KABA : Tele-nya Nagari Kami (24)

Karya : Rafendi Sanjaya

Tinta Rakyat – MALANG tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih, pada  hari pemungutan suara Bujang Salamaik tidak sempat  melaksanakan hak pilihnya dalam Pilwana Punggung Berpasir.

Sebab-musababnya pada pagi hari pukul setengah tujuh, ia terkena Muntaber usai menyantap ketupat bergulai cempedak.

Setiap sekali sekitar lima menit, Bujang Salamaik harus  ke WC di atas kolam untuk membuang beraknya.

Kondisi badannya yang lemas itu, ia beritahu via WA kepada koordinator tim sukses keenam korongnya.

Bersama relawan per TPS (masing-masing lima orang) Bujang Salamaik meminta para koordinator memantau dan menggalang kedatangan para pemilihnya, yang tiga hari sebelum hari H telah dipikat dengan penyerahan paket Sembako dan amplop berisi ongkos Ojek.

Kepada saksi Bujang Salamaik berpesan, agar  melaporkan hasil pemungutan suara di TPS masing-masing via WA.

Kini Bujang Salamaik terbaring seorang diri di atas dipan, dalam pondok peninggalan almarhum dan almarhumah kedua orang tuanya.

Untuk menenangkan hatinya, Bujang Salamaik dengan  mata terpicing berzikir. Karena berulang-ulang berzikir sambil memicingkan mata, ia akhirnya tertidur, dan terbangun begitu namanya dipanggil orang berulang-ulang dengan kerasnya.

“Astagfirullah!” katanya begitu terbangun seketika.

Bujang Salamaik melihat ke depan, ke kanan dan ke kiri  dipannya.

Tampak orang-orang pada berdiri sambil mengulum  senyum memandangnya.

Salah saorang dari mereka – yang berdiri di depan  dipannya – sangat ia kenal, yaitu Calon Bupati yang sepaket  dengannya.

“O Mak Jo. Sehat?” katanya menyapa.

“Alhamdulillah sehat. Ujang segera sehat ya,” balas  Mak Jo.

Bujang Salamaik menganggukkan kepalanya.

Tak seorang pun yang bicara.

Beberapa jenak sunyi.

“Jam berapa sekarang?” kata Bujang Salamaik sambil  mengulum senyumnya.

“Hampir pukul lima sore!” jawab Ajo Fuddin dengan  suara basnya.

“Pasti sudah ada prediksi pemenang Pilwana dan Pilkada?”

Orang-orang pada diam.

Beberapa jenak kembali sunyi.

Ajo Fuddin mendehem-dehem.

Mak Jo meliriknya.

Ajo Fuddin memonyongkan mulutnya ke arah Bujang Salamaik terbaring.

Mak Jo menarik napas beberapa jenak melalui  hidungnya.

Orang-orang menunggu dengan diam.

Mak Jo mengeluarkan kembali napas yang ditariknya tadi melalui hidungnya pula.

Ajo Fuddin kembali mendehem-dehem.

Mak Jo kembali meliriknya.

Ajo Fuddin kembali memonyongkan mulutnya ke arah Bujang Salamaik terbaring.

“Jang,” kata Mak Jo tertahan.

“Ya, Mak Jo. Apa?” kata Bujang Salamaik.

“Sebenarnya kami enggan menyampaikan hasilnya…”

“Kenapa?” tukas sekaligus tanya Bujang Salamaik.

“Ujang dalam kondisi kurang sehat.”

“Tak masalah Mak Jo. Katakanlah.”

“Alhamdulillah Jang…”

“Apa?”

“Berkat promosi dan provokasi Ujang tentang…”

“Tentang apa Mak Jo?”

“Kriteria pemimpin, baik sebagai Bupati maupun sebagai Wali Nagari…”

“Apa kriterianya Mak Jo? Ujang sudah lupa.”

“Orangnya haruslah cerdik-pandai, berpengalaman di  bidang pemerintahan, berwawasan luas, bermoral baik dan  penolong, makanya Mak Jo…”

Mak Jo menggantung penyampaiannya sambil menarik  napas beberapa jenak melalui hidungnya.

