Tinta Rakyat – HARI pun mengalir bersama waktu. Jadwal kampanye door to door pun usai.
Menjelang hari penusukkan, Panitia Pilwana dan Pilkada menyediakan minggu tenangnya lima hari.
Walau demikian, di warung kopi utama korong-korong Nagari Punggung Berpasir, Bujang Salamaik jadi buah bibir karena ia berdiri di tengah-tengah pada tempat yang sempit dan dilematis.
Apabila ia menoleh ke kanan, terdengar yel-yel dari pemilih lelaki yang mengelu-elukan dirinya sebagai pemenang Pilwana.
Bujang Salamaik tak menggubrisnya.
Bahkan ia pesimis. Soalnya, jumlah pemilih lelaki hanya 46 persen dari daftar pemilih tetap yang telah diumumkan Panitia Penyelenggara Pilwana, sedang jumlah pemilih perempuan 54 persen.
Apabila ia menoleh ke kiri, terdengar yel-yel dari kaum perempuan yang mengelu-elukan Bundo Kanduang sebagai pemenang Pilwana.
Menurutnya, bagi urang Minangkabau hal itu sulit jadi kenyataan apabila di ranah Minangkabau adat bersandi syarak, syarak bersandi Kitabullah atau ABS-SBK, dan syarak mangato adaik mamakai atau SMAM jadi pedoman dalam hidup bermasyarakat dan berpemerintahan.
Berdasarkan ajaran itu, wanita hanyalah “penguasa di belakang layar”, bukan imam yang berdiri di depan.
Memang sejak alam terkembang jadikan guru, sebelum menetapkan keputusan yang mengikat kaum, para datuak penghulu kaum pada hakikatnya beriya berbukan terlebih dahulu dengan ibunya, atau dengan perempuan yang Bundo Kanduang dalam kaum.
Mamangan adat menyatakan bahwa kemenakan seperintah mamak, mamak seperintah penghulu, penghulu seperintah Nan Bana, Nan Bana berdiri dengan sendirinya.
Sekarang era globalisasi dan modernisasi. Apakah doktrin itu masih berlaku?
Hentahlah! Bujang Salamaik jadi galau dibuatnya.
Dengan kegalauan itulah ia pada hari pertama minggu tenang, setelah Isya mengumpulkan keenam koordinator relawan tingkat korongnya di posko pemenangannya, yaitu Warung Kopi Aciak Kijun.
“Assalamualaikum,” kata Bujang Salamaik memulai.
“Waalaikum salam!” jawab para koordinator yang hadir.
“Mengingat waktu, kita langsung saja. Apakah ada perubahan panah pemilih? Mohon penjelasan Ajo Karanggo komandan para koordinator korong.”
“Baik,” kata Ajo Karanggo lalu melalui hidungnya menarik napas beberapa jenak.
Orang-orang yang hadir menunggu dengan diam.
“Jang,” kata Ajo Karanggo setelah mengeluarkan napas yang ditariknya tadi melalui hidungnya pula.
“Ya.”
“Berdasarkan pemantauan kawan-kawan koordinator korong, Ujang dibanding Bundo Kanduang masih di atas angin.”
“Di atas angin itu maksudnya apa Jo Renggo?”
“Unggul!”
“Jang…” tukas Aciak Kijun.
“Ya, Ciak.”
“Boleh Aciak ngusul?”
“Boleh. Silahkan!”
“Sudah berapa kali Ujang rapat evaluasi pemantapan pemenangan dengan para koordinator tingkat korong di warung Aciak?”
“Lima.”
“Yuang Kubu tak pernah tampak batang hidungnya. Ya?”
“Ya!”
“Mengapa dan ada apa?”
Bujang Salamaik mengangkat kedua bahunya.
“Sebaiknya Ujang cari tahu tentang ketidakhadiran Yuang Kubu.
Jejaknya tidak terdeteksi pula oleh intelijen kita. Ini berbahaya,” tukas Ajo Karanggo.
“Apa bahayanya Jo Renggo?”
“Siapa tahu dia musuh dalam selimut! Pura-pura berkawan tahu-tahunya lawan!”
Tiba-tiba terdengar suara kenalpot resing sepeda motor.
“Ajo Kenek datang!” kata Aciak Kijun.
Bujang Salamaik dan kelima koordinator korongnya menoleh ke halaman warung.
Ajo Kenek memarkir sepeda motornya.
“Rapat evaluasi Jang?” tanyanya setelah duduk di dekat etalase.
“Ya!” jawab Bujang Salamaik.
“Silahkan lanjut!”
“Kami tak jadi rapat…”
“Kenapa?”
“Yuang Kubu tidak hadir!”
“Lalu?”
“Ujang akan cari tahu dahulu kenapanya?”
“O begitu?”
“Ya!”
“Terima kasih atas kehadiran semua kawan-kawan. Assalamualikum!”
“Waalaikum salam!” jawab semua yang hadir.
Maka dengan diawali Bujang Salamaik, mereka satu-persatu meninggalkan Warung Kopi Aciak Kijun menuju rumahnya masing-masing. (bersambung)


Komentar