KABA : Tele-nya Nagari Kami (20)

Karya : Rafendi Sanjaya

Tinta Rakyat – MALAM itu setelah Isya, Warung Kopi Aciak Kijun telah ramai dikunjungi pelangannya.

Di antaranya Ajo Fuddin, Yuang Kubu, Ajo Karanggo, dan Ajo Jadi.

Ajo Fuddin, Yuang Kubu dan Ajo Karanggo duduk di palanta sebelah selatan – yang membelakangi jalan negara – menghadap ke TV.

Sedang Ajo Jadi duduk di palanta sebelah barat dengan kepalanya terkelungkup di atas meja.

Terdengar bunyi knalpot resing sepeda motor, lalu berhenti di halaman Warung Kopi Aciak Kijun.

Ajo Fuddin dan Yuang Kubu tak menghiraukannya karena sedang asyik menonton TV yang menayangkan film India.

“Assalamualaikum!” kata seseorang dengan suara basnya.

Ajo Fuddin dan Yuang Kubu segera melirik pemilik suara.

Rupanya Ajo Kenek.

“Waalaikum salam!” jawab keduanya dengan suara basnya pula.

Ajo Kenek melangkah memasuki warung dan duduk di depan Ajo Fuddin dan Yuang Kubu dengan kepalanya bukan menghadap ke TV tetapi ke jalan negara.

Ajo Fuddin berhenti menonton TV.

“Jo Nek,” katanya.

“Ya. Apa Din?”

“Ada berita yang perlu kami konfirmasikan kepada Jo Nek selakupenyelenggara Pilwana Punggung Berpasir.”

“Berita apa itu?” tanya Ajo Kenek.

“Benar Bujang Salamaik sudah jadi Calon Wali Nagari Punggung Berpasir?”

“Ya!”

“Dari mana Jo Nek tahu?”

“Surat pemberitahuan panitia seleksi tingkat Kabupaten!”

“O, begitu.”

“Ya!”

Ajo Fuddin diam sambil kembali memandang siaran TV.

“Tahu Jo Din,” kata Ajo Kenek.

“Apa?”

“Berapa orang yang lolos sebagai calon?”

“Tidak! Tentu Jo Nek yang tahu, penyelenggara Pilwana.”

“Yang lolos hanya dua orang.”

“Hanya dua orang yang lolos dari enam balon?”

“Ya!”

“Siapa-siapa orangnya?”

“Sesuai prediksi orang-orang di palanta warung-warung politik,

Bujang Salamaik dan…”

Ajo Kenek berhenti berbicara, lalu menarik napas beberapa jenak melalui hidungnya.

Orang-orang beberapa jenak pula menunggu dengan diam.

Ajo Kenek mengeluarkan napas yang ditariknya tadi melalui hidungnya pula.

“Jo Nek…” tukas Yuang Kubu mandan bakoanya.

“Ya. Apa?”

“Yang digantung itu biasanya buayan bukan orang.”

“Ya. Semua orang tahu itu.”

“Jadi, selain Bujang Salamaik, siapa nama calon keduanya?”

“Jo Kubu ingin tahu?”

“Ya. Siapa?”

“Kemenakan Jo Kubu, Bundo Kanduang!”

“Empat balon yang lain gugur atau bagaimana?” sela sekaligus tanya Ajo Karanggo.

“Mengundurkan diri dengan alasan, tidak mungkin mengalahkan Bujang Salamaik yang hebat visi, misi dan programnya”

Lagi-lagi tak seorang pun yang bicara.

Lagi-lagi beberapa jenak kembali sunyi.

“Tahu Jo Din…” kata Ajo Kenek memecah kesunyiaan.

“Apa?”

“Selama dua hari ikut tes tertulis dan wawancara, Bundo Kanduang bergonceng dengan sepeda motor siapa?”

Ajo Fuddin menggelengkan kepalanya.

“Dengan sepeda motor milik Yuang Kubu!”

Ajo Fuddin melirik Yuang Kubu yang duduk di samping kirinya.

“Ya, Kubu?”

Yuang Kubu menganggukkan kepalanya.

“Siapa pengendaranya?”

Orang-orang diam.

“Apa Yuang Kubu pemilik sepeda motor?” tanya Ajo Fuddin.

Yuang Kubu menggelengkan kepalanya.

“Apa si Bujang Salamaik?”

Yuang Kubu menganggukkan kepalanya.

“Pertanda apa itu?” tukas sekaligus tanya Aciak Kijun.

“Tak usah dipertanyakan, maklumi sajalah!” tukas Ajo Kenek. (bersambung)

Komentar