BERTAMUNYA TUNDUIK GADIH MINANG
Tinta Rakyat – IBARAT air yang bergerak menuju muara, waktu kuliah Gadih Minang pun mengalir hingga tinggal mengetik daftar pustaka skripsinya saja.
Makanya hari itu – usai berdoa setelah shalat Subuh – Gadih Minang dengan mukenah masih melekat di badannya, berjalan beberapa langkah kemudian duduk di ruang tamu.
Gadih Minang berencana melanjutkan penulisan skripsinya.
Di sana – di ruang tamu itu – Laptop dan catatan daftar pustaka skripsinya sudah tergeletak di atas meja.
Gadih Minang sampai di ruang tamu, lalu duduk di belakang meja menghadap ke pintu, kemudian mahengong ke ruang keluarga di sebelah kanan.
Tampak neneknya – sebagaimana biasanya setelah shalat Subuh – sambil minum Teh Manis panas dan merenda – duduk di ruang tengah menonton siaran Kajian Ilmu Agama Islam di salah satu TV swasta nasional.
“Assalammualaikum,” terdengar suara seseorang tiba-tiba.
Gadih Minang terkejut, segera berdiri, lalu berjalan beberapa langkah, kemudian menyingkap kain tirai penutup kaca pintu.
Setelah tersingkap, darah Gadih Minang seketika berdesir.
Tampak Bujang Minang – tunduiknya – berdiri sambil tersenyum.
“Waalaikum salam. Nek!!!”
“Ya.”
“Da Bujang datang bertamu…”
“Suruh masuk dan duduk!”
Bujang Minang masuk dan duduk di kursi membelakang jendela. Gadih Minang duduk di kursi di samping kanan tunduiknya.
Terdengar suara mendehem.
Bujang Minang mahengong ke arah datangnya suara.
Tampak dari lorong tengah rumah, ayah dan ibu Gadih Minang melangkah beriringan menuju ruang tamu.
Tunduik Gadih Minang seketika berdiri, lalu memberi salam dengan kedua telapak tangan di dada.
Sambil melangkah, ayah dan ibu Gadih Minang membalasnya dengan cara yang sama.
Gadih Minang diam.
Ayah dan ibu Gadih Minang sampai di ruang tamu.
“Silahkan duduk,” kata ayah Gadih Minang.
Bujang Minang pun duduk.
Ayah dan ibu Gadih Minang duduk berdampingan di kursi di depan tunduiknya.
“Tumben datang bertamu. Ada yang akan Ponakan sampaikan?’ kata ayah Gadih Minang.
“Ya, Mak Ongga.”
“Sampaikanlah!”
“Gara-gara rancangan proposal yang dikirim Gadih, kami para tunduik bujang sinsa.”
“Proposal apa itu?”
“Sebelum resmi pulang ka Bako para tunduik PPM Kota Kembang pulang basamo dahulu ke nagari asa nenek di ranah Minangkabau.”
“Astagfirullah! Itu ikrar yang dilafas Gadih setelah kalian bersumpah dengan Al-Quran untuk pulang ka Bako,” sela ibu Gadih Minang.
“Kan masih wacana?” tukas ayah Gadih Minang.
“Beberapa jam lagi tidak!” kata Bujang Minang.
“Kok tidak? Apa pasalnya?” sela ibu Gadih Minang.
“Besok malam setelah Isya, kami para tunduik bujang diundang para tunduik padusi untuk memfinalkannya,” kata Bujang Minang.
“O itu pasalnya?” tukas sekaligus tanya ayah Gadih Minang.
“Ya.”
“Apa maksud Ponakan datang bertamu?”
“Ingin tahu, apa Mak Ongga dan Mintuo mendukung maksud dan tujuan proposal itu?”
“Apa lantunnya?”
“Tunduik bujang, udah dua-tiga tahun wisuda. Jadi, udah pantas menikah.”
“Kalau itu lantunnya, apa Ponakan udah rundingkan dengan ayah-ibu?”
“Belum. Nanti Ujang rundingkan…”
“O begitu?”
“Ya. Ujang permisi…”
“Kok buru-buru? Gadih belum lepas kangennya?” sela Ibu Gadih Minang.
“Kapan-kapan Ujang datang bertamu lagi. Assalammualaikum.”
“Waalaikum salam!” jawab ayah dan ibu Gadih Minang serentak.
Bujang Minang berdiri, lalu memberi salam dengan kedua telapak tangan di dada kepada nenek, dan kepada ayah-ibu Gadih Minang.
Mereka membalasnya dengan cara yang sama.
Bujang Minang melangkah menuju pintu.
Gadih Minang melirik ibunya.
Ibunya memberi kode dengan menggerakan telapak tangan kanannya ke arah pintu.
Gadih Minang melangkah menuju pintu, lalu dengan kepala tertunduk melepas kepergian sepeda motor tunduiknya.
Setelah sepeda motor tunduik-nya tidak tampak lagi, Gadih Minang kembali ke kamarnya.
Ia baringkan dirinya di kasur dengan pikiran gundah-gulana memikirkan rencana tunduik-nya untuk segera menikah. (bersambung)







Komentar