Disampaikannya Konspirasi Elemen Masyarakat
Tinta Rakyat – WAKTU mengalir tanpa kita tahu, apakah rencana akan jadi kenyataan atau tertunda?
Rupanya waktu gue, lagi lancar mengalir untuk menggapai maksud dan tujuan.
Maka besoknya usai berdoa setelah shalat Zuhur di rumah kos, terdengar SMS masuk di HP gue.
Setelah berdoa, segera gue lipat sajadah, lalu meletakkannya di atas kursi kecil di samping kanan tempat tidur.
Lalu gue ambillah HP yang tergeletak di atas meja kecil di samping kiri kursi kecil itu.
Segera gue hidupkan, lalu membuka pesan masuknya. Setelah terbuka, gue baca isinya.
Rupanya dari Wali Nagari Kito, meminta gue dan kawan- kawan datang ke Balai Basuo Nagari Kito.
Agendanya, mendengarkan penyampaian konspirasi kelompok masyarakat pemangku kepentingan, terkait dampak negatif dari pemberian uang hilang dalam tajuk nikah-kawin di Nagari Kito.
Gue ingin tahu, siapa kelompok masyarakat pemangku kepentingan Nagari Kito dimaksud?
Kubaca terus isi SMS itu.
Rupanya kaum gadis-gadis, kaum emak-emak dan kaum bapak-bapak Nagari Kito.
Usai membacanya, gue beritahu kawan-kawan yang sedang mengalai-alai di kamar tidur dengan kepala menekur menyembah hasil teknologi penumpang “Mbah Google”.
Setelah mendengarnya, keempat kawan gue itu bergegas berdiri, lalu masing-masing melangkah keluar dari kamar.
Akhirnya langkah kaki kami tiba di luar rumah.
Oggy Mustaqim Sikumbang dengan segera mengunci pintu rumah.
Setelah terkunci, aku kode dengan menarik telapak tangan kanan ke atas kemudian ke belakang.
Kami pun melangkah bergegas beriringan menuju Balai Basuo Nagari Kito.
Dalam perjalanan, terdengar sayup-sayup bunyi pukulan Gandang dan Tasa.
Kami percepat langkah hingga tibalah di simpang tiga jalan menuju Balai Basuo Nagari Kito.
Bunyi pukulan Gandang dan Tasa semakin jelas terdengar.
Rupanya bunyi pukulan itu berasal dari rombongan di depan kami. Tampaknya mereka mau ke Kantor Wali Nagari Kito.
Di teras kantornya, sudah berdiri berdampingan Ketua
Badan Musyawarah (Bamus) Nagari Kito, Ketua Lembaga Adat Nagari (LAN) Kito, Wali Nagari Kito, Ketua Lembaga Syarak Nagari (LSN) Kito, dan Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Nagari Kito.
Kami percepat lagi langkah menuju teras Kantor Wali Nagari Kito.
Wali Nagari Kito melihat kedatangan kami.
Beliau bertepuk tangan tiga kali, lalu memberi kode dengan menggerakkan tangan tangan ke arah dadanya.
Lagi-lagi kami percepat langkah menuju beliau-beliau berdiri.
Setelah dekat, gue dan kawan-kawan dari kiri ke kanan menyalami beliau satu-persatu.
“Silahkan berdiri di samping kiri dan kanan kami. Kita kedatangan tamu,” kata Wali Nagari Kito.
Gue dan Oggy Mustaqim Sikumbang berdiri di samping kiri beliau-beliau.
Hardi Sulastri Made Putra Chaniago, Arif Rahman Sikumbang dan Teguh Chaisar Sikumbang berdiri di samping kanan beliau-beliau.
Bunyi pukulan Gandang dan Tasa semakin jelas terdengar.
“Mereka sudah dekat. Mari kita sambut dengan lapang hati,” ujar Wali Nagari Kito.
Rombongan – dengan pemukul Gandang dan Tasa di depan – memasuki halaman Kantor Wali Nagari Kito.
Rupanya mereka tiga baris.
Yang berjalan paling depan memegang plank identitas kaum yang merupakan elemen masyarakat pemangku kepentingan Nagari Kito yang mereka wakili.
“Stop!” teriak seseorang dengan suara basnya dari belakang barisan.
Gandang dan Tasa berhenti berbunyi.
Yang berteriak stop tadi bergegas melangkah ke depan.
Rupanya Kapalo Mudo Yam.
Ia berdiri tegap setelah tiba di hadapan kami, lalu mengangkat telapak tangan kanannya ke samping kanan kepalanya.
“Lapor Wali!” katanya.
“Lanjutkan!” jawab Wali Nagari Kito.
“Dilanjutkan!” jawab Kapalo Mudo Yam.
Segera ia turunkan tangan kanan ke bawah, sehingga sejajar dengan tangan kirinya.
“Wali…” kata Kapalo Mudo Yam tertahan.
“Ya. Teruskan!”
“Kalau dahulu saya juru bicara Manti Nagari Kito, sekarang juru bicara elemen-elemen masyarakat pemangku kepentingan?”
