KABA : Tele-nya Nagari Kami (27) Tamat.

Karya : Rafendi Sanjaya

Tinta Rakyat – SESUAI komitmen di Warung Kopi Aciak Kijun, lebih kurang seminggu lamanya Bujang Salamaik berkomunikasi intensif dengan pengurus Persatuan Perantau Minang (PPM) Dunia, guna mengurus penempatan kerja para ayam jantan yang telah sepakat bakirok dari nagari.

Maka selama itu pulalah mereka tidak pulang-pulang ke rumah mertuanya alias baganyi.

Setelah penempatan kerjanya oke, seminggu kemudiannya para ayam jantan itu – 750 orang (KK) lebih sebagaimana syarat minimal pembentukan Desa atau nama lain Nagari – telah berdiri di kiri dan kanan busnya yang parkir berbaris di depan Kantor Wali Nagari.

Ajo Kenek – yang berdiri di antara Ajo Fuddin dan Ajo Karanggo di depan bus yang paling depan parkir di pintu masuk Kantor Wali Nagari Punggung Berpasir – tampak resah.

Soalnya, ia telah didaulat sebagai koordinator bakiroknya semua kepala keluarga sebagai pertanggungjawaban keoknya ayam jantan (Bujang Salamaik) oleh ayam betina (Bundo Kanduang) dalam Pilwana Punggung Berpasir beberapa minggu lalu itu.

Sesuai komunikasi Bujang Salamaik dan mereka bertiga pekan lalu usai dilantiknya Mak Jo sebagai bupati terpilih, yang akan melepas bakiroknya mereka langsung Bupati Mak Jo. Usai pelepasan bakiroknya ayam jantan dari nagari, Mak Jo melantik Bundo Kanduang sebagai Wali Nagari terpilih Punggung Berpasir.

Sesuai undangan, pelantikannya dijadwalkan pukul 10.00 WIB.

Ajo Kenek melihat jam tangannya.

Hari sudah menyatakan pukul 10.00 WIB kurang beberapa menit.

Ajo Kenek melirik Kantor Wali Nagari.

Tampak di bawah tenda besar beberapa meja utama dan kursi-kursi telah tersusun rapi.

Panitia pelaksana – yang dibentuk Bamus dengan ketuanya masih Ajo Kenek – terlihat mondar-mandir dari pekarangan dan ke dalam Kantor Wali Nagari.

Mereka pada umumnya kaum perempuan yang berpakaian anak daro Minang.

Ajo Kenek, Ajo Fuddin dan Ajo Karanggo memandang mereka dengan muka menahan geram.

“Jo Din,” bisik Ajo Kenek.

“Ya Jo Nek. Apa?” jawab sekaligus tanya Ajo Fuddin yang berdiri di samping kanan Ajo Kenek.

“WA Ujang, tanyakan di mana dia dan Mak Jo Bupati?”

“Baik.”

Ajo Fuddin segera me-WA Bujang Salamaik, menanyakan posisinya dan Mak Jo Bupati.

Ajo Kenek menyikut Ajo Karanggo yang berdiri di sebelah kirinya.

“Apa Jo Nek?” respon sekaligus tanya Ajo Karanggo. Ajo Kanek memonyongkan mulutnya ke pekarangan Kantor Wali Nagari.

Ajo Karanggo mahengong ke arah yang Ajo Kenek memonyongkan mulutnya.

Tampak di terasnya Bundo Kanduang dengan pakaian serba putih duduk sambil mengipas mukanya.

Ajo Karanggo mendehem-dehem.

Ajo Kenek pun demikian.

“Jo Nek,” tukas Ajo Fuddin.

“Ya. Apa Jo Din?”

“Sudah masuk WA dari Ujang. Ini, Jo Nek bacalah!”

Ajo Fuddin menyerahkan HP WA-nya kepada Ajo Kenek.

Ajo Kenek segera membacanya.

“O mereka dalam perjalanan. Baik. Kita tunggu,” kata Ajo Kenek.

