Kaba Parewa Bakoa Akhirnya Digelar Juga
Ke manakah air mengalir, sudah pastilah ke muara.
Ke mana perkara berakhir, belum tentulah ke penjara.
Tinta Rakyat – SEPERTI air yang terus mengalir ke muaranya, besok malamnya sidang Ajo Manih dilanjutkan kembali. Pengurus Masjid Raya Nagari Kito menyampaikannya setelah shalat Isya, sekalian mengajak jemaah yang mendapat undangan untuk menghadirinya. Selesai berdoa, gue dan jemaah lainnya bergegas melangkah menuju Balai Basuo Nagari Kito.
Tak cukup lima belas menit kami tibalah di simpang jalannya.
Sayup-sayup terdengar bunyi Gandang dan Tasa dipukul bertalu-talu sesuai nada dan irama hoyak tabuik Piaman.
Bunyinya berhenti ketika kami tiba di depan pintu masuk ruang sidang.
Gue, Uwan dan jemaah lainnya segera masuk dan duduk di tempat sidang kemarin. Setelah duduk, tampak di depan kami, Angku Palo, Hakim dan Jaksa, sudah duduk bersila dengan masing-masing segelas kopi di atas meja lesehannya.
Perangkat sidang lainnya, Manti Nagari Kito, Ajo Sutan dan Ajo Gindo, tidak tampak batang hidungnya.
Angku Palo berdiri, lalu memberi salam berturut-turut kepada elemen masyarakat pemangku kepentingan yang hadir dengan kedua telapak tangan bersilang di dada.
Kami membalasnya dengan cara yang sama.
“Assalammualaikum” kata Angku Palo.
“Walaikumsalam!” jawab gue dan sebagian banyak undangan dan pengunjung yang hadir.
“Kuasa Jabatan Manti sebagai Wali Nagari Kito sudah saya cabut. Saya, Angku Palo sidang, mulai hari ini juga sebagai Wali Nagari Kito!”
Terdengar tepuk tangan spontan dari sebagian banyak pengunjung dan undangan sidang.
Wali Nagari Kito menurunkan telapak tangan kanannya tiga kali. Tepuk tangan spontan berhenti.
“Manti!” kata Angku Palo.
Manti Nagari Kito muncul tergopoh-gopoh dari pintu belakang sebelah kiri pentas.
“Ambo Palo…”
“Sampaikan Kaba Parewa Bakoa.”
“Tapi Palo…”
“Tidak ada tapi-tapian. Ini perintah saya sebagai Angku Palo sidang sekaligus Wali Nagari Kito!”
“Baik. Ajo Dampiang hadir?”
Tampak seseorang yang duduk di pojok kanan pentas mengangkat tangannya.
“Sampaikan pengantar kaba dengan salawat gumam.”
Terdengar sayup-sayup bunyi pukulan dulang.
Ajo Dampiang pun bersalawat gumam mengungkapkan tentang Ajo Manih yang diiringi To O berangkat ke munggu tingga untuk bakoa.
Gue dan pengunjung sidang lainnya beberapa jenak mendengarkannya kan dengan diam.
Beberapa jenak kemudian Ajo Dampiang selesai bersalawat gumam.
Bunyi pukulan dulang pun menghilang.
Gue perhatikan pentas sidang.
Tampak Ajo Manih – yang menyandang kambuik berisi uang di bahu sebelah kanan – berdiri lalu berjalan melingkar di bagian tengah pentas.
To O – yang mengepit tikar di ketiak tangan kanan dengan tangan kiri memegang senter – melangkah dengan letai di belakang Ajo Manih.
Setelah berada di tengah-tengah pentas, Ajo Manih berhenti sejenak.
To O pun demikian dengan sorot mata memandang heran kepada Ajo Manih.
Ajo Manih menempelkan telapak tangan kanannya di atas kelopak mata, lalu memandang ke depan.
“Masih jauh,” kata Ajo Manih, lalu kembali melangkah melingkar.
“Mau ke mana kita Jo Manih?” tanya To O sambil melangkah melingkar mengekor Ajo Manih.
“Ke munggu tingga.”
“Mau apa?”
“Bakoa!”
“Siapa calon lawan Jo Manih? Apa Uwan-Uwan dari kaki Gunung Marapi yang Jo Manih kalahkan bulan lalu?”
“Ya! Masing-masing kami telah sepakat membawa uang taruhan sebanyak dua puluh lima juta rupiah.”
“Kok banyak amat Jo Manih?”
Ajo Manih seketika berhenti.
To O pun seketika berhenti.
“Dananya baru 125 juta rupiah, belum cukup untuk uang hilang calon ampulai adik gadih Ambo,”kata Ajo Manih, lalu kembali melangkah melingkar.
To O dengan langkah letainya menghadang jalan Ajo Manih.
“Kalau Jo Manih kalah bakoa, bagaimana?” katanya bertanya.
“Kita lihat saja nanti!”
To O dengan lengkah letai menyamping ke kanan Ajo Manih.
Ajo Manih kembali melingkar dengan langkah bergegas-gegas.
To O pun sambil menghidupkan senter mengekori langkah Ajo Manih dari belakang.
Dari jauh tampak samar-samar bayangan tiga orang melangkah beriring-iringan di pematang sawah.
To O seketika berhenti.
“Jo,” katanya.
Ajo Manih berhenti melangkah.
“Ya. Apa?” jawab sekaligus tanya Ajo Manih, lalu melangkah dan berhenti di samping kanan To O.
“Ada orang sedang berjalan beriringan di depan sana,” kata To O lalu memberikan senternya kepada Ajo Manih.
Setelah tergenggam di tangan, Ajo Manih menyenter depannya.
Tampak dari jauh tiga orang berjalan beriringan di pematang sawah.
“Apakah itu mereka, Jo?” tanya To O.
“Ya,” jawab Ajo Manih, lalu menyerahkan senter ke To O.
Ajo Manih kembali melangkah melingkar.
To O dengan langkah letainya kembali mengekor Ajo Manih dari belakang. (bersambung)







Komentar