Tertipu Menantu Rancak Di Labuah
Tinta Rakyat – “Wali…” tukas seseorang tiba-tiba sambil mengangkat tangan kanannya.
Semua orang mahengong ke arahnya.
“O Pak Haji Lambau. Ada apa?” tutur Wali Nagari Kito.
“Bagaimana dengan uang hilang yang saya perkarakan itu?”
“O kasus Pak Haji tertipu oleh menantu rancak di labuah itu?”
“Ya.”
“Perkaranya juga akan disidangkan di MAS Nagari Kito!”
Tak seorang pun yang bicara.
Sejenak sunyi.
Uwan menyikut gue.
“Pak Wali…” kata gue.
“Ya. Ada apa Bang Sut?”
“Penelitian kami tentang dampak positif dan negatif pengadaan uang hilang dalam adat istiadat nikah-kawin Rang Piaman Laweh hampir selesai….”
“Oh ya. Lalu?”
“Apakah hasilnya tidak perlu jadi bahan pertimbangan sebelum MAS Nagari Kito menggelar musyawarah-mupakat?”
“Perlulah!”
“Kalau begitu, kapan sebaiknya hasil penelitiannya kami presentasikan?”
“Tentunya sebelum bersidangnya MAS Nagari Kito!”
“Baik. Kami presentasikan sehari sebelumnya.”
“Rancak.”
Ajo Sidi dan urang rumahnya muncul dengan masing-masing menating sebuah baki.
Ajo Sidi meletakkan bakinya di atas meja terujung dari tempat duduk kami bertiga.
Isinya beberapa gelas kopi dengan air setengah gelas kecil.
Rang rumah Ajo Sidi meletakan baginya di belakang baki Ajo Sidi. Isinya sejumlah piring kecil berisi dua potongan martabak.
“Tolong diedarkan,” kata Ajo Sidi lalu melangkah diiringi rang rumahnya menuju etalase cafe.
Diawali oleh Ajo Laweh yang duduk paling ujung di barisan meja lesehan sebelah kiri, dan Ajo Panyolo yang duduk paling ujung di barisan meja lesehan sebelah kanan, beredarlah kopi-kopi setengah gelas dan piring-piring kecil berisi potongan martabak itu.
Masing-masing tangan menggesernya akhirnya tiba di depan meja kami bertiga.
“Silahkan dicicipi!” kata Wali Nagari Kito.
Wali Nagari Kito menuangkan kopi panas gelas kecil di depannya ke tadahnya.
Kami pun juga demikian.
Wali Nagari Kito memakan sepotong martabak.
Kami pun juga demikian.
Setelah sepotong martabak itu terkunyah dan tertelan semuanya, Wali Nagari Kito menghirup kopi yang telah dituangkan ke tadahnya tadi itu.
Kami pun juga demikian.
“Masih panas!” kata Wali Nagari Kito.
Kami pun juga merasakan hal demikian.
Wali Nagari Kito menarik napas beberapa jenak.
Kami memandangnya dengan diam.
Tak seorang pun yang bicara.
Beberapa jenak sunyi.
Tak seorang pun yang bicara.
Uwan tiba-tiba berbisik ke telinga gue.
Gue menganggukkan kepala.
Uwan selesai berbisik.
“Maaf Pak Wali,” kata gue.
Wali Nagari Kito menoleh ke arah gue.
“Ya Bang Sut, apa?”
“Saya ingin bertanya…”
“Silahkan.”
“Apa hubungan uang hilang dengan menantu rancak di labuah?”
Wali Nagari Kito diam.
Demikian juga orang-orang yang lainnya.
Beberapa jenak sunyi.
“Bagaimana Pak Haji Lambau?” kata Wali Nagari bertanya.
“Pak Wali sajalah yang menjelaskan!” kata Haji Lambau.
“Baik.”
Wali Nagari Kito menarik napas beberapa jenak.
Kami menunggu dengan diam.
Beberapa jenak sunyi.
“Seminggu setelah pesta nikah, menantu Pak Haji Lambau kembali ke rantau…”
“Istrinya dibawa?” tukas dan tanya gue seketika.
“Ditinggalkan!”
“Kok ditinggalkan?”
“Tapi ada alasannya.”
“Apa?”
“Dicari dahulu rumah kontrakkan…”
“Lalu?”
“Jangankan mengirim uang belanja, kabar beritanya pun tak ada. Karena sudah lebih enam bulan, secara agama mereka sah bercerai. Pak Haji memenui mamak menantunya. Maksudnya, meminta kembali uang hilangnya. Rupanya dibawa semuanya ke rantau oleh menantunya untuk modal mengembangkan usaha dagangnya…”
“Selanjutnya, bagaimana?”
“Pak Haji melaporkannya ke aparat penegak hukum dengan tuduhan penipuan. Pak Haji menuntut uang hilang-nya dikembalikan.”
“Apa pendapat aparat penegak hukum?”
“Tidak bisa diproses, karena kasusnya kasus adat bukan perdata. Selanjutnya Pak Haji mengadu ke MAS Nagari Kito.”
Tak seorang pun yang bicara.
Beberapa jenak sunyi.
Angin tiba-tiba masuk sepoi-sepoi dari kisi-kisi jendela.
Dinginnya terasa setelah menerpa tubuh kami.
Kami sejenak menggigil dibuatnya.
“Bang Sut, masih ada lagi yang akan ditanyakan?” kata Uwan memecah kebuntuan.
“Ada.”
“Sampaikanlah!”
“Tapi pertanyaannya ditujukan untuk Pak Haji.”
“Bagaimana Pak Haji?” kata Uwan.
“Silahkan,” kata Haji Lambau.
