KABA KACAUNYA MINANGKABAU (23)

KARYA : RAFENDI SANJAYA 

Tinta Rakyat – “Baik. Masing-masing silahkan tunjuk sebelas orang perwakilan. Kita berdialog di dalam gedung dewan. Pengunjuk rasa yang tidak boleh masuk, harap sabar menunggu hasilnya,” kata Ketua DPRD Kabupaten Marapi, lalu memberi kode kepada Kapolres Kabupaten Marapi dengan kanan tangan menunjuk ke belakang.

Keduanya dengan segera berbalik kanan, lalu melangkah beriringan memasuki gedung dewan.

Ipda. Pol Teguh Chaisar Sikumbang Kasi Negoisasi melangkah, kemudian berdiri lima meter di depan kedua kelompok pengunjuk rasa.

“Bubar gerak!” katanya dengan Toa di tangan kanannya.

Kedua ketua pun membubarkan barisannya masing-masing.

Gadih Minang, Julia Maya Panyalai, Emilia Maya Patopang, dan Betty Maya Jambak melangkah menuju Viktor Tanjung berdiri.

Viktor Tanjung pun menyebutkan sebelas perwakilan mereka.

Selesai mengaturnya, kedua perwakilan pengunjuk rasa beriringan memasuki gedung DPRD Kabupaten Marapi.

Plt. Sekwankab. Marapi mengatur tempat duduknya.

Dengan tangan kiri, ia persilahkan perwakilan PPMM Dunia duduk di sebelah kiri.

Dan dengan tangan kanan, ia persilahkan pula perwakilan Persatuan Pemuda Minang Kabupaten Marapi duduk di sebelah kanan. Setelah duduk, Gadih Minang melirik ke depan. Tampak di atas pentas ruang sidang, Ketua DPRD sudah duduk berdampingan dengan Kapolres Kabupaten Marapi di sebelah kirinya.

Di sebelah kanan Ketua DPRD Kabupaten Marapi, duduk pula berdampingan kedua Wakil Ketua DPRD Kabupaten Marapi.

Di belakang jejeran meja di depan pentas, duduk pimpinan dan anggota Komisi I, II dan III.

“Assalammualaikum,” kata Ketua DPRD Kabupaten Marapi.

“Waalaikum salam!” jawab sebagian banyak yang hadir.

“Hari ini kita wakil rakyat kedatangan dua kubu tamu, yang memperjuangkan kepentingan yang berbeda. Walaupun berbeda, maksud dan tujuannya sama, yaitu memberi masukan dalam rangka sempurnanya Ranperda tentang Pembentukan dan Pemekaran Nagari Dalam Wilayah Daerah Kabupaten Marapi. Ya”

“Ya!” jawab pemuda berambut cepak dan kawan-kawan nyaris serentak.

“Baik. Untuk menghemat waktu, dialog diawali oleh Komisi I. Yang mewakili, silahkan,” kata Ketua DPRD Kabupaten Marapi.

Isman Chandra mengangkat tangannya.

“Silahkan. To de poin saja!”

“Apa alasan Persatuan Pemuda Minang Kabupaten Marapi menolak pembentukan Nagari Minangkabau?” ujar Isman Chandra bertanya.

“Minangkabau jadi Minangkacau! Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah mereka racuni dengan budaya Barat yang liberal!” jawab pemuda berambut cepak.

“Alasan Saudara tidak rasional! Cukup Ketua,” tukas Isman Chandra.

“Kita lanjutkan dengan Komisi II. Yang mewakili, silahkan.”

Benny Putra mengangkat tangannya.

“Silahkan. To de poin saja!”

“Tolong jelaskan, apa alasan PPMM Dunia memohon disetujui pembentukan ke-16 Nagari baru, bukan Nagari Minangkabau saja?” tanya Benny Putra.

“Pembentukan nagari baru adalah amanah UU Desa. Dengan disetujuinya pembentukan ke-16 nagari baru mempermudah masyarakat berurusan, pemerataan dan sekaligus akan berdampak kepada percepatan serta pengembangan wilayah dengan melaksanakan pembangunan,” kata Viktor Tanjung.

“Alasan PPMM Dunia konstitusional! Cukup Ketua.”

“Baik. Selanjutnya Komisi III. Yang mewakili, silahkan…”

Buyung Hidup mengangkat tangannya.

“Silahkan. To the poin saja!”

“Kami tidak perlu berdialog. Alasan kedua ketua pengunjuk rasa tadi sudah dapat kami pahami!” kata Buyung Hidup.

“Kalau begitu, apakah dialog ini sudah dapat kita akhiri?”

“Sudah!” jawab para anggota komisi lainnya serentak.

“Terima kasih. Dialog ini dapat jadi masukan fraksi menyusun pendapat akhir pada rapat paripurna lima hari lagi membahas Ranperda Tentang Pembentukan dan Pemekaran

Nagari Dalam Wilayah Daerah Kabupaten Marapi. Assalammualaikum!” kata Ketua DPRD Kabupaten Marapi, lalu mengetuk meja tiga kali dengan palu.

“Waalaikum salam!” jawab anggota dewan yang hadir dengan serentak.

Ketua pun melangkah meninggalkan ruangan, diiringi Kapolres dan kedua wakil ketua DPRD Kabupaten Marapi.

Gadih Minang dan kawan-kawan menyusulnya dari belakang.

Setelah menaiki kendaraan masing-masing dengan hati mangka Gadih Minang dan kawan-kawan, Viktor Tanjung dan kawan-kawan pulanglah menuju rumah neneknya masing-masing. (bersambung)

Komentar