KABA TERDAKWANYA UANG HILANG (16)

Karya : Rafendi Sanjaya

Wali Nagari Putuskan Uang Hilang Terdakwa

Pabila ganjal lepas sudah

dada terasa plong malah

Pabila masih bermasalah

tuntaskan dengan musyawarah.

Tinta Rakyat – HABIS penyegaran angin kembali berembus mengulangi kegiatan yang kemarin-kemarin.

Maka besok malamnya selesai berdoa, gue melangkah bergegas keluar masjid menuju Balai Basuo Nagari Kito.

Sesuai SMS Uwan, Ajo Karanggo dan Ajo Fuddin ingin mamulang baleh atas kekalahan badomino yang delapan enam kemarin sore.

SMS Uwan itu masuk ke HP gue sepuluh menit sebelum gue shalat Isya.

Tak cukup lima belas menit berjalan, gue pun tiba di simpang tiga jalan menuju Balai Basuo Nagari Kito.

Di serambinya, tampak beberapa warga berkerumun di depan papan informasi.

Gue percepat langkah memasuki pekarangannya.

Beberapa saat kemudian gue sudah semakin dekat.

Gue perhatikan dengan seksama kerumunan warga itu.

Tampak di antaranya Uwan, Ajo Karanggo dan Ajo Fuddin.

Ketiganya berdiri paling belakang.

Gue pun tiba di serambi, lalu dengan diam-diam berdiri di belakang ketiganya.

Belum sempat gue melihat apa yang sedang dibaca warga di papan informasi itu, terdengar

seseorang dengan keras mengucap: “Assalammualaikum!”.

Gue dan sejumlah warga spontan berbalik kanan, lalu melihat ke arah datangnya ucapan itu.

Rupanya Wali Nagari Kito.

Beliau berdiri berkacak pinggang di jenjang kayu terakhir memasuki serambi.

“Walaikum salam!” jawab sebagian kami spontan.

Wali Nagari Kito memasuki serambi lalu menyalami gue, Uwan, Ajo Karanggo dan Ajo Fuddin.

Selesai menyalami kami, Wali Nagari Kito memberi salam dengan kedua telapak tangan di dada kepada beberapa warga Nagari Kito lainnya yang pembaca papan informasi itu.

Wali Nagari Kito melihat ke arah kami berempat.

Gue perhatikan wajah balau.

Wajah balau tampak cerah, tidak muram sebagaimana sore kemarin setelah bertemu dengan Manti Nagari Kito dan Jaksa.

Kami berempat seketika mengerubungi Wali Nagari Kito.

“Sudah baca pengumuman saya?” katanya bertanya.

“Sudah!” jawab kami berempat spontan agak serentak.

“Terima kasih. Ayo ikut saya…”

“Ke mana Wali?” tanya Uwan.

“Ke cafe!”

“Mau apa?”

“Kita duduk bersimpuh…”

“Lalu?”

“Sambil minum kopi dan makan martabak, kita maota- ota atau berdiskusi…”

“Tentang apa?”

“Situasi dan kondisi terkini Nagari Kito.”

“Termasuk waba dan bala akibat pemberian uang hilang?”

“Ya!”

“Kalau begitu, ayo masuk kawan-kawan!” tukas Uwan.

Wali Nagari Kito dengan kepala tegak melangkah memasuki cafe Balai Basuo Nagari Kito.

Kami berempat dan warga Nagari Kito pembaca papan informasi lainnya pun mengiringi balau dari belakang.

Setelah masuk, kami berempat dan sejumlah warga duduk bersila di belakang meja lesehan. Gue dan Uwan duduk di kiri dan di kanan Wali Nagari Kito.

Wali Nagari Kito duduk menghadap ke pintu masuk cafe Balai Basuo Nagari Kito.

Ajo Karanggo, Ajo Fuddin dan sejumlah warga pembaca papan informasi duduk bersila di belakang meja lesehan yang di samping kiri dan kanan kami.

Tak seorang pun yang bicara.

Beberapa jenak sunyi.

“Uwan,” kata Wali Nagari Kito memecah kebuntuan.

“Ya.”

“Sudah semuanya duduk?”

Uwan memperhatikan kami dan orang-orang yang telah duduk yang pembaca papan informasi tadi.

“Sudah semuanya Wali,” kata Uwan.

“Baik. Rang cafe!” seru Wali Nagari Kito.