“Ya. Kita tunggu!” tukas Ajo Fuddin dan Ajo Karanggo serentak.

Ajo Kenek memandang lurus ke depan.

Tampak di bahu jalan negara sebelah kanan Ajo Kenek, orang-orang sedang berjalan berombongan menuju Kantor Wali Nagari Punggung Berpasir.

Beberapa saat kemudian rombongan berhenti lima meter di depan Ajo Kenek, Ajo Fuddin dan Ajo Karanggo berdiri.

“Itu anak-anak kita!” seru Ajo Kenek.

“Ya!” jawab Ajo Fuddin dan Ajo Karanggo serentak.

“Siapa yang menyuruh mereka kemari?” tukas sekaligus tanya Ajo Kenek.

“Siapa lagi kalau bukan ibu mereka!” timpal sekaligus jawab Ajo Fuddin pula.

“Ya. Tapi mau apa mereka?” jawab dan tanya Ajo Karanggo.

“Kita lihat saja nanti,” jawab Ajo Kenek.

“Baik!” jawab Ajo Karanggo dan Ajo Fuddin serentak.

Dari jauh di belakang anak-anak mereka, terdengar raungan sirine.

Bunyinya semakin lama semakin keras terdengar.

“Itu mobil Patwal Bupati. Mereka sudah tiba!” tukas Ajo Kenek.

“Ya!” jawab Ajo Fuddin dan Ajo Karanggo serentak.

Beberapa jenak kemudin, mobil Patwal Bupati tiba kemudian berhenti di depan pintu masuk Kantor Wali Nagari Punggung Berpasir.

Di belakangnya, berhenti mobil dinas Bupati Mak Jo berflat merah dengan nomor 1 F.

Pintu sebelah kiri belakangnya segera terbuka.

Ajudan turun, berjalan beberapa langkah kemudian dengan segera membuka pintu di samping kiri sopir mobil dinas bupati.

Setelah terbuka, turunlah Bupati Mak Jo, lalu melangkah ke arah berdirinya Ajo Kenek, Ajo Fuddin dan Ajo Karanggo.

Ketiganya segera melangkah mendekati Bupati Mak Jo.

Setelah saling mendekat, Bupati Mak Jo bergantian menyalami ketiganya.

Usai menyalami mereka, Bupati Mak Jo mahengong ke jalan negara.

Yang balau cari – Bujang Salamaik – tidak tampak batang hidungnya.

Yang nyata tampak oleh balau barisan anak-anak.

Bupati Mak Jo mahengong ke arah Ajo Kenek, Ajo Fuddin, dan Ajo Karanggo.

“Anak-anak siapa itu?” tanyanya.

“Anak-anak kami,” jawab Ajo Kenek.

Bupati Mak Jo manggut-manggut, lalu mahengong ke arah berdirinya ajudan.

“Mana Ujang?”

“Tadi di belakang bersama mobil dinas Pak Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Nagari atau DPMN,” jawab ajudan.

“Kontak Kepala DPMN!”

Ajudan mengeraskan volume suara HP-nya, lalu mengontak yang bersangkutan.

Terdengar suara yang bersangkutan: “Halo. Apa?”

“Lagi di mana posisi Pak Kadis?” tanya Ajudan Bupati Mak Jo.

Kepala DPMN menjawab sedang mengganti ban yang mendadak meletus benennya.

“Uda Bujang Salamaik masih bersama Pak Kadis?”

“Masih!”

“Segera menyusul. Pak Bupati ada perlu dengan balau.”

“Siap segera menyusul!”

“Jo Nek, Jo Din, dan Jo Renggo,” kata Bupati Mak Jo.

“Ya,” jawab mereka serentak.

“Tadi di Kantor Bupati, Ujang mengingatkan, hari ini pelepasan bakiroknya para ayam jantan Nagari Punggung Berpasir. Ya?”

“Ya!” jawab mereka kembali serentak.

“Berarti tetap bakirok hari ini?”

