KABA : Tele-nya Nagari Kami (2)

Karya : Rafendi Sanjaya

Tinta Rakyat – “Jang,” kata seseorang tiba-tiba.

Bujang Salamaik melirik ke arah datangnya suara.

“O, Jo Kubu. Ada apa Jo?”

“Berapa tahun Ujang merantau?”

“Lebih kurang delapan tahun.”

“Ujang tinggal di kota atau di desa?”

“Di beberapa kota.”

“Boleh Jo Kubu bertanya?”

“Boleh, asal masuk ranah kapasitas pengetahuan umum Ujang untuk menjawabnya.’

“Ajo yakin masuklah.”

“Jadi, apa pertanyaan Ajo?”

“Apa beda perilaku dan gaya hidup pemuda kota dengan pemuda Desa atau nama lainnya Nagari di kampung kita?”

“Akibat negatif dari adanya globalisasi dan modernisasi, pemuda Kota umumnya hidup sekuler, prakmatis, konsumtif, individualis dan hedonis. Sehingga pada umumnya hidup dan kehidupan mereka kurang mengacu kepada adat Timur yang santun dan agama berketuhanan yang tauhid!”

“Kalau pemuda Desa atau nama lainnya Nagari di kampung kita?”

“Masih berpegang teguh kepada adat Timur yang santun dan agama berketuhanan yang tauhid!”

“Salah Jang!” tukas seseorang seketika.

Bujang Salamaik melirik ke arah datangnya suara.

“O, Mak Hitam. Kok salah Mak Hitam?” katanya.

“Generasi muda Desa atau Nagari di kampung kita, alergi dengan adat Timur yang santun dan agama berketuhanan yang tauhid. Dahulu mereka seperintah mamak adat dan mamak syarak. Sekarang…”

“Seperintah apa Mak Hitam?” tukas Bujang Salamaik.

“Seperintah perut!”

“Maksud Mak Hitam?”

“Berdasarkan emosi bukan akal sehat!”

Tak seorang pun yang bicara.

Beberapa jenak sunyi.

“Apa tujuan Ujang pulang kampung?” tanya Uwan Naro memecah kesunyiaan.

“Berbuat kebajikan dan kebaikan untuk orang kampung.”

“Jang…” sela Aciak Kijun.

“Apa Ciak?”

“Apa Ujang sudah tahu, Nagari Lubuk Beralung sudah mekar, korong kita jadi Nagari Punggung Berpasir?”

“Baguslah itu…”

“Kok bagus Jang?”

“Bertambah dana pusat beredar di kampung kita. Sesuai peraturan perundangan yang berlaku, Pemerintah Desa atau Pemerintah Nagari setiap tahunnya berhak menerima 10% dana yang sudah dianggarkan oleh Pemerintah Pusat dalam APBN”

“O, begitu, tapi Jang,” sela Uwan Naro.

“Apa Uwan?”

“Nagari Punggung Berpasir belum sedefenitif Nagari Induk Lubuk Beralung karena Wali Nagarinya belum dipilih. Jadi…”

“Apa Uwan?”

“Kesempatan bagi Ujang untuk berbuat kebaikan dan kebajikan untuk orang kampung. Ujang harus maju sebagai calon Wali Nagari!”

Terdengar bunyi suara kenalpot resing sepeda motor menuju halaman Warung Kopi Aciak Kijun.

Sebagian orang-orang yang duduk di palantanya melirik ke halaman.

Tampak seseorang mematikan mesin sepeda motornya, lalu dengan tas tersandang di punggung melangkah memasuki Warung Kopi Aciak Kijun.

Orang-orang memperhatikannya dengan diam.

“Assalamualaikum!” katanya dengan suara basnya setelah berada di ruang teras warung.

“Waalaikumsalam!” jawab sebagian banyak pelanggan Warung Kopi Aciak Kijun.

“Jo Din,” tukas Aciak Kijun.

“Ya. Apa Ciak?”

“Jo Kenek telah tiba. Telah cukup berempat. Bukaklah kertas koa.”

“Maaf Ciak. Saya kemari bukan untuk bakoa…”

“Kalau tidak, mau apa?” tukas sekaligus tanya Ajo Fuddin.

“Menyampaikan pemberitahuan tentang syarat- syarat bakal calon atau Balon Wali Nagari Punggung Berpasir. Saya mohon izin menempelkannya di warung kopi Aciak.”

“Silahkan.”

Ajo Kenek meletakan tas yang tersandang di punggungnya itu di atas etalase, lalu membuka resletingnya.

Setelah terbuka, ia keluarkan beberapa lembar kertas, lalu memberinya lem dan menempelkannya di tiang tengah Warung Kopi Aciak Kijun.

“Terima kasih Ciak. Permisi,” katanya setelah menarik resleting tasnya.

“Jo Kenek…” tukas seseorang.

Ajo Kenek melirik ke arah datangnya suara.

“O, Jo Renggo. Bagaimana?”

“Kurang satu, bakoa kita.”

“Tunggu. Saya masih dinas. Masyarakat korong tetangga belum tahu. Saya tempelkan dahulu pemberitahuan ini di warung teramainya.”

“Oke. Kami tunggu!”

Ajo Kenek melangkah menuju sepeda motornya.

Ia masukan kuncinya, lalu mengengkolnya.

Setelah hidup Ajo Kenek menggas sepeda motornya menuju Korong Bodi Piliang di arah timur Warung Kopi Aciak Kijun. (bersambung)

Komentar