“Kepentingan kaum apa?”
“Emak-emak, gadis-gadis, bapak-bapak!”
“Mau apa mereka?”
“Menyampaikan konspirasi!” “Motifnya apa?”
“Mahkamah Adat dan Syarak akan bersidang. Ya?”
“Ya!”
“Memutuskan perkara dengan terdakwa uang hilang. Ya?”
“Ya!”
“Mohon diperkenankan mereka menyampaikan hasil renungan pemikiran…”
“Untuk apa?”
“Untuk bahan pertimbangan sebelum manajemen Mahkamah Adat dan Syarak mengambil keputusan.”
“Silahkan!”
“Terima kasih, tetapi maaf Wali…”
“Apa?”
“Kami menyampaikan konspirasi dengan dua cara…” “Apa?”
“Pertama melalui gerak dan kearifan lokal Piaman…”
“Apa itu kearifan lokal Piaman?”
“Cimeeh.”
“Oh ya. Yang keduanya dengan apa?”
“Berbahasa…”
“Baik. Silahkan!”
Kapalo mudo Yam memutar badannya membelakangi kami. “Suguhkan gerak dan cemeeh!” katanya, lalu melangkah
menyamping ke kanan kami lima langkah.
Berdirilah lima penari pria bertopeng dan lima penari wanita bertopeng.
Mereka – sambil melambaikan tangan – beriringan berlari- lari kecil, kemudian berdiri berpasangan dengan posisi saling berpandangan di depan kami.
Gue perhatikan dengan seksama topeng mereka.
Para penari wanitanya bertopeng baruak sadang mancibia.
Para penari prianya bertopeng carano tersoleng ke kanan.
Di belakang carano itu, lambang bulan dan sabit di kubah surau nyaris patah sehingga miring ke kiri.
Kapalo Mudo Yam memandang penabuh Gandang dan Tasa, lalu memberi kode dengan mengangkat telapak tangan kanannya ke atas.
Terdengar bunyi Gandang dan Tasa dipukul bertalu-talu, sesuai nada dan irama hoyak tabuik Piaman.
Kelima pasang penari itu pun berjogetlah dengan bergantian, memiringkan kepala ke kanan dan ke kiri pasangannya.
Pendukung vokal meneriakkan hoyak-hoyak Hosen, hoyak Hosen kalio bantai, hoyak-hoyak Hosen habih pitiah badan marasai.
Penari prianya bersuara menggoda penari wanitanya.
Penari wanitanya menggerakkan kepalanya, sehingga terkesan mencibir penari prianya.
Setelah sampai pada puncak nada dan iramanya, Gandang dan Tasa berhenti berbunyi.
Kapalo Mudo Yam melirik tempat berdirinya penabuh Gandang dan Tasa, lalu memberi kode dengan menaikkan telapak tangan kanannya ke atas.
Terdengar bunyi tiupan puput batang padi.
Kelima pasang pejoget dengan langkah gemulai kembali ke tempat berdirinya tadi.
Setelah mereka berdiri di kiri dan di kanan pemukul Gandang dan Tasa, bunyi puput batang padi pun berhenti.
Tak seorang yang bicara. Beberapa jenak sunyi.
Wali Nagari Kito mengambil inisiasi.
“Silahkan sampaikan konspirasi dari kanan ke kiri kami,” kata Wali Nagari Kito dengan kerasnya.
Kapalo Mudo Yam terjaga dari terpananya.
“Baik. Dimulai dari kaum emak-emak!” katanya memerintah.
Melangkahlah dari barisan paling belakang seorang emak- emak bertopeng baruak mancibia.
Ia berhenti lalu berdiri di depan kami, kemudian pelan- pelan melepaskan topengnya sehingga tampaklah wajah aslinya.
“Astagfirullah!” ucap gua dalam hati.
Rupanya ia Mandeh Rubiah.
Gue hengong kelima pimpinan lembaga Pemerintahan Nagari Kito.
Kelimanya – yang berdiri di samping kiri gue – diam. Gue perhatikan Mandeh Rubiah.
Tampak ia dengan membungkuk meletakkan topeng itu di atas tanah di samping kaki kanannya.
Setelah berdiri kembali, ia keluarkan lipatan kertas dari dalam BH dibalik jilbabnya.
Ia luruskan lipatannya, kemudiaan menyampaikan pengantarnya dengan selantang-lantangnya.
“Maaf Pak Wali…” “Apa?”
“Saya menyampaikan hal ini karena dipanggil hati nurani…”
“O, begitu. Silahkan sampaikan.”
“Baik.”
Mandeh Rubiah menarik napas beberapa jenak melalui hidungnya.
Kami menunggu dengan diam.
“Merdekakan unggeh rang Nagari Kito dari kontrakkan uang hilang!” katanya langsung tanpa terpotong-potong kata dan nadanya.
Mendengarnya perasaan gue seketika plong.
Soalnya, gue sudah tahu dari Ajo Karanggo, apa itu unggeh?
Mandeh Rubiah memasukkan kertas itu kembali ke dalam jilbabnya.