“Kok digantung Mak Jo?” tukas sekaligus tanya Bujang Salamaik.

“Alhamdulillah!” kata Mak Jo sambil mengeluarkan  napas yang ditariknya tadi melalui hidungnya.

“Alhamdulillah Mak Jo menang. Ya?” ujar Bujang Salamaik.

“Ya!”

Bujang Salamaik mengulurkan tangan kanannya.

Mak Jo mengulurkan pula tangan kanannya.

Keduanya pun bersalamanlah. Tak seorang pun yang bicara.

Beberapa jenak kembali sunyi.

“Jang!” seru Ajo Fuddin dengan suara basnya.

“Ya. Apa Jo Din?”

“Ingat Yuang Kubu?”

“Ya. Tim sukses Ujang yang menggunting dalam lipatan  sekaligus musuh dalam selimut…”

“Juga mamak dari Bundo Kanduang satu-satunya rival Pilwana Ujang…”

“Oh ya. Bagaimana dia?”

“Sukses mempromosikan sekaligus memprovokasikan

keponakannya…”

“Apa promosi dan provokasinya?”

“Yuang Kubu mengibaratkan kalian berdua ayam  aduan. Ujang ayam yang datang dari luar Nagari…”

“Maksud Jo Din, Ujang pendatang bukan urang asa Nagari Punggung Berpasir? Bundo Kanduang urang asa karena kakek atau mamak moyangnya ikut manaruko Nagari Punggung Berpasir?”

“Ya! Dia semprotkan bisa dari lidahnya, daripada ayam jantan yang batandang dari luar Nagari, lebih  baik ayam betina dari dalam Nagari yang diagiah sakok…”

“Maksudnya, Ujang sebagai ayam jantannya, Bundo Kanduang sebagai ayam  betinanya? Logikanya apabila sakok ayam jantan dibuka, akan meninggalkan berak….”

“Sebaliknya, apabila sakok ayam betina dibuka, akan meninggalkan telur. Begitu maksudnya?”

“Ya!”

“Akhirnya, Bundo Kanduang menang, Ujang kalah! Ya?”

“Ya!”

“Bagi Ujang tak jadi masalah. Pilwana Punggung Berpasir adalah bukti globalisasi  dan modernisasi telah memposisikan urang Minangkabau  sebagai orang Minangkacau! Karena yang jadi pemimpin di Nagari Punggung Berpasir adalah perempuan bukan lelaki. Hal ini tidak sesuai dengan pedoman hidup urang Minangkabau di mana adat  bersandi kepada syarak, syarak bersandi kepada Kitabullah, dan syarak mangato adaik mamakai!”

“Kalau begitu, bagaimana dengan rencana Ujang menikah dengan Bundo Kandung?”

“Ujang batalkan! Ujang tak ingin lelaki Minangkabau  kalah dua kali!”

“Tabahkan hatimu. Usai pelantikan bupati, Mak Jo angkat Ujang sebagai Sespri. Permisi,” kata Mak Jo.

Ia salami tangan Bujang Salamaik, lalu pergi bersama rombongannya.

Tak seorang pun yang bicara.

Beberapa jenak sunyi.

“Jang!” seru Ajo Fuddin.

“Ya. Apa Jo Din?”

“Apa kita tidak perlu menentukan sikap?”

“Perlulah!”

“Kapan dirumuskan?”

“Malamnya setelah Panitia Pemilihan Kecamatan rapat paripurna menetapkan siapa pemenang Pilwana Punggung Berpasir.”

“Berarti seminggu lagi?”

“Ya. Di warung kopi Aciak Kijun!”

“Baik. Kami pemisi.”

Lalu, dengan diawali Ajo Fuddin, para koordinator  korong dan relawan per TPS itu pun satu-persatu menyalami Bujang Salamaik, kemudian pergi meninggalkan gubuknya.

Tinggallah Bujang Salamaik sendiri bersama sunyi. (bersambung)

Komentar