“Iyalah,” jawab ketiganya serentak.

“Baik. Kita tunggu Ujang!”

Bupati Mak Jo mahengong ke jalan negara.

“Satu, dua, tiga, bentangkan!“ kata suara tiba-tiba dari barisan anak-anak mereka.

Maka terbentanglah sebuah spanduk.

Bupati Mak Jo membaca isinya: “Ayah, jangan tinggalkan kami!”

Bupati Mak Jo mahengong ke arah mereka bertiga.

“Bagaimana?” tanyanya.

“Apa Mak Jo Bupati?” tukas sekaligus tanya Ajo Kenek.

“Bakirok?”

“Tetaplah!”

“Ndak kasihan kepada anak-anak?”

“Mereka sebelumnya sudah kami beri pengertian. Mereka dapat memahaminya!”

“Tapi melalui spanduk tadi, mereka memohon kasihan?”

“Pasti ada yang menghasut!”

“Siapa?”

“Siapa lagi kalau bukan ibu mereka!”

“Mengapa?”

“Takut digantuang tak batali. Padahal kami sudah menyatakan…”

“Apa?”

“Sesuai aturan agama, jika sudah lebih enam bulan kami tak mengirim berita dan dana, silahkan nikah dengan lelaki lain!”

“O begitu?”

“Ya!”

“Kapan kalian mudik lagi ke nagari?”

“Sembilan bulan sebelum dipilihnya kembali Wali Nagari!”

“O begitu?”

“Ya!”

“Ujang sudah datang!” sela Ajo Fuddin seketika.

Bupati Mak Jo segera mahengong ke jalan negara.

Tampak Bujang Salamaik baru turun dari sebuah mobil plat merah dengan tas tersandang di punggungnya.

Bujang Salamaik melangkah mendekati mereka.

Setelah mereka berdekatan, Bupati Mak Jo, Ajo Kenek, Ajo Fuddin, dan Ajo Karanggo bergantian menyalaminya.

Bujang Salamaik menggeser kakinya sehingga terpandang pekarangan Kantor Wali Nagari Punggung Berpasir.

Bundo Kanduang – yang berpakaian serba putih dan sedang duduk di atas kursi di teras kantornya – memandang Bujang Salamaik sambil mengangkat tangannya.

Bujang Salamaik tak menghiraukannya.

“Jang,” kata Bupati Mak Jo.

“Ya. Apa Mak Jo?”

“Mak Jo sedang menyiapkan SK Ujang sebagai Sespri. Kalau bersedia, besok sudah mulai bekerja…”

“Mak Jo,” sela Bujang Salamaik.

“Ya. Apa Ujang bersedia?”

“Ujang ingin memberi pelajaran kepada kita urang Minangkabau, dalam hidup bermasyarakat dan bernagari, jangan berpaling dari ABS-

SBK, dan SMAM!”

“Maksud Ujang?”

“Di ranah Minangkabau yang jadi imam itu adalah lelaki bukan perempuan!”

“Termasuk presiden, kepala daerah ,dan kepala desa atau nagari?”

“Ya!”

“Baik. Silahkan semua ayam jantan menaiki bus!”

Bujang Salamaik, Ajo Kenek, Ajo Fuddin, Ajo Karanggo, dan ayam jantan Nagari Punggung Berpasir lainnya segera menaiki busnya masing-masing.

Setelah semuanya naik, Bupati Mak Jo pun meresmikan kebakirokan mereka dengan melepas kumpulan ikatan balon ke udara. (tamat)

 

