Tinta Rakyat – To O memutar badannya menghadap kami.
“Jo, Jo,” katanya kepada jemaah paling depan.
Kawanan jemaah seketika berhenti.
Setelah melirik To O sejenak, para jemaah beriringan melangkah memasuki cafe Balai Basuo Nagari Kito.
Gue tidak langsung memasukinya. Gue berencana, menyediakan sedikit waktu untuk menggubris To O.
Makanya gue berjalan beberapa langkah kemudian berdiri di samping kanannya.
“To O, ada apa?” tanya gue.
“Ada perampokan sekaligus pembunuhan! Tolong Bang Sut beritahu Ajo-Ajo tadi!” katanya tegas.
“Kamu serius?”
“Ya!”
“Baik.”
Gue pun melangkah memasuki cafe Balai Basuo Nagari Kito.
“Assalammualaikum!” kata gue begitu berdiri di depan pintu masuknya.
“Walaikum salam!” jawab beberapa orang seketika.
Gue langsung melangkah menuju meja lesehan setebal 40 cm, selebar 60 cm dan sepanjang 80 cm yang biasa kami gunakan untuk badomino.
Tampak mandan gue – Uwan – dan pasangan calon lawan kami – Ajo Gindo dan Ajo Sutan – sudah duduk bersila di sana.
Gue melangkah mendekati mereka.
“Kok lambat amat Bang Sut? Ajo Gindo dan Ajo Sutan sudah sejak caka menunggu,” kata Uwan begitu gue berdiri di depan mereka.
Gue mengulum senyum.
Gue salami Ajo Gindo, Ajo Sutan dan Uwan.
“Jo Wan…” kata gue usai menyalami mereka.
“Ya,” kata Uwan.
“Mau apa Ajo Gindo dan Ajo Sutan?”
“Mamulang baleh…”
“Kekalahan badomino delapan kosong semalam?”
“Ya.”
Gue bergantian melirik mereka.
Tampak masing-masing sepontan memilin kumisnya.
Sikap duduk seperti itu pertanda keduanya seolah-olah telah siap badomino.
“Ya, Jo Gin dan Jo Tan?” tanya gue memastikan.
Keduanya sambil memilin kumis mengangguk, lalu mahengong ke kiri meniru ekting aktor komedi film India.
“Duduklah!” kata Uwan.
Gue duduk menghadap Uwan yang duduk di sebelah barat.
Uwan mengeluarkan batu domino dari dalam kalengnya.
“Tan, kocok batu domino. Tangan den lah gata-gata ingin mamulang baleh kekalahan kita malam kemarin,” kata Ajo Gindo sambil mendorong batu domino ke tengah.
“Jangan dikocok dahulu,” tukas gue.
“Kenapa?” tukas sekaligus tanya Ajo Sutan.
“Si To O serius. Tolong Ajo Sutan respon dahulu.”
“Kalau tidak? Bagaimana?” sela dan tanya Ajo Gindo.
Gue diam tetapi mengulum senyum.
“Badomino belum bisa dimulai. Ya, Bang Sut?” tukas sekaligus tanya Uwan.
“Ya!”
“Uwan tidak mau, gara-gara Bang Sut kurang konsentrasi, kami kalah badomino vs Sutan dan Gindo!”
“O, begitu. Tan, tolong urus dahulu si To O,” kata Ajo Gindo. (bersambung)




Komentar