Tinta Rakyat – Ajo Sutan berdiri lalu berjalan beberapa langkah menuju serambi.
Kami masing-masing mahengong langkahnya.
Sesampai Ajo Sutan di serambi, tampak To O berdiri, lalu menyandarkan dirinya di tiang dengan kepala menghadap pintu masuk ke cafe.
Ajo Sutan berhenti melangkah, lalu berdiri di samping kiri To O.
“To O, benar ada perampokan sekaligus pembunuhan?” tanyanya.
“Ya!”
“Siapa yang dirampok sekaligus dibunuh?”
“Mandeh Rubiah dan tiga Parewa Koa…”
“Di mana mayatnya?”
“Di rumpun pisang lima puluh meter di belakang Masjid Raya Nagari Kito!”
“Siapa pembunuh sekaligus perampoknya?”
“Ajo Manih!”
“Sumpah pakai Kitabullah?”
“Sumpah pakai Kitabullah!”
Ajo Sutan melangkah tergesa-gesa memasuki cafe, kemudian berdiri di depan kami bertiga.
“Bagaimana Tan?” tanya Ajo Gindo.
“Kata si To O, Mandeh Rubiah dan tiga Parewa Koa, dirampok dan dibunuh Ajo Manih!“
“Tan! Gin!” kata seseorang tiba-tiba.
Kami serentak mahengong ke pintu masuk serambi.
Rupanya Manti Nagari Kito.
Ia berjalan bergegas kemudian berdiri di depan kami.
“Kalian sedang bergunjing atau berdiskusi?” tanyanya.
“Mempergunjingkan informasi To O kepada Sutan…”
“Apa informasinya?”
“Ajo Manih merampok sekaligus membunuh Mandeh Rubiah dan tiga Parewa Koa.”
“Mana To O?”
Tangan kanan Ajo Gindo menunjuk serambi.
Manti Nagari Kito bergegas melangkah menuju serambi.
Kami menyusulnya dari belakang.
Sesampai kami di sana, tampak To O memicingkan mata dengan air liur melelehi bibirnya.
“To O, benar Mandeh Rubiah dan tiga Parewa Koa dirampok sekaligus dibunuh Ajo Manih?” tanya Manti Nagari Kito begitu tiba di depan To O.
To O menganggukkan kepalanya, lalu terjerembat.
Terdengar bunyi berdebam ketika kepalanya menyentuh lantai serambi Balai Basuo Nagari Kito.
“To O, jangan sawan dulu. Katakan, di mana mayatnya?”
“Tadi kata To O, di rumpun pisang di belakang Masjid Raya Nagari Kito!” sela Ajo Sutan.
“Ayo kita ke sana. Tolong Uwan dan Bang Sut antar To O ke rumahnya!” kata Manti Nagari Kito, lalu mengkode Ajo Sutan dan Ajo Gindo dengan tangan kanannya untuk pergi.
Gue dan Uwan pun segera memapah To O ke rumahnya. (bersambung)




Komentar