Tinta Rakyat – “Setuju!” jawab sebagian banyak orang serentak.
“Baik. Jo Din lanjutkan dengan usulan ketiga.”
Ajo Fuddin menarik napas beberapa jenak melalui hidungnya.
Orang-orang menunggu dengan diam.
Ajo Fuddin selesai menarik napasnya, kemudian mengeluarkannya kembali melalui hidungnya.
“Yang ketiga…” katanya tertahan.
“Apa? Ungkapkanlah. Kami sudah tidak sabar ingin tahu,” tukas sekaligus tanya Ajo Jadi dengan kepala – sebagaimana biasanya tidur-tidur ayam – terkelungkup di atas meja.
“Semua ayam jantan yang sudah berkeluarga dan dewasa harus bersikap jantan…”
“Maksud Jo Din?”
“Bakirok dari Nagari Punggung Berpasir!”
“Berarti kita meninggalkan anak-bini dan sanak- keluarga! Kapan?”
“Pada hari pelantikan Wali Nagari Punggung Berpasir!”
“Kapan kira-kira?”
“Seminggu setelah pelantian Mak Jo sebagai Bupati. Ujang minta Mak Jo melepas bakiroknya kita.”
“Setelah bakirok nantinya, bagaimana mengisi perut kita yang lapar?”
“Sudah ada jalan keluarnya. Persatuan Perantau Minang Dunia atau PPM Dunia sudah ambo kontak. Mereka ikut prihatin dengan malu yang menimpa kita…”
“Lalu?”
“Apabila sepakat meninggalkan Nagari, berapa pun jumlahnya, mereka bersedia menyediakan lapangan kerja…”
“Di mana?”
“Di rumah makan, mall, dan pabrik-pabrik milik pengurus dan anggota PPM Dunia yang tersebar di berbagai belahan nusantara dan dunia…”
“Bagaimana Bapak-Bapak dan Saudara-Saudara sekalian, usul ke tiga Jo Din ini, setuju kita laksanakan?”
“Saya setuju!” tukas Ajo Kenek seketika.
Semua orang melihat ke arah Ajo Kenek duduk.
Soalnya, Ajo Kenek sejak duduk di Warung Kopi Aciak Kijun – sambil menonton siaran TV yang tak terdengar suaranya karena volumenya dikecilkan Aciak Kijun – menyimak pembicaraan Bujang Salamaik dan kawan-kawan sambil menganggukkan kepala.
Tak seorang yang bicara. Ajo Fuddin mendehem-dehem.
Bujang Salamaik melirik Ajo Fuddin.
Ajo Fuddin memonyongkan mulutnya ke Ajo Kenek yang duduk di depan etalase menghadap ke TV.
“Jo Nek,” seru Bujang Salamaik.
“Ya, Jang.”
“Apa tidak janggal, Jo Nek ikut bareng kami. Soalnya…”
“Jo Nek Panitia Pilwana.”
“Karena sudah usai, tak ada lagi kaitan Ajo dengan Pilwana. Ajo sekarang bareng sebagai ayam jantan yang kalah.”
“O begitu?”
“Ya!”
“Apa alasan Jo Nek setuju?”
“Pada umumnya apak paja di Nagari Punggung Berpasir ini urang sumando modern…”
“Maksud Jo Nek, bukan lagi sebagai tamu malam, tetapi telah langsung menginap di rumah mertuanya. Begitu?”
“Ya, tetapi…”
“Apa?”
“Kedudukannya masih tetap seperti abu di ateh tunggua.”
“Kenapa?”
“Karena rumah yang dibuat untuk anaknya dibangun di atas tanah pusaka tinggi istrinya!”
“Lalu?”
“Karena Wali Nagari seorang perempuan, bukan hanya mertua saja yang berlantas angan, Nantinya juga amak paja. Ya?”
“Jadi…?”
“Lebik baik kita bakirok dari Nagari, sehingga terhindar dari sudahlah jatuh tertimpa tangga pula.”
“O begitu?”
“Ya!”
“Bagaimana Bapak-Bapak dan Saudara-Saudara sekalian…”
“Apa?” sela Ajo Jadi dengan kepala tegak.
“Seminggu setelah pelantikan Mak Jo sebagai Bupati, kita yang para ayam jantan yang sudah berkeluarga dan dewasa, bakirok dari Nagari Punggung Berpasir ini. Setuju?”
“Setuju!” jawab mereka serentak.
“Baik. Kita minta Jo Nek sebagai koordinator penggalangan bakirok ini. Setuju?”
“Setuju!” jawab mereka kembali serentak.
“Menjelang berangkat, siapkan segala sesuatunya sehingga tidak ada yang ketinggalan.”
“Siap!” jawab mereka kembali serentak.
“Baik. Demikian pertemuan kita. Terima kasih atas kehadirannya.
Assalamualaikmum!” kata Bujang Salamaik.
“Waalaikum salam!” jawab mereka serentak.
Dan dengan diawali Bujang Salamaik, mereka satu- persatu meninggalkan Warung Kopi Aciak Kijun. (bersambung)



Komentar