Glosarium: abu di ateh tunggua: yang terbang (keluar dari rumah) kapan saja apabila tertiup (diusir mertua)

ajo: abang/kakak/panggilan kepada lelaki yang lebih tua

alek baik: pesta nikah

alek buruak: kematian

amak paja: ibunya anak-anak

ambo: saya

anak daro: penganten wanita

ang: kamu

apak paja: ayahnya anak-anak

ayam betina: ungkapan kiasan untuk perempuan di  Minangkabau

ayam jantan: ungkapan kiasan untuk lelaki di Minangkabau

baganyi: mundur/surut/patah semangat

bakirok: pergi dari rumah/kampung/nagari

bakoa: bermain koa/kertas ceki

balau: beliau

Balon: singkatan dari bakal calon

Bujang Salamaik: pemuda penyelamat

Bundo Kanduang: perempuan yang dituakan yang arif dan bijaksana

batandang: datang tanpa diundang

berlantas angan: menyepelekan/mengangkat enteng seseorang

biar Rabab sajalah yang menyampaikan: orang lain yang menyampaikan

caka: tadi

da: panggilan kepada lelaki yang lebih tua

den: saya

diagiah sakok: setelah bersemayam diberi sangkar/diberi tempat berdiam

digantuang tak batali: keputusan yang tak jelas ujung pangkalnya

dilapua: diterjang/dihantam

galeh ketek; gelas kecil

gundah gulana: pikiran dan perasaan kacau

hep ta hep ti: ungkapan pengalih cerita/peristiwa/adegan dalam Randai (teater tradisional rakyat Minangkabau)

jalan telah diasak orang lalu: mamangan adat yang menyatakan peladang atau orang lalu telah membuat atau mengalihkan jalan sehingga baru tetapi tidak dikenal

jo: singkatan dari ajo/panggilan kepada lelaki yang lebih tua

Kaba: kisah/cerita (salah satu sastra lama Minangkabau)

kaji manurun: tinggal pelaksanaan

kalera: umpatan caki-maki orang Piaman (Kota Pariaman dan Kabupaten Padang Pariaman)

kato nan ampek: kata yang empat (mendatar, menurun, mendaki dan melereng)

Kenek: julukan kepada lelaki yang bertubuh kecil

korong: dusun

labai korong: perpanjangan mamak syarak untuk mengurus kematian dan pengajiannya

mahengong: memalingkan muka

Mak Jo: gabungan panggilan kepada lelaki yang mamak sekaligus kakak orang

malam berhabis minyak, siang berhabis hari: telah terpakai waktu dan terkuras tenaga

malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih: peribahasa yang menyatakan nasib (keadaan diri) seseorang ditentukan Tuhan yang Mahakuasa

manaruko: merambah kawasan (hutan belukar) yang belum berpenghuni

mangirokkan: membawa pergi

memilih kucing dalam karung: memilih sesuatu (orang/barang) yang tidak jelas

menganga dahulu: sebelum berbicara dipikirkan terlebih dahulu

Nagari Induk: nagari asal

nasi sudah menjadi bubur: perumpamaan yang menyatakan karena peristiwa telah terjadi tak perlu disesali lagi

ndak: tidak

ngusul: mengusul

nyamuk di balik kelambu: ada maksud tertentu

rabab: berdendang diiringi musik gesek (salah satu kesenian rakyat Minangkabau)

sakali aia gadang sakali tapian baubah: bencana/musibah yang menyebabkan terjadinya krisis nilai-nilai adat dan agama di tengah masyarakat

sudahlah jatuh tertimpa tangga pula: dua kali beruntun tertimpa masalah

surang: satu orang

surau: langgar/mushalla

syarak mangato adaik mamakai: agama memerintah adat menjalankan

tamu malam: suami ke rumah malam hari hanya untuk mengawini istri saja dengan tanggung jawab membesarkan anak-anak di pundak mamaknya (kakak atau adik lelaki istri) dari hasil mengolah pusaka tinggi berupa sawah, ladang, dan kolam ikan.

tele: berpikir dan bertindak tidak berdasarkan logika sehat

tukak: luka di kaki yang bernanah/kudis

tuo orong: perpanjangan mamak adat untuk mengurus pernikahan

urang: orang

urang asa: orang asal/orang yang pertama datang

urang awak: orang Minang

urang sumando: suami dari kakak atau adik perempuan waang: kamu

we e: dia.

Komentar