TUNDUIK PADUSI-NYA FINALKAN PROPOSAL
Tinta Rakyat – LAKSANA pohon-pohonan bergerak lincah tertiup angin, pertandanya asa mulai menggairahkan kehidupan.
Begitulah mental-spritual badan diri Gadih Minang dan kawan-kawan.
Makanya begitu Tuangku Sulaiman selesai berdoa, Gadih Minang, Julia Maya Panyalai dan Betty Maya Jambak berdiri, dengan tangan kanan mengkode permisi kepada jemaah di depannya, berjalan beberapa langkah, kemudian dengan segera menyibak kain pembatas jemaah lelaki dengan perempuan.
Sementara itu, Ajo Uddin – garin Surau Gadang PPM Kota Kembang – segera pula memasang layar InFokus menyamping di depan dinding sebelah kanan mihrab.
Usai menyibaknya, Gadih Minang dan kawan-kawan duduk satu shaf menghadap tunduik bujang yang duduk satu shaf di depan mihrab.
Gadih Minang mengeluarkan Laptop dari dalam tasnya, lalu menghidupkannya.
Setelah hidup, ia buka file rancangan proposal yang akan difinalkan itu, lalu menyikut Julia Maya Panyalai yang duduk di sebelah kanannya.
“Assalamualaikum,” kata Julia Maya Panyalai seketika.
“Waalaikum salam!” jawab sebagian banyak yang hadir.
“Malam ini kita memfinalkan rancangan proposal sebelum resmi pulang ka Bako. Sebelum kita minta pendapat para tunduik bujang, kita simak dahulu informasi dari Maya Bet.”
“Kami telah membuat portal Pulang Basamo Ka Ranah Minangkabau. Kakek anggota PPMM Dunia senagari asa dengan kakek kami. Ketuanya, Viktor Tanjung menanggapi melalui surel. Gadih, tampilkan surelnya di layar Infokus,” kata Maya Bet dari tempat duduknya.
Gadih Minang pun menayangkan pelan-pelan surel dimaksud di layar InFokus.
Keempat pengurus PPM yang duduk di depan mihrab memperhatikannya dengan diam.
Para tunduik bujang memutar badannya ke mihrab, lalu juga memperhatikannya dengan diam.
Setelah tiga kali tayang, Gadih Minang menayangkan kesimpulannya.
Pertama: Lima korong tertinggal adalah batas sepadan kelima nagari asa nenek tunduik padusi PPM Kota Kembang. Selama 25 tahun melalui pulang basamo lima tahunan dibangun anggota PPMM Dunia sehingga nyaris lengkap infra-struktur, fasilitas umum dan fasilitas sosialnya. Untuk sumber mata pencaharian warganya, telah dibangun pula pabrik-pabrik padat karya dan perkebunan. Tahun ini 40 anggota PPMM Dunia akan pulang basamo guna mengusulkan kelima korong tertinggal sebagai Nagari Minangkabau.
Kedua: Karena kakek anggota PPMM Dunia senagari asa dengan nenek tunduik PPM Kota Kembang, akan disinerjikan program bhakti sosial dengan dana dari Yayasan Pembangunan Nagari Minangkabau.
“Selesai,” kata Gadih Minang.
“Ada tanggapan?” kata Julia Maya Panyalai melempar.
Rina Maya Bodi alias Maya Rin, salah seorang tunduik padusi yang sudah tamat kuliah, mengangkat tangannya.
“Silahkan!” kata Julia Maya Panyalai.
“Karena sumber dana sinerji program bhakti sosial udah terang-benderang, rancangan proposal udah bisa kita finalkan!” katanya singkat dan tegas.
Mendengar ujaran Maya Rin itu, kawan-kawan Gadih Minang pada terpurangah.
Para tunduik bujang menekurkan kepalanya.
Tak seorang pun yang bicara.
Beberapa jenak sunyi.
Gadih Minang menyikut Julia Maya Panyalai.
“Setuju kawan-kawan?” kata Julia Maya Panyalai seketika.
”Setuju!” jawab kawan-kawannya serentak.
“Kita lanjutkan dengan meminta pendapat tunduik bujang. Gadih, serahkan map proposal kepada Ajo Manih Koto.”
Para tunduik bujang memutar badannya menghadap para tunduik padusi.
Gadih Minang segera menyerahkan map proposal itu kepada Ajo Manih Koto yang duduk dua shaf di depannya.
Setelah menerimanya, Ajo Manih Koto – tunduiknya Julia Maya Panyalai – membacanya selembar demi selembar.
Gadih Minang dan kawan-kawan menunggu dengan diam.
Tak seorang pun yang bicara.
Beberapa jenak sunyi.
Akhirnya Ajo Manih Koto selesai membacanya, lalu menarik napas beberapa jenak melalui hidungnya.
Beberapa jenak kembali sunyi.
Gadih Minang menyikut Julia Maya Panyalai.
“Bagaimana Jo?” kata Julia Maya Panyalai seketika.
“Karena…” kata Ajo Manih Koto tertahan.
Gadih Minang menyikut Julia Maya Panyalai.
“Karena apa Jo?” tukas sekaligus tanya Julia Maya Panyalai.
Ajo Manih Koto mengeluarkan pelan-pelan napas yang ditarik tadi melalui hidungnya.
Gadih Minang dan kawan-kawan menunggu dengan diam.
“Jo Manih, katakan saja apa adanya tanggapan kita. Biar mereka tahu rasa! ” kata Rizal
Tanjung yang duduk di samping kirinya.
“Baik. Karena Da Bujang belum hadir, kami belum bisa menyampaikan pendapat,” jawab
Ajo Manih Koto, lalu segera berdiri, dan dengan tangan kanan mengkode permisi, melangkah menuju luar surau diiringi para tunduik bujang lainnya dari belakang.
Gadih Minang dan kawan-kawan memandang kepergian tunduiknya dengan diam.
Tak seorang pun yang bicara.
Beberapa jenak sunyi.
Gadih Minang menyikut Julia Maya Panyalai.
“Baik. Karena kakek-kakek dan ayah kita yang para pengurus PPM Dunia, PPM Nusantara, PPM Java Barat, dan PPM Kota Kembang sebagai pihak yang mengetahui dan menyetujui belum menandatangani proposal, setelah musyawarah ini kita minta tanda tangan beliau. Terima kasih, dan mohon maaf. Assalammualaikum,” kata Julia Maya Panyalai.
“Waalaikum salam!” jawab Gadih Minang dan kawan-kawan.
Gadih Minang dengan segera mematikan kemudian memasukan Laptop ke dalam tas, lalu melirik Julia Maya Panyalai sambil menganggukkan kepala.
Maka diawali Julia Maya Panyalai, Gadih Minang dan kawan-kawan berdiri, lalu dengan hati mangka melangkah beriringan ke luar Surau Gadang PPM Kota Kembang menuju rumah nenek masing-masing. (bersambung)



Komentar