Tinta Rakyat – “Pemberian sangsi adat dan agama berupa peraturan atau keputusan nagari?” tukas sekaligus tanya Man Pakang, kawan akrab dan lawan berat main domino Pandeka seketika.
“Gadih, tolong dijawab,” kata Julia Maya Panyalai, lalu menggeser mikrofon ke arah Gadih Minang.
Gadih Minang meletakan mikrofon itu ke mukanya.
“Berupa Peraturan nagari ditandatangani bersama-sama oleh keempat pimpinan lembaga pemerintah yang ada dalam nagari!” jawab Gadih Minang.
“Sudah disusun konsepnya?”
“Sudah!”
“Tolong tayangkan supaya kami dapat mengunyah-ngunyahnya!”
Gadih Minang menayangkannya pelan-pelan di layar InFokus.
Man Pakang dan undangan memperhatikan dengan diam.
“Konsep ini diuji publik selama tiga minggu, dipajang atau ditempelkan di tempat umum.
Tujuannya, untuk memantau reaksi masyarakat, setuju atau tidak!” kata Gadih Minang.
“O begitu. Bagaimana dengan urang sumando sebagai penghardik umbuk mudo korong usia sekolah yang sumbang busana, sumbang kata, dan sumbang pergaulannya? Apa sudah ada hitam di atas putihnya?”
“Juga masih berupa konsep…”
“Apa bentuknya?”
“Berupa keputusan bersama pimpinan keempat lembaga pemerintah nagari!”
“Tolong tayangkan konsepnya di layar InFokus supaya kami dapat mengunyah-ngunyahnya.”
“Baik. Gadih, tayangkan konsepnya di layar InFokus!” ujar Julia Maya Panyalai dengan tegasnya.
Dengan pelan-pelan Gadih Minang menayangkan konsep keputusan dimaksud di layar Infokus.
Tak seorang pun yang bicara.
Beberapa jenak sunyi.
Setelah tiga kali tayang, masih tak seorang pun yang berbicara.
Gadih Minang menyikut Julia Maya Panyalai
“Ada tanggapan?” kata Julia Maya Panyalai melempar.
Seseorang yang duduk di belakang Parewa mengangkat tangannya.
Panjul Jambak segera menyerahkan Toa kepadanya.
“Nama saya Isman Chandra. Dipanggil kawan-kawan sama besar Is Tukak karena kedua betis kaki saya bernanah karena terluka…”
“Maaf, langsung saja kepada apa maksud Uda,” tukas Julia Maya Panyalai.
“Oke. Apa maksud dan tujuannya menjadikan urang sumando sebagai penghardiknya? Bukankah urang sumando adalah ayah dari umbuik mudo usia sekolah yang akan dihardik itu?”
“Agar para ayah se-anak sebagaimana mamak sekemenakan!” jawab Julia Maya Panyalai.
“Bagus! Lanjutkan!” tukas Parewa.
“Untuk uji publik, konsep keputusan bersama kelima pemerintah nagari ini selama tiga minggu dipajang atau ditempelkan di tempat umum. Setuju?”
“Setuju!” jawab peserta serentak.
“Kita lanjutkan dengan membahas teknis pelaksanaannya. Seksi ini dipandu Pak Wali Nagari Marapi,” kata Julia Maya Panyalai, lalu menggeser mikrofon ke Wali Nagari Marapi.
Wali Nagari Marapi menggesernya pula ke depan mukanya.
“Sebelum dibahas teknis pelaksanaannya, saya yakin hadirin dan undangan masih ada yang belum memahami sinerji program bhakti sosial ini. Silahkan sampaikan pertanyaan, saran, atau tanggapan,” kata Wali Nagari Marapi.
Buzar Dt. Simarajo, Ketua LMAN Singgalang – yang duduk di barisan meja sebelah kiri pentas aula – segera berdiri.
Panjul Jambak yang berdiri di depan dinding sebelah kanan aula dengan segera berjalan beberapa langkah ke arah tempat duduk Isman Chandra, lalu mengambil Toa, dan menyerahkannya kepadanya.
“Kenapa yang jadi sasaran sangsi adat dan agama umbuik mudo korong yang tidak menegakan syarak mangato adat mamakai?” katanya lalu duduk kembali.
Panjul Jambak segera melangkah, lalu mengambil Toa itu kembali.
Wali Nagari Marapi melirik Julia Maya Panyalai.
“Gadih, tayangkan dasar pemikian atau landasannya?” kata Julia Maya Panyalai.
Gadih Minang menayangkan landasan dimaksud di layar InFokus.
Bangsa dan negara kita berada dalam era modernisasi dan globalisasi. Penandanya, banyaknya pengguna teknologi automotif dan informatika produk negara asing.
Modernisasi dan globalisasi berdampak negatif, sehingga generasi muda bangsa kita yang hidup di kota metropolis telah krisis jati diri.
Gaya hidup dan perilaku mereka pada umumnya, bukan mengacu kepada nilai -nilai adat Timur kita yang santun dan agama berketuhanan yang tauhid. Mereka cenderung sekuler, pragmatis, individualis, konsumtif, materialis dan hedonis.
Nagari dan atau nama lain dari Desa adalah pemerintahan terendah dalam negara kita.
Generasi mudanya adalah benteng sekaligus atol ketahanan bangsa.
Agar virus negatif liberalisasi tidak mewabah ke Nagari dan atau Desa, perlu digerakkan penanaman kembali nilai-nilai adat Timur yang santun dan agama berketuhanan yang tauhid kepada generasi mudanya.
Untuk ranah Minangkabau namanya adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, dan syarak mangato adat mamakai.
“Selesai,” kata Gadih Minang. (bersambung)







Komentar