KABA KACAUNYA MINANGKABAU (10)

KARYA : RAFENDI SANJAYA 

Tinta Rakyat – Para kakek tunduik padusi yang urang Maya-Minangkabau spontan bertepuk tangan.

Sejenak surau gadang riuh rendah oleh suara tepuk tangan.

Kakek Ajo Manih Koto memberi kode, dengan menurunkan telapak tangan kanannya ke bawah tiga kali.

Tepuk tangan berhenti.

“Tuak Ketua PPM Kota Kembang, masih ada yang akan ditanyakan?” kata Tuangku Sulaiman.

“Untuk sementara cukup, Ungku,” kata ayah Julia Maya Panyalai yang bergelar penghulu Datuak Rajo Dilangik itu.

“Baik. Pengurus PPM lainnya…” kata Tuangku Sulaiman.

Kakek Gadih Minang, ketua PPM Provinsi Java Barat mengangkat tangannya.

“Silahkan.”

Para tunduik padusi memandang sambil mengulum senyumnya.

Para tunduik bujang memandang sambil mahengongkan kepalanya ke kiri.

“Apa yang mendorong kalian berbuat kebajikan dan kebaikan pula untuk umbuik mudo nagari asa nenek?” tanya kakeknya.

“Supaya hidup dan kehidupan mereka sesuai adat Timur yang santun dan agama berketuhanan yang tauhid,” jawab Gadih Minang.

“Untuk sementara cukup, Ungku,” kata kakek Gadih Minang yang gelar penghulunya Datuak Maharaja ini sambil mengulum senyumnya.

“Acara diserahkan kembali kepada Mak Datuak Sekjen PPM Dunia,” kata Tuangku Sulaiman.

Kakek Ajo Manih Koto mengkode pengurus PPM lainnya dengan menggerakan telapak tangan ke dadanya.

Mereka pun berdiri, lalu berjalan beberapa langkah kemudian duduk di hadapan kakek Ajo Manih Koto dan kakek Gadih Minang.

Beberapa jenak keempat beliau tampak berbisik-bisik.

Para tunduik padusi memandangnya dengan dada dag-dig-dug.

Para tunduk bujang memandangnya dengan diam.

Beberapa jenak kemudian, beliau selesai berbisik-bisik.

Kakek Emilia Maya Patopang dan ayah Julia Maya Panyalai kembali ke tempat duduknya.

Kakek Ajo Manih Koto berdiri, lalu bergantian melirik para kakek-nenek dan ayah-ibu tunduk PPM Kota Kembang itu.

Yang dipandang menunggu dengan diam tetapi masing-masing mengulum senyumnya.

“Kami setuju sebelum resmi pulang ka Bako, para tunduik pulang basamo dahulu ka nagari asa nenek dan kakek di ranah Minangkabau…”

Gadih Minang dan kawan-kawan spontan bertepuk tangan.

Ajo Manih Koto dan kawan-kawan menekur menatap lantai surau gadang.

“Jangan bergembira dahulu…”

“Kok gitu Kek?” tukas sekaligus tanya Julia Maya Panyalai.

“ Kami belum selesai menyampaikan hasil rundingan!”

Julia Maya Panyalai memberi kode dengan menurunkan telapak tangan kanannya ke bawah.

Kawan-kawannya spontan menghentikan tepuk tangannya.

Kakek Ajo Manih Koto menarik napas melalui hidungnya, lalu berkata: “Kami setuju dengan catatan, kakek-nenek dan ayah-ibu kalian ikut, tunduik kalian berangkat menyusul…”

“Kok menyusul Kek?” tukas sekaligus tanya Gadih Minang.

“Karena kami ikut kalian pulang basamo ka ranah Minangkabau, tunduk kalian mengurus usaha yang kami tinggalkan!”

Kakek Ajo Manih Koto yang bergelar Datuak Rajo Alam ini pun duduk kembali.

Setelah duduk, beliau lirik Tuangku Sulaiman, lalu memberi kode dengan menurunkan telapak tangan kanannya ke bawah.

“Terima kasih atas perhatian semuanya. Kita akhiri dialog ini dengan mengucapkan Alhamdulillah. Assalammualaikum!” kata Tuangku Sulaiman.

“Alhamdulillah! Waalaikum salam” jawab yang hadir.

Setelah menyalami Tuangku Sulaiman, keempat pengurus PPM keluar surau disusul para kakek-nenek dan ayah-ibu lainnya.

Para tunduik bujang-nya meninggalkan surau sambil bersiul.

Para tunduik padusi-nya meninggalkan surau dengan hati galau. (bersambung)

Komentar