Tinta Rakyat – DUA hari kemudian Bujang Salamaik setelah Isya dengan sepeda Relly dan sepatu Itali ke Warung Kopi Aciak Kijun.
Sesuai informasi Aciak Kijun via ponsel, sebelum Bujang Salamaik bergerak ke warung, di sana sudah menunggu beberapa petinggi tim suksesnya seperti Ajo Uddin, Ajo Karanggo, Sutan Dangiang, Ajo Jadi, Isman Chandra alias Is Tukak. Juga Ajo Kenek Ketua Bamus Nagari Punggung Berpasir.
“Assalamualaikum!” katanya lalu memarkir sepeda dengan menurunkan standarnya.
“Waalaikum salam!” jawab sebagian pelanggan Warung Kopi Aciak Kijun yang hadir.
Bujang Salamaik melangkah memasuki warung, lalu duduk di tempat biasanya, yaitu di depan etalase dengan kepala tegak menghadap ke barat.
Sebagaimana biasa – setelah duduk – ia pesan kepada Aciak Kijun kopi galeh ketek untuk dirinya dan pelanggan lainnya yang belum ada minumannya.
Aciak Kijun melangkah ke dapur warung.
Beberapa jenak sunyi.
“Jang…” kata seseorang yang duduk dengan kepala menghadap ke jalan negara.
Bujang Salamaik menoleh ke arah datangnya suara.
“O, Jo Kenek. Ada apa Jo?” katanya bertanya.
“Benar Yuang Kubu mengundurkan diri sebagai koordinator tim sukses korong?”
“Tidak. Ujang memecatnya!”
“Kenapa?”
“Dia musuh dalam selimut!”
“Apa Ujang sudah mencek kebenarannya?”
“Sudah! Kepada datuak penghulu keenam suku!”
“Yang Ujang beri ponsel untuk komunikasi intensif itu?”
“Ya!”
“Apa jawab para datuak penghulu keenam suku?”
“Diam alias no komen!”
“Apa Ujang sudah komunikasikan juga dengan kapalo mudo nagari dan labai nagari?”
“Sudah. Mereka tidak menjawab tetapi menyampaikan pesan dari para penghulu suku…”
“Apa pesannya?”
“Perlu biaya untuk komunikasi intensif dengan sanak-kemenakannya!”
“Apa jawab Ujang?”
“Karena mendadak Ujang komunikasikan dahulu dengan sponsor dan donatur.”
“Apa jawab mereka?”
“Mereka beri Ujang waktu paling lambat tiga hari menjelang hari pemilihan.”
“Apa jawab Ujang?”
“Insya-Allah!”
“Lalu?”
“Ujang revisi taktik dan strategi pemenangan Pilwana Ujang…”
“Apa modusnya?”
“Pada setiap korong terdapat dua tempat pemungutan suara atau TPS…”
“Lalu?”
“Ujang pasang koordinator relawan tingkat korong dua orang…”
“Lalu?”
“Setiap TPS pemilih minimalnya 300 orang…”
“Ya. Lalu?”
“Masing-masing koordinator mencarikan 200 suara untuk Ujang dan calon bupati yang sepaket dengan Ujang…”
“Lalu?”
“Jika meleset 49 suara berarti Ujang dan calon bupati meraih 151 suara, atau 50% tambah satu suara…”
“Ya. Lalu?”
“Itu berarti Ujang dan calon bupati yang sepaket dengan Ujang menang di TPS sasaran.”
“O begitu?”
“Ya!”
“Bagaimana upaya untuk mencapai targetnya?”
“Setiap koordinator Ujang serahkan 200 amplop. Isinya, foto dan nomor urut Ujang sebagai calon wali nagari, foto dan nomor urut calon bupati yang sepaket dengan Ujang!”
“Apa hanya itu saja isi amplopnya?”
“Tidak!”
“Apa?”
“Uang untuk ongkos Ojek ke TPS!”
“Berapa nominalnya?”
“Rahasia, tetapi lumayanlah senilai upah orang menyiang padi di sawah.”
“Jo Kenek belum yakin Ujang bakal memenangkan Pilwana Punggung Berpasir…”
“Apa logikanya?”
“Bundo Kanduang memang tak bersponsor tetapi taktik dan strategi pemenangan tim suksesnya masuk akal sehingga wanita layak dipilih untuk jadi pemimpin Nagari Punggung Berpasir!”
“Kita lihat nanti Jo Nek. Baik. Karena malam sudah melarut, kita akhiri rapat evaluasi ini. Terima kasih. Assalamualaikum!”
“Waalaikum salam!” jawab yang hadir serentak.
Maka dengan diawali Bujang Salamaik, satu-persatu pelanggan Warung Kopi Aciak Kijun berdiri dari tempat duduknya, lalu melangkah menuju rumahnya masing-masing. (bersambung)




Komentar