Di isukan Jual Sapi Bantuan, Iis Wahyudi Tepis Dengan Berikan Penjelasan Secara Gamblang.

Human Interest1073 Dilihat

Lampung Selatan – tintarakyat.com

Kelompok Tani Di Desa Bakti Rasa Kecamatan Sragi Kabupaten Lampung Selatan penerima Program Bantuan UPPO ( Unit Pengolahan Pupuk Organik ), dari Kementerian Pertanian pada ahir 2021 yang lalu, baru baru ini mengalami guncangan hebat dengan terpaan isu miring yang berkembang di masyarakat setempat.

Dari sumber sumber Masyarakat setempat yang di terima tim jurnalis, menyebutkan bahwa Kelompok Tani tersebut menerima bantuan 8 ekor sapi telah di jual sebanyak 3 ekor. Sementara Sapi dalam kandang berjumlah ada 9 ekor. 5 ekornya adalah milik warga setempat yang dipelihara, sehingga jumlahnya tetap utuh.

Di sebutkan juga bahwa bendahara kelompok tersebut pun diisukan menerima satu ekor sapi dan dipelihara oleh warga setempat, dengan sistem bagi hasil anaknya.

Menanggapi isu yang berkembang tersebut, Iis Wahyudi selaku Ketua Kelompok Tani dari Desa Bakti Rasa, Kecamatan Sragi, Kabupaten Lampung Selatan sebagai  penerima bantuan hibah Program UPPO dari Kementerian Pertanian angkat bicara dan menepis isu yang berkembang liar sekaligus memberikan pemaparan secara gamblang.

Iis Wahyudi kepada para awak media menerangkan, bahwa Kelompoknya dari Dusun Sindangsari Desa Bakti Rasa pada tahun 2021 akhir menerima Bantuan Program UPPO dari Kementerian Pertanian melalui jalur aspirasi perwakilan Rakyat  Lampung Selatan.

Bantuan tersebut senilai Rp.200.000.000  berupa :

1. Rumah Kompos dan Bak Fermentasi
2. Kandang Komunal
3. Ternak Sapi
4. UPPO (Unit Pengolahan Pupuk Organik)
5. Kendaraan Roda 3 (Bentor)

Mendengar ia di isukan menjual sapi bantuan tersebut, ia tertawa kecil.
Karna menurutnya apa yang di isukan tersebut tidak lah benar dan tidak berdasar sama sekali.

Bahkan Iis Wahyudi membantah dengan keras jika dirinya di isukan menggelapkan, sebab menurutnya, jika menggelapkan tentu barang nya semua tidak ada di kandang.

“Perlu saya jelaskan, jika dikatakan ada yang di jual, ya itu benar, saya Jual 2 ekor. Kenapa sapi itu di jual? Karna sapi itu majer ( mandul ) sudah dua tahun di urus bahkan sampai memanggil Mantri Hewan untuk di suntik, sekali suntik  biayanya Rp. 250.000.(Dua Ratus Lima Puluh Ribu) tetap saja tidak hamil. Karna itulah maka kita jual, lalu  kita belikan sapi yang produktif. Jadi jumlah total sapi tetap ada 8 ekor dan satu sudah beranak. Maka jumlahnya 9 ekor selama 2 tahun memelihara”, Jelas  Iis Wahyudi dengan gamblang di Kediamannya. (20/6/2023).

Dikatakannya, bahwa ia tidak berani menjual sembarangan tanpa alasan dan sebab serta telah di koordinasikan sebelum nya dengan salah satu Dewan Dapil Seragi, hingga Kelompok Iis Wahyudi mendapat bantuan tersebut.

“Jadi semua isu yang berkembang itu tidaklah benar, ini hanya terjadi miskomunikasi dengan anggota Kelompok. Anggota Kelompok saya ada 20 orang. Namun anggota rata-rata sudah sepuh. Mungkin mereka hanya menduga duga. Bisa di buktikan di lapangan, dari bantuan UPPO itu kita belikan 7 ekor Sapi betina dan 1 ekor Jalu (Jantan)”. Terang Iis Wahyudi.

Ketua Kelompok Iis Wahyudi memaparkan tujuan Kelompoknya memelihara sapi adalah untuk menambah populasinya. Namun selama dua tahun di pelihara dengan baik bahkan di suntik dengan Mantri suntik tak kunjung hamil.

Vonis dari Mantri hewan menyebutkan bahwa Sapi nya majer (mandul) karena lemak yang berlebihan. Itu terbukti ketika di sembelih oleh orang yang membelinya.

“Ya, itulah alasannya kita jual. Karena untuk apa kita memelihara sapi mandul. Sementara untuk cari rumput kita tidak mampu tenaganya karna banyak anggota sudah sepuh. Jadi mau tidak mau terpaksa kita beli rumput per satu karung Rp.30 ribu kali 8 ekor = Rp. 240.000 (Dua Ratus Empat Puluh Ribu Rupiah) Per hari
sementara pengorbanan tenaga tidak kita hitung. Demi menjalankan amanah ya kita jaga dan rawat. Karna tujuan Pemerintah untuk ketahanan pangan dan mengembalikan struktur tanah yang sudah rusak dengan pupuk kompos organik”. Paparnya lebih detail

Menjawab isu bendahara ( Mang Acim ) yang  memelihara sapinya, Iis mengatakan, “Ya itu betul, karena Mang Acim dulu pekerja dikandang. Setelah menikah, dirinya berhenti dan memohon untuk memelihara supaya ada aktivitas. Maka ia memohon kepada bendahara. Itu tetap sapi kelompok dengan perjanjian satu kali anakan dikembalikan ke kelompok untuk dipelihara secara bergilir kepada anggota”. Jelasnya

Ia melanjutkan, ” Sementara, titipan dari Ibu Fat itu murni bisnis penggemukan. Ibu Fat mempunyai modal dan kita belikan sapi jantan 2 ekor untuk digemukkan. Dan ketika sudah besar, nanti kita jual. Itu diluar sapi kelompok. Maka kalau kita hitung ada jantan 3 dalam kandang. 1 milik kelompok 2 jantan punya relasi bisnis. Dan 6 ekor sapi betina milik kelompok. Maka jumlahnya ada 9 ekor”. Terang Iis Wahyudi.

Menyikapi isu liar di Masyarakat, Ketua Kelompok Iis Wahyudi berjanji dalam waktu dekat akan mengumpulkan anggota dalam rapat intern Kelompok, guna menerangkan dan menjelaskan kepada semua anggota, hingga tidak ada lagi miskomunikasi dan muncul prasangka negatif kepada dirinya.(adi)

Komentar