Tinta Rakyat – KAMI adalah lima sekawan yang sedang melaksanakan penelitian tentang pemberian uang hilang dalam adat istiadat nikah-kawin, pada lingkup budaya urang Piaman Laweh.
Lokasi penelitiannya pada salah satu nagari di distrik alam terkembang jadikan guru, atau alam Minangkabau.
Sesuai proposal, waktu yang disediakan untuk penelitian hanya empat bulan. Artinya, lebih kurang sebulan lagi penelitian harus selesai.
Kami berlima berbagi tugas. Gue alias Bang Sut – julukkan karena sutradara di Teater Kampus Selatan – kebagian tugas mengumpulkan data dengan mengorek informasi melalui wawancara dan pertanyaan tertulis.
Untuk itu, berbagai cara gue kerjain.
Di antaranya sambil badomino dan maota-ota di tempat umum seperti lapau kopi, kadai nasi atau tempat lain.
Salah satunya adalah cafe Balai Basuo Nagari Kito, yang berlokasi sekitar tujuh puluh meter dari tempat kos kami.
Awalnya gue tidak tahu Balai Basuo Nagari Kito itu tempat apa?
Rupanya bukan sekedar berkantornya Wali Nagari Kito, juga tempat bersidang sekaligus tempat warga mengadakan pertemuan guna mengurangi satereh melalui maota-ota, bakoa, badomino, dan sambil minum – Kopi Panas, Teh Telor, Susu Soda, Teh Asam atau Teh Manis Panas – menonton siaran TV, khususnya yang menayangkan serial film India.
Malam itu – sebagaimana malam kemarin – setelah berdoa usai shalat Isya di Masjid Raya Nagari Kito, gue dan beberapa orang jemaah langsung ke cafe Balai Basuo Nagari Kito.
Jaraknya dari masjid sekitar lima puluh meter.
Gue ke sana bermaksud sambil badomino, berwawancara dengan pengunjung cafe terkait materi penelitian kami.
Begitu jalan kami – para jamaah – berkelok menuju serambinya, tampaklah To O keluar dari dalam Balai Basuo Nagari Kito, lalu berdiri bersandar di tiangnya dengan kepala menghadap ke dalam cafe.
Gue kenal To O.
Ia adalah anak bujang pemilik rumah kos kami.
Ia tinggal di rumah itu sendirian.
Ayah-ibu dan saudara perempuannya sudah puluhan tahun merantau ke negeri seberang.
Ia menghuni kamar di bagian paviliun.
Kami lima sekawan menghuni kamar depan yang khusus untuk tamu.
Gue dan jemaah lainnya sampai di halaman di depan serambi Balai Basuo Nagari Kito. (bersambung)

Komentar