pun berdiri lalu beriringan meninggalkan ruang rapat Kantor Wali Nagari Marapi.
Keempat pimpinan lembaga Pemerintahan Nagari Marapi memandang mereka sambil menggelengkan kepalanya.
“Minangkabau telah jadi Minangkacau,” gumam Gadih Minang dalam hatinya. (tamat)
Lubuk Alung, April 1992- Agustus 2025
Catatan:
Kaba: kisah/cerita
umbuik mudo: generasi muda
urang: orang
pulang basamo: pulang kampung bersama rombongan
nagari asa: negeri asal
kembang: bunga
surau gadang: surau besar
Indang: berdendang dengan menggunakan Rafai/salah satu seni tradisi di pesisir Minangkabau
ULu Ambek: dua lelaki dengan gerakan silat yang lambat seolah menyerang dan menanti serangan
tunduik: tunangan saumua hiduik/seumur hidup
bujang: lelaki
padusi: gadis/perempuan
pulang ka Bako: menikah dengan anak mamak/keponakan ayah
mahengong: melirik/memandang dengan memalingkan
Da: singkatan dari Uda/panggilan kepada suami/lelaki yang lebih tua usianya
ponakan: panggilan mamak kepada keponakan
Mak Ongga: mamak/paman satu-satunya
sinsa: pusing
Mintuo: panggilan kepada istri mamak/paman
lantun: pantulan/harapan
hep ta hep ti: ungkapan pengalih cerita/peristiwa dalam Randai (teater rakyat Sumatera Barat)
tuangku: panggilan kepada guru mengaji/ustad/ulama
tunduik bujang: tunduik yang laki-laki/lelaki
surel: surat elektronik
tunduik padusi: tunduik yang gadis/perempuan
udah: sudah
Jo: singkatan dari kata sapaan Ajo/panggilan kepada kakak lelaki atau suami di Kota Pariaman
Da: singkatan dari Uda/panggilan kepada lelaki yang lebih tua
hati mangka: kesal
Cuter: cucu tersayang
nggak: tidak
ntar: sebentar
Bisan: ibu atau ayah dari menantu (suami/istri anak)
Nak: singkatan dari anak/panggilan lisan
beriya-berbukan: berunding
baganjua: duduk bersama membahas suatu masalah
Ungku: panggilan kepada tuangku
Mak Datuak: panggilan kepada mamak yang bergelar datuak
adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah: adat bersandi agama agama bersandi Kitab Allah
syarak mangato adat mamakai (SMAM): agama memerintah adat melaksanakan
ngikut: mengikuti/ikut
nggak: tidak
Bako: keluarga ayah
Nagari Bako: kampung asal keluarga ayah
Tuak: panggilan seseorang kepada datuak yang sebaya usia
lahan tidur: lahan terlantar/tidak tergarap
Parik Paga Korong: penjaga keamanan korong
Parewa: seseorang yang mahir bersilat tetapi berjiwa pareman
rancak: bagus/elok
mamak adat: pemangku kepentingan adat
mamak syarak: pemangku kepentingan agama
Pandeka: pendekar/seseorang yang mahir bersilat
menggantang asap: menakar sesuatu yang tidak jelas
urang sumando: istri/suami dari kakak/adik
tamu malam: datang ke rumah istri hanya pada malam hari
zaman saisuak: dahulu kala
mengunyah-ngunyahnya: membahas/mempelajari
hati gadang: gembira
kurenah: kebiasaan
kadok pangana indak di badan: sering pikiran tidak di badan
hoyak tabuik Piaman: gerakkan menghoyak Tabuik pada acara tahunan Pesta Tabuik di Kota Pariaman
digantung tak bertali: sesuatu yang tidak berketentuan
urang tuo: seseorang yang dituakan dalam nagari/korong
cadiak pandai: seseorang yang berilmu pengetahuan luas dan berpengalaman
Bundo kanduang: panggilan/julukan kepada perempuan tua yang penyayang
kapalo umbuik mudo bujang: ketua lekaki yang muda-muda
kapalo umbuik mudo padusi: ketua yang gadis-gadis
rumah gadang: rumah besar/rumah asal kaum
kapalo mudo: perpanjangan tangan mamak adat/petugas fungsional adat
labai: perpanjangan tangan mamak syarak/petugas
fungsional agama
alek baik: pesta nikah
alek buruak: kematian
parik paga: pemuda pengawal/pengawas kampung
sumbang kata: berkata tidak pantas
sumbang tingkah laku: tindakan yang tidak beradat
kato nan ampek: kata yang empat (mendaki, mendatar, menurun, melereng)
lima menit ka tingga: batas waktu hampir habis
kamek: gadis/wanita yang rancak/manis
rang rumah: istri
Minangkacau: Minang yang kacau
labai korong: petugas fungsional agama tingkat korong/dusun
mati suri: sudah lama tidak berfungsi
batang terendam: paham/pedoman hidup lama/gelar penghulu
yang sudah lama tidak dipakai
urang sumando: urang semenda/suami kakak/adik perempuan
Manti: sekretaris nagari/petugas fungsional agama
kunker: singkatan dari kunjungan kerja
ndak rancak: tidak bagus
mati suri: sudah lama tidak hidup/berfungsi
membangkit batang terendam: membangkit ajaran/gelar penghulu yang sudah lama tidak berfungsi.




Komentar