Tinta Rakyat – BESOK malamnya usai berdoa setelah shalat Isya, gue segera melangkah meninggalkan Masjid Raya Nagari Kito.
Uwan yang keluar duluan sudah menempuh pekarangan masjid.
“Uwan!” kata gue memanggilnya dengan kerasnya.
“Cepatlah! Ajo Gindo dan Ajo Sutan sudah menunggu…”
“Mau apa mereka?”
“Mamulang baleh kekalahan badomino delapan kosong lusa malam!”
“Oke!”
Uwan mempergegas langkahnya, sehingga gue kececeran.
Gue pergegas pula langkah, sehingga kami akhirnya berjalan beriringan.
“Mereka pasti sudah resah menunggu kita,” kata Uwan.
Kami dahului jemaah lainnya yang juga bermaksud ke cafe Balai Basuo Nagari Kito.
Di persimpangan tiga langkah kami berkelok ke kiri, lalu menempuh jalan menuju Balai Basuo Nagari Kito.
Sambil terus melangkah gue perhatikan serambi Balai Basuo Nagari Kito.
Tampak Ajo Sutan dan Ajo Gindo sedang berjalan hilir- mudik.
Orang-orang tampak pula berdiri di depan pintu masuk cafe Balai Basuo Nagari Kito.
Kami gas langkah.
Terdengar suara orang dengan keras.
“Gindo!”
“Ya, Tan!”
“Hebat Dubalang Nagari Kito!”
“Apa hebatnya?”
“Tak cukup sehari, Ajo Manih telah tertawan!”
“Oh iya. Bahkan ketika ditangkap, Ajo Manih tak melawan!”
Gue, Uwan dan jemaah lainnya tiba di depan serambi Balai Basuo Nagari Kito.
“O, o, o,” kata orang-orang yang berdiri di pintu masuk cafe Balai Basuo Nagari Kito.
Ajo Gindo menyikut Ajo Sutan dengan tangan kirinya.
Ajo Sutan memutar badannya ke pintu masuk cafe Balai Basuo Nagari Kito, lalu bertanya: ”Angku-Angku kok o, o, o?”
Orang-orang di pintu masuk cafe Balai Basuo Nagari Kito diam sambil berkacak pinggang.
Ajo Sutan berbalik, lalu melangkah dan berdiri di samping Ajo Gindo.
“Tan, ulang tanyakan, kenapa mereka kok o, o, o?” bisik Ajo Gindo.
“Baik,” kata Ajo Sutan lalu melangkah kemudian berdiri di depan pintu masuk cafe Balai Basuo Nagari Kito.
“Kenapa Angku-Angku kok o, o, o?” tanya Ajo Sutan.
Salah seorang dari mereka – Bujang Panyalai, Ketua Pemuda Korong Kelok Nagari Kito – melangkah kemudian berdiri di samping kiri Ajo Sutan.
“Apa benar Ajo Manih perampok sekaligus pembunuhnya?” katanya lalu berkacak pinggang.
“Sidang di meja hijau nanti yang akan menjawabnya!” kata Ajo Sutan dengan kerasnya.
Ia pun melangkah, lalu berdiri di tempat Ajo Gindo berdiri tadi.
Ajo Gindo mahengong ke kiri.
“Apa tim pemeriksanya sudah dibentuk?” tanya Bujang Panyalai dengan kerasnya.
“Sesegeranya dibentuk!” jawab Ajo Gindo dengan sekerasnya pula.
Gue sikut Uwan yang berdiri di kanan gue.
Uwan berjalan beberapa langkah kemudian menarik Ajo Gindo ke ujung sebelah kiri serambi Balai Basuo Nagari Kito.
Gue dan orang-orang yang ada di pekarangan dengan diam memandang langkah mereka berdua.
Uwan dan Ajo Gindo sampai di ujung sebelah kiri serambi Balai Basuo Nagari Kito.
Keduanya berhenti melangkah.
“Gindo jangan berlagak tidak tahu…” kata Uwan.
“Tidak tahu apa?” tukas sekaligus tanya Ajo Gindo.
“Dengan aturan yang berlaku di Nagari Kito ini.”
“Peraturan tentang apa?” jawab sekaligus tanya Ajo Gindo.
“Mana mungkin tim itu bisa dibentuk! Wali Nagari Kito tidak di tempat, lagi kunjungan kerja atau kunker di luar Nagari Kito!” kata Uwan dengan kerasnya.
Ajo Gindo seketika menarik tangan Uwan ke pojok sebelah kanan serambi.
“Uwan yang tidak tahu dengan aturan yang berlaku di Nagari Kito!” kata Ajo Gindo dengan kerasnya.
Uwan menarik Ajo Gindo ke pojok kanan serambi.
“Apa maksud Gindo?” tanya Uwan lambat nyaris tak terdengar.
“Walau cuti, jabatan Wali Nagari Kito tetap di tempat. Sekarang kuasa jabatannya diemban Manti Nagari Kito!”
“Kalau begitu…”
“Apa?”
“Tolong Gindo sampaikan kepada Manti Nagari. Sebelum tim pemeriksa dibentuk, selesaikan dahulu secara kekeluargaan.”
“Apa? Diselesaikan dahulu secara kekeluargaan?”
“Ya!”
“O dimediasikan dahulu. Apa logika Uwan”
“Kalau Ajo Manih disidangkan artinya kita berpedoman kepada aturan hukum pidana. Alangkah baiknya…”
“Diselesaikan dahulu menurut hukum adat Nagari Kito. Begitu maunya Uwan?”
“Ya!”
“Uwan sampaikan saja langsung kepada Manti Nagari Kito!”
“Jadi, kami tidak boleh minta tolong kepada Gindo dan Sutan?”
“Tidak!”
“Gindo dan Sutan tak ingin sambil badomino saya traktir minum Teh Telor di cafe ini?”
“Gindo, ayo pergi, bisa satereh kita lama-lama di sini!”
Ajo Sutan menarik tangan Ajo Gindo ke belakang, lalu bergegas melangkah meninggalkan serambi Nagari Kito. (bersambung)







Komentar