Tinta Rakyat – “Itu Bujang Salamaik datang!” tukas Ajo Jadi yang kali ini bukan sedang tidur-tidur ayam, dengan tangan kanan menunjuk ke jalan negara.
Orang-orang yang duduk di palanta Warung Kopi Aciak Kijun melirik ke arah yang ditunjuk Ajo Jadi itu.
Tampak di seberang jalan negara, Bujang Salamaik mau menyeberang dengan mata melirik ke kiri dan ke kanan jalan.
Orang-orang memandangnya dengan diam.
Beberapa jenak kemudian lalu lintas kendaraan di kiri dan kanan jalan negara itu telah lengang.
Bujang Salamaik melangkah bergegas menyeberang jalan.
Sesampai di seberang, dengan langkah mantap ia menuju Warung Kopi Aciak Kijun.
“Assalamualaikum!” katanya begitu sampai di depan ruang masuk.
“Waalaikum salam!” jawab sebagian banyak orang.
Bujang Salamaik sambil melangkah memasuki warung, menyalami pelanggan yang duduk di palanta terdekat.
Setelah sampai di samping etalase, ia beri salam dengan kedua telapak tangan di dada kepada pelanggan yang duduk di palanta sebelah barat dan selatan.
Setelah menerima balasannya dengan cara yang sama, Bujang Salamaik pun duduklah.
“Minum apa Jang?” tanya Aciak Kijun.
“Biasa. Ajo-Ajo yang lain yang belum minum kasi juga kopi galeh ketek, Ciak!”
Aciak Kijun melangkah ke belakang warung.
Lagi-lagi tak seorang pun yang berbicara.
Lagi-lagi beberapa jenak kembali sunyi.
“Jang…” kata Ajo Fuddin memecah kesunyian.
“Ya. Apa Jo?”
“Sudah enam hari kami kehilangan Ujang. Apa Ujang ada pertemuan?”
“Ya!”
“Dengan siapa?”
“Datuak-datuak penghulu keenam suku beserta tokoh fungsional adat dan agamanya di tingkat nagari…”
“Siapa tokoh fungsional dimaksud?”
“Kapalo mudo nagari dan labai nagari!”
“Ujang datang sendirian?”
“Tidak. Bersama dua orang sanak kemenakan beliau!”
“Berarti ada saksi?”
“Ya.”
“Jadi Ujang sampaikan di pertemuan itu…”
“Apa?”
“Mohon dukungan sanak-kemenakan datuak penghulu keenam suku?”
“Jadilah.”
“Apa jawab para datuak penghulu?”
“Beliau serahkan kepada kapalo mudo nagari dan labai nagari.”
“Apa jawab kapalo mudo nagari?”
“Dirapatkan dahulu dengan para tuo korong.”
“Kalau labai nagari, apa jawabnya?”
“Dirapatkan dahulu dengan para labai korong.”
“Sudah dilaksanakan kedua rapatnya?”
“Sudah. Di hari yang sama, di Balairung Adat Nagari!”
“Apa hasilnya?”
“Mereka sepakat mendukung Ujang sebagai Wali Nagari Punggung Berpasir!”
“Bagaimana caranya?”
“Tuo korong dan labai korong akan ke rumah sanak-kemenakan atau kaumnya membawa kartu nama Ujang!”
“O, begitu?”
“Ya, tetapi ada syaratnya.”
“Apa?”
“Ujang harus menyediakan sejumlah ponsel dan dana pulsa untuk keenam datuak penghulu suku dan perangkat fungsional adat dan agamanya dari tingkat nagari hingga korong!”
“Untuk apa ponsel itu Jang?”
“Untuk komunikasi intensif sebelum dan pasca Pilwana, beserta biaya untuk pembeli BBM-nya untuk dua kali kegiatan!”
“Apa kegiatannya?”
“Pertama, tuo korong dan labai korong mengantar kartu nama Ujang ke rumah-rumah sanak-kemenakan datuak penghulu keenam suku…”
“Yang keduanya?”
“Tuo korong berdua dengan labai korong dengan sepeda motor mengingatkan kembali sanak-kemenakan datuak penghulu keenam suku untuk jangan lupa memilih Ujang di hari Pilwana!”
“O, begitu.”
“Ya.”
“Ada yang lain-lainnya?”
“Ada!”
“Apa?”
“Ibarat malam berhabis minyak, siang berhabis hari, usai ke rumah sanak-kemenakan tentu ada uang yang akan mereka bawa pulang ke rumah anak-bininya?”
“O, uang jalannya!” tukas Ajo Jadi.
“Ya!”
“Datuak penghulu keenam suku tentu diberi pula uang jalan?” tukas dan tanya Ajo Karanggo.
“Tidak, hanya uang hilang!”
“Sumber dananya Ujang?”
“Bukan.”
“Siapa?”
“Calon bupati yang dahulu anggota DPR RI di mana Ujang Sesprinya. Kebetulan sesuai perencanaan KPU Kabupaten, pemilihan
bupati atau Pilbub jadwalnya serentak dengan Pilwana…”
“Berarti Ujang sepaket dengan balau.”
“Ya.”
Lagi-lagi tak seorang pun yang bicara.
Lagi-lagi beberapa jenak kembali sunyi.
“Yang…” kata Ajo Kenek memecah kebuntuan.
“Ya Jo Nek. Apa?”
“Pilwana dan Pilbup sepuluh hari lagi…”
“Lalu?”
“Ujang harus memasang beberapa buah baliho atau spanduk dan mencetak kartu nama…”
“Jumlah kartunya?”
“Tidak perlu sebanyak jumlah pemilih tetap!”
“Kenapa?”
“Sebagaimana Pilpres dan Pileg, pemilih yang datang ke TPS paling banyak 65% dari jumlah pemilih terdaftar.”
“O begitu?”
“Ya!”
“Baik. Akan Ujang siapkan dan laksanakan.”
“TPS kita sebelas. Ujang jangan lupa, menunjuk saksi yang loyalis yang bermuka satu.”
“Ya. Apa lagi Jo Nek?”
“Untuk keterjaminan kepastian dan kenyamanan kedatangan dan kepulangan pemilih ke dan dari TPS, Ujang cater becak…”
“Siap!. Bapak-Bapak dan Saudara-Saudara tim sukses dan relawan, ada yang akan disampaikan?” kata Bujang Salamaik sambil mahengong ke kiri dan ke kanan, ke muka dan ke belakang tempat duduknya.
Lagi-lagi tak seorang pun yang berbicara.
Lagi-lagi beberapa jenak kembali sunyi.
“Baik. Karena hari sudah larut, kita perlu istirahat. Terima kasih atas perhatian semuanya. Assalamualaikum!” kata Bujang Salamaik.
“Waalaikum salam!” jawab mereka serentak.
Bujang Salamaik dberdiri, lalu melangkah mendekati Aciak Kijun yang berdiri di belakang etalase.
Ia keluarkan selembar uang kertas berwarna merah dari saku celana kanannya, lalu menyerahkannya kepada Aciak Kijun sebagai pembayar semua minuman.
Selanjutnya dengan diawali Bujang Salamaik, satu-persatu pelanggan Warung Kopi Aciak Kijun pun melangkah pulang ke rumahnya masing-masing. (bersambung)




Komentar