Rang cafe, Ajo Sidi, melangkah tergopoh-gopoh menuju tempat duduk Wali Nagari Kito.

“Ada apa Palo?” tanyanya setelah dekat.

“Kami akan maota-ota tentang uang hilang. Tolong siapkan minuman dan makanan ringan.”

“Kalau begitu biasanya Kopi Gatek…”

“Apa itu Gatek?” tukas gue bertanya.

“Kopi galeh ketek atau gelas kecil.”

“O itu.”

“Ya.”

“Makanan ringannya apa ya” kata Wali Nagari Kito bertanya.

“Roti-rotian dengan kemasan plastik, atau…”

“Apa?”

“Martabak.”

“Ya. Martabak saja tetapi potong delapan. Letakkan dalam piring tadah kopi, masing-masing kami beri dua potong. Oke?”

“Oke Wali.”

Ajo Sidi segera melangkah kembali ke etalase cafe.

Gue spontan membungkukkan badan lalu melirik Uwan sambil menaikkan alis mata ke atas.

“Terima kasih. Wali Nagari Kito sudah yang asli lagi,” kata Uwan.

Wali Nagari Kito menarik napas beberapa jenak.

Kami memperhatikan dengan diam.

Kembali gue bungkukkan badan lalu melirik Uwan sambil menaikkan alis mata ke atas.

“Setelah jadi Wali Nagari Kito lagi, apakah Wali sehat- sehat saja?” kata Uwan bertanya.

“Alhamdulillah sehat tapi satereh bukan berkurang malah semakin tinggi.”

“Maaf, kami tak sengaja menguping. Satereh Wali apa ada hubungannya dengan kedatangan Manti Nagari Kito dan Jaksa kemarin?” tanya Uwan.

Wali Nagari Kito menganggukkan kepalanya.

Tak seorang pun yang bicara.

Beberapa jenak sunyi.

Uwan menyikut gue.

“Pak Wali, bagaimana kelanjutan perkara Ajo Manih itu?” stanya gue seketika.

“Perkaranya fiktif!”

“Maksud Wali, hanya rekayasa?” sela dan tanya Uwan.

“Ya!”

“Siapa yang merekayasa?”

“Manti Nagari Kito!”

“Apa maksud dan tujuannya?”

“Mencemarkan nama baik Mande Rubiah, pesaing

bisnisnya…”

“Bisnis apa?”

“Gadai-menggadai pusaka tinggi khususnya sawah untuk pengadaan biaya uang hilang!”

“Jadi, Ajo Manih dibebaskan dari dakwaan?”

“Ya!”

“Lalu apa rencana Wali?”

“Memutus perkara dengan terdakwanya uang hilang…”

“Maksud Pak Wali, terdakwanya uang hilang bukan Ajo Manih?”

“Ya!”

“Kok bisa gitu Pak Wali?” tukas sekaligus tanya gue.

Wali Nagari Kito diam.

Ia tarik napas beberapa jenak melalui hidungnya.

Kami menunggu dengan diam.

“Pemberian uang hilang telah menjadi waba dan bala di tengah masyarakat dan pemerintahan,” katanya setelah mengeluarkan napas yang ditariknya melalui hidungnya pula.

Tak seorang pun yang bicara.

Beberapa jenak sunyi.

Gue sikut Uwan dengan tangan kanan.

“Apa maksud Wali dengan waba dan balanya uang hilang di tengah masyarakat dan pemerintahan?” tukas sekaligus tanya Uwan.

“Tak perlu diterangjelaskan karena kita pada umumnya sudah tahu akibatnya…”

“Selanjutnya, bagaimana Wali?”

“Agar tidak terjadi kebingungan di tengah masyarakat, dengan mempertimbangkan berbagai masukan dari elemen masyarakat pemangku kepentingan, Wali Nagari Kito mendakwa uang hilang ini ke Mahkamah Adat dan Syarak atau MAS Nagari Kito. Apa keputusannya, tunggu setelah selesai sidangnya!”

“Benar Wali. MAS Nagari Kito adalah lembaga musyawarah-mupakat tertinggi di Nagari Kito,” tukas Ajo Karanggo seketika.

Tak seorang pun yang bicara.

Beberapa jenak sunyi.

Gue pandang Uwan.

Uwan pun memandang gue. (bersambung)

Komentar