Tinta Rakyat – Beberapa saat kemudian, Ajo Manih dan To O tiba di munggu tingga.
“Kita lebih dulu sampai dari mereka. To O bentangkan tikar,” kata Ajo Manih.
To O meletakan senternya ke bawah, sehingga tangan kanannya terlepas dari beban.
To O dengan tangan kanan mengambil tikar yang terkepit diketiak tangan kirinya, lalu membentangkannya.
Setelah terbentang, keduanya pun duduk bersila.
To O memperhatikan pematang sawah di depannya.
“Mereka sudah dekat Jo.”
“Ya. Tarik tangan mereka satu-persatu.”
Akhirnya dengan napas terengah-engah ketiga lawan koa Ajo Manih tiba di pematang sepadan munggu tingga.
To O berdiri lalu menarik tangan mereka satu-persatu.
Ajo Manih berdiri, lalu melangkah kemudian menyalami mereka satu-persatu.
“Jo Manih tak pernah ingkar janji,” kata Wan Tam, salah seorang dari mereka yang berkulit hitam.
“Itu yang kami kagumi dari Jo Manih,” tukas Wan Jang, salah seorang lagi dari mereka yang bertubuh paling tinggi.
“Silahkan duduk,” kata Ajo Manih lalu kembali duduk bersila.
Wan Tam duduk bersila menghadap Ajo Manih.
Wan Jang duduk bersila di samping kanan Ajo Manih.
Wan Dek, salah seorang laginya dari mereka bertiga, duduk bersila menghadap Wan Jang.
Tak seorang pun yang bicara.
Beberapa jenak sunyi.
To O mendehem.
Wan Tam melirik To O.
To O memonyongkan mulutnya ke Ajo Manih.
Wan Tam mengangguk.
“Jo Manih…” kata Wan Tam tertahan.
“Ya.”
“Dari kaki Gunung Marapi kami bertiga sengaja datang untuk mamulang baleh kekalahan bakoa bulan lalu!”
“Kalau begitu, ayo kita mulai bakoa. To O keluarkan kertas koa dari kotaknya tiga buah.”
“Jo, mana kertas koanya?” jawab sekaligus tanya To O.
Ajo Manih mengeluarkan satu selof kertas koa dari dalam kambuiknya.
To O membuka penutupnya, lalu mengeluarkannya tiga kotak, kemdian membuka bungkusnya dan mengacaunya.
“Doakan ambo menang, To O.”
“Ya, Jo.”
To O sambil mulutnya komat-kamit sebagaimana orang berdoa, membagikan sebelas kertas koa kepada masing-masing mereka.
Ketiga lawan bakoa Ajo Manih memperhatikan To O dengan diam, tetapi saling berpandangan.
To O selesai membagikan kertas koa, lalu menutup doa dengan kedua telapak tangan mengusap mukanya.
“Kok pakai doa menang To O?” tanya Wan Tam.
“Ajo Manih butuh dana…”
“Untuk membeli apa?”
“Bukan membeli tapi pengadaan…”
“Pengadaan barang?”
“Bukan.”
“O pengadaan jasa.”
“Bukan.”
“Kalau bukan, berarti pengadaan jenis baru. Apa itu?”
“Pengadaan uang hilang…”
“Uang hilang?” tukas dan tanya ulang Wan Jang seketika.
“Ya!”
“Apa uang hilangnya untuk lulus tes jadi aparatur sipil dan militer negara?”
“Bukan.”
“Apa uang hilangnya untuk promosi jabatan di instansi pemerintah dan swasta?” tukas sekaligus tanya Wan Dek setika.
“Bukan.”
Ketiga calon lawan koa Ajo Manih spontan saling berpandangan.
Ajo Manih memandang mereka sambil mengulum senyumnya.
Wan Dek mendehem-dehem.
Wan Jang melirik Wan Dek.
Wan Dek mengerutkan keningnya.
“To O,” kata Wan Jang.
“Ya.”
“Kalau bukan untuk itu-itu tadi, uang hilang dari Jo Manih nantinya pasti untuk siapa?” tukas sekaligus tanya Wan Dek seketika.
“Ya.”
“Siapa orangnya?” tukas sekaligus tanya Wan Jang seketika pula.
“Untuk calon ampulai adik gadih Jo Manih,” jawab To O sambil melirik Ajo Manih.
“Ya Jo Manih?” tukas Wan Tam.
Ajo Manih menganggukan kepalanya.
“Berapa?” tukas sekaligus tanya Wan Jang.
“Dua ratus juta rupiah!”
“Dua juta rupiah?”
“Ya!”
“Beruntung rang Piaman beranak lelaki, bisa jadi aset. Saya tidak tahu, apakah keluarga calon anak daro merasa malu pula jika tidak sanggup memberi uang hilang?”
“Kawan, itu urusan dalam nagari urang! Apakah sesuai dengan agama atau tidak, tak perlu kita cikaraui. Sekarang kita bantu Ajo Manih,” tukas Wan Dek.
“Oke, tetapi bagaimana caranya?” tanya Wan Tam.
“Kita korek informasi dahulu melalui To O,” tukas Wan Jang.
“Rancak.”
“Ayo kita baganjua.”
Ketiganya mengikuti langkah Wanjang yang tengah melangkah ke pojok utara munggu tingga. (bersambung)


Komentar