Setelah masuk, ia melangkah ke barisan pemusik Gandang, Tasa, dan puput batang padi.
“Yang berikutnya,” kata Wali Nagari Kito setelah Mandeh Rubiah berdiri di tempatnya tadi.
Melangkahlah dari barisan paling belakang, seorang lelaki bertopengkan carano tersoleng dengan latar belakang bulan dan bintang di kubah surau miring ke kiri.
Ia berhenti lalu berdiri di depan kami, kemudian pelan- pelan melepaskan topengnya sehingga tampaklah wajah aslinya.
“Astagfirullah!” ucap gua dalam hati. Rupanya ia To O.
Gue hengong ketiga pimpinan lembaga Pemerintahan Nagari Kito.
Ketiganya – yang berdiri di samping kanan gue – pada diam.
Gue perhatikan To O.
Tampak ia dengan membungkuk meletakkan topeng itu di atas tanah di samping kaki kirinya.
To O berdiri kembali dengan meluruskan badannya.
Ia keluarkan lipatan kertas dari dalam saku kiri celana jinnya.
Ia luruskan lipatannya, kemudiaan membacanya.
“Maaf Pak Wali…”
“Apa?”
“Saya menyampaikan hal ini karena dipanggil hati nurani…”
“O, begitu. Silahkan sampaikan!”
“Baik.”
To O menarik napas beberapa jenak melalui hidungnya.
Kami menunggu dengan diam.
“Merdekakan Nak Gadih Nagari Kito dari adat istiadat nikah-kawin dengan pemberian uang hilang!” katanya langsung tanpa terpotong kata dan nadanya.
Setelah menyampaikannya, kertas itu ia masukkan kembali ke dalam saku sebelah kiri celana jinnya, lalu melangkah ke tempat berdirinya semula.
“Yang berikutnya,” kata Wali Nagari Kito.
Melangkahlah dari barisan paling belakang seorang emak- emak bertopengkan carano tersoleng dengan latar belakang bulan dan bintang di kubah surau nyaris patah sehingga miring ke kiri.
Ia berhenti lalu berdiri di depan kami, kemudian pelan- pelan melepaskan topengnya sehingga tampaklah wajah aslinya.
“Astagfirullah!” ucap gua dalam hati.
Rupanya Anduang Sori. Ia disebut-sebut sebagai cikal bakal bundo kanduang atau koordinatornya kaum emak-emak Nagari Kito.
Gue hengong kelima pimpinan lembaga Pemerintahan Nagari Kito itu.
Kelima beliau – yang berdiri di samping kiri gue – diam. Gue perhatikan Anduang Sori.
Tampak beliau dengan membungkuk meletakkan topeng itu di atas tanah di samping kaki kirinya.
Setelah topeng itu tergeletak, ia luruskan badannya kembali.
Kini ia telah berdiri lurus kembali.
Ia keluarkan lipatan kertas dari dalam baju kurungnya. Ia luruskan lipatannya.
Setelah lurus, ia pun membacakannya.
“Merdekakan anak cucu perempuan Nagari Kito dari praktek nikah-kawin dengan pemberian uang hilang!”
Setelah menyampaikannya, kertas itu ia masukkan kembali ke dalam baju kurungnya.
Usai memasukkannya, ia kembali ke tempat berdiri semula.
“Kapalo mudo, apa maksud kedua topeng itu?”
“Mencemeeh pemberi dan penerima uang hilang!”
“Baik. Konspirasi kalian ini jadi bahan pertimbangan
memutuskan perkara dengan terdakwa uang hilang. Tetapi…”
“Apa Wali?” tukas Kapalo Mudo Yam.
“Kami masih perlu pendalaman. Untuk itu kami nantinya akan berdialog dengan Bang Sut dan kawan-kawan, sebelum bersidangnya Mahkamah Konspirasi Nagari Kito. Silahkan bubarkan barisan!”
Kapalo Mudo Yam dengan suara basnya dari tempatnya berdiri memberi perintah untuk segera memasuki barisan.
Setelah berbaris, dengan diiringi pukulan Gandang dan Tasa serta tiupan puput batang padi, mereka pun melangkah meninggalkan halaman Kantor Wali Nagari Kito.
Kelima pimpinan lembaga pemerintahan Nagari Kito itu pun beriringan melangkah, memasuki ruang sidang Mahkamah Konspirasi Nagari Kito dimaksud.
Gue dan kawan-kawan mengiringnya dari belakang.
Kelima pimpinan lembaga Pemerintah Nagari Kito itu terus melangkah menuju pentasnya.
Di atas pentas itu sudah berjejer dari kiri ke kanan beberapa meja tetapi belum dibungkus dengan kain warna hijau.
Dengan demikian, meja-meja itu belum bisa disebut sebagai meja hijau atau meja di mana di kursinya duduk orang-orang yang akan menyidangkan suatu perkara.
Kami tidak jadi masuk.
Kami beriringan pulang ke rumah kos.
hep ta hep ti
hep ta hep ti
hep ta hep ti
ta ti… (bersambung)


Komentar