Tinta Rakyat – Bermukim di Kompleks Perumahan Persatuan Perantau Minang (KP PPM) Kota Kembang
GADIH Minang dan kawan-kawan, Bujang Minang dan kawan-kawan, serta Viktor Tanjung dan kawan-kawan, adalah umbuik mudo berdarah Minangkabau yang lahir dan besar, serta bermukim di rantau urang.
Khusus Gadih Minang dan kawan-kawan, Bujang Minang dan kawan-kawan bermukim di KP PPM Kota Kembang, atau di dalam negeri. Sedang Viktor Tanjung Ketua Persatuan Pemuda Maya Minang (PPMM) Dunia dan kawan-kawan bermukim di luar negeri.
Jumlah rumah KP PPM Kota Kembang sesuai jumlah KK-nya, yaitu 40 orang.
Bangunannya berlantai tiga dengan atap bergonjong lima. Masing-masing lantainya berkamar dua. Lantai pertama dihuni kakek-nenek mereka. Lantai kedua dihuni mereka. Sedang lantai tiganya di huni ayah-ibu mereka.
Kakek-nenek dan ayah-ibu mereka adalah pasangan yang pulang ka Bako alias bertunduik.
Mereka sebagai generasi penerus ketiga, juga dikondisikan akan pulang ka Bako pula.
Hal itu dibuktikan dengan melingkarnya cincin emas di jari manis, ketika mereka belum akil balig.
Setelah akil balig, fisik, mental dan spiritual mereka dibina dan diasuh di Surau Gadang PPM Kota Kembang dengan adat Timur yang santun, dan agama berketuhanan yang tauhid, pelatihan seni tradisi Indang dan Ulu Ambek, serta seni bela diri Pencak Silat.
Pembinaan dan pengasuhan itu, membangun jati diri pasangan tunduik PPM Kota Kembang.
Mereka tidak mudah tergoda oleh bujuk rayu kesenangan dan kemudahan yang ditawarkan modernisasi, dan globalisasi yang ditandai dengan canggihnya teknologi tranportasi, komunikasi, digital dan informatika.
Seiring berjalannya waktu, Gadih Minang dan kawan-kawan berkembang bak bunga.
Sejumlah anak bujang dari kompleks perumahan tetangga bersuitan, ketika Gadih Minang dan kawan-kawan melewatinya.
Tunduik mereka – para tunduik bujang – menyidiknya sebagai luka yang apabila dibiarkan akan bernanah.
Mereka sepakat, pertunangan tunduik PPM Kota Kembang dibuhul mati dengan bersumpah dengan Al-Quran untuk pulang ka Bako.
Bujang Minang – koordinator para tunduik bujang – menyampaikannya kepada Gadih Minang dan kawan-kawan melalui WA Tunduik PPM Kota Kembang.
Sebelum menjawabnya, Gadih Minang dan kawan-kawan sepakat, perlu ditelusuri, apa maksud dan tujuan kakek-nenek dan ayah-ibu mereka pulang ka Bako?
Hasil penelusuran disampaikan kawan-kawan Gadih Minang melalui WA Tunduik Padusi PPM Kota Kembang.
Gadih Minang diberi tugas menyimpulkannya.
Setelah disimpulkan Gadih Minang, rupanya kakek-nenek dan ayah-ibu mereka pulang ka Bako untuk mewariskan kepada anak dan kemenakan harta pencarian di rantau sebagai modal usaha dagang turun-temurun.
Usai sepaham, Gadih Minang dan kawan-kawan setuju dengan usul para tunduik bujang itu, tetapi ada ikrarnya yang dilafalkan pula dengan Al-Quran di atas kepala. Tanpa menanyakan apa lafalnya, para tunduik bujang setuju.
Maka mereka bersumpahlah dengan Al-Quran, untuk pulang ka Bako. Usai bersumpah, Gadih Minang dengan Al-Quran di atas kepala, melafalkan ikrar: “Sebelum resmi pulang ka Bako, para tunduik PPM Kota Kembang pulang basamo dahulu guna berbuat kebajikan dan kebaikan di Nagari Asa Nenek dan Kakek di ranah Minang.” (bersambung)







Komentar