“Mohon maaf dan izin Pak Haji. Pertanyaan yang akan gue ajukan berhubungan dengan sumber dana uang hilangnya…”
“Silahkan! Saya ini ibarat sudahlah jatuh tertimpa tangga pula. Kepalang tanggung saya dipermalukan, saya ungkapkan saja semuanya!”
Gue sejenak terdiam mendengarnya.
Gue perhatikan bergantian Wali Nagari Marapi, dan orang-orang yang duduk di belakang meja lesehannya.
Semuanya pada memandang ke arah gue, tetapi diam.
Uwan tiba-tiba menyikut gue.
“Oh ya Pak Haji, apakah uang hilangnya sudah tersedia sebelum peminangan?”
“Belum!”
“Kapan disediakan?”
“Jika sudah tampak calon ampulainya.”
“Sumber dananya dari mana? Tabungan, meminjam atau menggadai?”
“Menggadai.”
“Siapa yang menggadai?”
“Saya.”
“Apa yang Pak Haji gadaikan?”
“Pusaka tinggi berupa sawah!”
“Berapa piring?”
“Sepuluh piring!”
“Digadai dengan barang emas?”
“Ya.”
“Berapa emas?”
“Senilai uang hilangnya!”
“Siapa penerima gadai?”
“Manti Nagari Kito!”
“Sawahnya sawah pusaka tinggi kaum istri Pak Haji?”
“Tidak. Sawah pusaka tinggi kaum saya.”
“Apakah itu lazim?”
“Tidak!”
“Kok Pak Haji lakukan juga?”
“Yang berkehendak meminang saya, bukan istri saya!”
“Jadi, keluarga istri Pak Haji, termasuk mamak dari anak gadis Pak Haji, tidak tahu-menahu?”
“Ya. Tidak tahu-menahu!”
“Setelah kejadian itu, bagaimana hubungan Pak Haji dengan sanak-kemenakan?”
“Sanak-kemenakan tidak mengakui saya sebagai mamak kepala waris. Apabila sempat menginjak pekarangan rumah gadang kaum, saya dilempar dengan tahi sapi. Mereka merasa dirugikan. Selama ini sanak-kemenakan saya tidak membeli beras. Sejak sawah tergadai, mereka membeli beras karena setiap panen hanya menerima padi sebanyak seper limanya…”
“Empat per lima lagi hasil padinya jadi hak siapa?”
“Hak Manti Nagari Kito selaku pemegang gadai. Dan sejak peristiwa itu,” kata Haji Lambau tertahan.
Kami menunggu dengan diam.
Kembali beberapa jenak sunyi.
Uwan lagi-lagi menyukut gue.
“Sejak peristiwa itu, apa Pak Haji?” tanya gue seketika.
“Saya kena cekal,
“Apa itu?”
“Cegah dan tangkal!”
“Oh ya. Apa tindak lanjutnya?”
“Saya tidak boleh pulang kampung!”
“Lalu bagaimana hubungan Pak Haji dengan amak paja?”
“Aman-aman saja…”
“Dengan paja-paja?”
“Yang ditinggal kabur ampulainya amat menyesali perbuatan saya! Ia sudah hamil sedang bapak bayinya tidak tahu di mana rimbanya! Tiga adiknya, membenci saya tidak kepalang tanggungnya!”
“Itu yang Pak Haji maksud, sudahlah jatuh tertimpa tangga pula?”
“Ya!”
“Bagaimana pandangan sanak keluarga istri Pak Haji?”
“Saya sudah dianggap bagai sumando kacang miang yang telah mempermalukan kaum istri saya!”
“Apakah Pak Haji ada menerima sangsi dari keluarga istri Pak Haji?”
“Secara resmi tidak, tetapi saya sudah seperti abu di atas tunggua., menunggu saatnya diusir dari rumah. Padahal rumah itu saya yang membangun di atas tanah pusaka tinggi kaum istri saya. Jadi…”
“Apa?”
“Apabila saya ambil, tentu tidak mungkin terbawa. Jika saya…”
“Apa?”
“Minta dikembalikan uangnya, tentu tak mungkin…”
“Kenapa?”
“Urang sumando membuat rumah pada umumnya untuk anak-istrinya bukan untuk dirinya!”
“O begitu?”
“Ya!”
“Kalau saatnya telah tiba, dari siapa perintah usir itu?”
“Dari mamak rumah…”
“Siapa itu?”
“Kakak atau adik lelaki dari istri saya.”
”Gue kira mertua, ayah atau ibu dari istri kita…”
“Bukan.”
“Terima kasih banyak atas informasinya Pak Haji, Pak Wali, serta Ajo-Ajo sekalian,” kata gue.
“Baik. Kita akhiri pertemuan ini. Rang cafe!” kata Wali Nagari Kito.
Gue mahengong ke cafe.
Tampak Ajo Sidi melangkah diiringi rang rumahnya.
“Berapa semuanya?” tanya Wali Nagari Kito.
Rang rumah Ajo Sidi menyebut jumlahnya.
Wali Nagari Kito menyerahkan uangnya.
Usai menyalami gue dan Uwan, Wali Nagari Kito berdiri lalu melangkah menuju etalase cafe.
Ajo Sidi dan rang rumahnya membersihkan meja lesehan.
Kami memandangnya dengan diam.
Beberapa saat kemudian bersihlah.
Setelah bersih, gue dan Uwan pun badomino hingga masuk waktu untuk shalat Asyar.
Lawan kami pasangan Ajo Fuddin dan Ajo Karanggo. Kami menang 7-6.
hep ta hep ti
hep ta hep ti
hep ta hep ti
hep ta hep ti
hep ta hep ti
ta ta
ta ta
ta ta
ti ti
ti ti
ti ti
ta ti…. (bersambung)


Komentar