Tinta Rakyat – Uwan seketika berdiri lalu bersiutan lima kali. Sebagian banyak undangan dan pengunjung sidang serentak berdiri.
“Diam saja berarti mengiyakan dakwaan Jaksa, Paloooooooo?” kata Bujang Panyalai bertanya.
“Tidak benar Palo!” sela Uwan dengan kerasnya.
Terdengar suitan lima kali.
Sebagian banyak undangan dan pengunjung sidang itu serentak duduk kembali.
“Saudara Ajo Manih diam saja, maknanya bukan mengiyakan dakwaan Jaksa. Sidang ini bukan sidang mencakau calon ampulai!” tukas Hakim.
“Hakim benar Palo!” sela Uwan lagi dengan kerasnya.
“Ya. Benar. Sidang kita menyangkut hukum perbanditan!” kata Angku Palo dengan kerasnya.
Terdengar tepukan berulang-ulang dari pengunjung.
Angku Palo menggerakkan telapak tangan kanannya ke bawah tiga kali.
Tepukan segera berhenti.
“Saudara Hakim, lanjutkan kembali sidang!”
“Baik Palo.”
Hakim berjalan ke arah Ajo Manih yang masih diam dan memandang lurus ke depan.
Setelah dekat, Hakim menggoyang tubuh Ajo Manih.
Ajo Manih tetap diam.
“Ajo Manih diam saja mungkin sedang sakit Palo,” tukas Uwan spontan.
“Ajo Manih sakit? Tidak mungkin! Sebelum sidang dimulai, kesehatan Ajo Manih sudah diperiksa. Mantari dan dukun Nagari Kito menyatakan terdakwa sehat.”
“Sakit atau tidaknya terdakwa, Palo saja yang periksa!” sela Jaksa dengan kerasnya.
“Itu ahlinya mantari dan dukun Nagari Kito!”
“Palo, maaf menyela…”
“Siapa?”
“Saya. Hakim…”
“Apa?”
“Maksud Jaksa, Palo bisa memeriksa kesehatan terdakwa secara luar!”
“O, begitu. Baik.”
Angku Palo berdiri, lalu berjalan beberapa langkah mendekati Ajo Manih. Setelah dekat, ia tempelkan telapak tangan tangan kanannya ke kening Ajo Manih.
Ajo Manih tetap diam dengan kepala terus memandang lurus ke depan.
Selesai memeriksanya, Angku Palo kembali ke tempat duduknya.
“Bagaimana Palo?” tanya Jaksa setelah Angku Palo duduk kembali.
“Panas!”
”Kalau panas, harus diperiksa Palo!” sela Uwan.
“Ya. Ajo Manih harus diperiksa Palo!” tukas Hakim.
“Manti..!”
“Ambo Palo!” kata Manti Nagari Kito lalu berdiri.
”Bawa ke sini Tim Kesehatan Nagari Kito!”
”Siap Palo!”
Manti Nagari Kito melangkah ke belakang ruang sidang.
Angku Palo mengulum senyum, lalu memutar kepalanya sehingga menghadap ke penonton.
Ajo Manih jatuh dan menggelepar di lantai.
”Palo! Palo!” sela Uwan.
”Ya. Apa?”
“Sawan Ajo Manih kumat lagi!”
Angku Palo mahengong ke tengah pentas. Tampak Ajo Manih sedang menggelepar di lantai ruang pentas.
Manti Nagari Kito muncul dari ruang belakang pentas dengan langkah tergopoh-gopoh.
Sebagian banyak pengunjung dan undangan sidang memandang Manti Nagari Kito sambil mengulum senyumnya.
“Palo! Palo! Tim Kesehatan Nagari Kito tidak ada di belakang,” kata Manti Nagari Kito.
“Astagfirullah! Terdakwa sakit, mereka tidak ada! Bagaimana kerjamu ini Manti?”
“Palo!” sela Uwan dengan kerasnya.
“Ya!”
“Tim itu sudah pulang sebelum sidang dimulai. Uwan ketemu mereka di jalan. Uwan tanyakan, mengapa mereka pulang? Mereka jawab belum terima honor.”
“Interupsi Palo…”
“Siapa?”
“Saya, Manti Nagari Kito.”
“O, Manti Nagari Kito. Apa?”
”Saya selaku pemegang Kuasa Jabatan Wali Nagari Kito memerintahkan Palo meluruskan jalan sidang ini. Yang berhak berbicara di dalam sidang ini, Angku Palo, Jaksa, Hakim, dan Terdakwa, bukan pengunjung!”
“Baik. Sidang ditunda. Kapan lanjutannya, tunggu beritanya. Tan dan Gin, papah Ajo Manih ke ruang tanahan,” kata Angku Palo.
Gue dan Uwan pun melangkah ke cafe, lalu sampai dinihari badomino melawan pasangan Ajo Fuddin dan Ajo Karanggo. Kami menang dengan skor akhir 7-5. (bersambung)



Komentar