Tinta Rakyat – MALAM itu setelah waktu Isya – sehari sebelum pemerintah kabupaten melaksanakan ujian tertulis dan wawancara – Bujang Salamaik ke Warung Kopi Aciak Kijun.
Kedatangannya telah ditunggu pendukungnya.
“Assalamualaikum!” katanya begitu sepeda Rellynya sampai dipekarangan Warung Kopi Aciak Kijun.
“Waalaikum salam!” jawab Aciak Kijun dan pengunjung warung lainnya yang duduk menghadap ke jalan negara.
Bujang Salamaik turun dari sepedanya.
Setelah memakirnya dengan menurunkan standarnya, ia dengan langkah mantap memasuki Warung Kopi Aciak Kijun, lalu duduk di tempat kesukaannya yaitu di samping etalase.
“Jang…” kata Ajo Fuddin dengan suara basnya.
“Ya. Ada kabar Jo?” jawab sekaligus tanyanya.
“Ke mana Ujang beberapa malam ini?”
“Mengembangkan dan memantapkan komunikasi!”
“Kali ini siapa sasarannya?”
“Kaum perempuan dan anaknya yang punya hak pilih!”
“Kapan komunikasinya?”
“Usai sarapan pagi, makan siang, dan makan malam!”
“O itu sebabnya Ujang absen ke Warung Kopi Aciak Kijun beberapa malam ini?”
“Ya!”
“Satu lagi Jang?”
“Ya. Apa Jo?”
“Sebagaimana mengemuka di acara presentasi visi, misi dan program Balon Wali Nagari, benar Ujang pacaran dengan Bundo Kanduang, Balon Wali Nagari Punggung Berpasir nomor undian enam?”
”Ada-ada saja pertanyaan Ajo?”
“Kami umumnya setuju Ujang menikah dengannya!”
“Apa?” tukas sekaligus tanya Ajo Karanggo alias Jo Renggo.
“Bujang menikah dengan Bundo Kanduang…”
“Siapa dia?”
“Kemenakan Yuang Kubu, gadis paling manis dan cerdas di Nagari Punggung Berpasir!”
Ajo Karanggo melirik Yuang Kubu.
Yuang Kubu menganggukkan kepalanya.
“Iya Jang?”
“Apa Jo?”
“Ujang pacaran dengannya?”
“Kalau benar, bagaimana menurut Ajo?”
“Kalau dia lolos sebagai calon, Ujang mundur tetapi kalian menikah dahulu.”
“Ajo Renggo ada-ada saja. Lagi pula…”
“Apa Jang?”
“Jadwal hari pemilihannya sudah kasip, tak ada lagi waktu untuk menyiapkan dan melaksanakannya…”
“Melaksanakan apa Jang?” sela sekaligus tanya Ajo Fuddin.
“Itu…”
“Apa?”
“Biar Rabab saja yang menyampaikan!”
“O begitu?”
“Ya!”
Tak seorang pun yang bicara.
Beberapa jenak sunyi.
“Jang,” kata Ajo Kenek memecah kebuntuan.
“Ya. Apa Jo?.”
“Apa Ujang sudah mendengar…”
“Apa Jo Nek?”
“Bahwa…”
“Apa Jo Nek?”
“Bahwa Calon Wali Nagari Punggung Berpasir hanya sepasang…”
“Siapa?”
“Bujang Salamaik dan Bundo Kanduang!”
“Jadi, empat calon lainnya gugur?”
“Bukan gugur…”
“Apa?”
“Mengundurkan diri!”
“Itu prediksi Jo Nek atau fakta?” tukas sekaligus tanya Aciak Kijun.
“Issu yang tengah berkembang di warung kopi utama lima korong lain!”
“Langsung dipertanyakan pelanggan warung kepada Jo Nek?”
“Ya!”
“Apa dasarnya?”
“Mereka…”
“Maksud Jo Nek, empat balon lainnya?”
“Ya!”
“Bagaimana?”
“Tidak punya visi, misi dan program. Yang punya hanya Ujang!”
“Bundo Kanduang tidak punya juga?”
“Ya. Tetapi bisa dimaklumi..”
“Apa maklumnya?”
“Mereka pacaran!”
Orang-orang melirik Bujang Salamaik.
Bujang Salamaik sambil menekur tampak mengulum senyumnya.
Lagi-lagi tak seorang pun yang bicara.
Lagi-lagi beberapa jenak sunyi.
“Jo Nek,” kata Ajo Fuddin memecah kebuntuan.
“Ya.”
“Kalau benar nantinya Calon Wali Nagari Punggung Berpasir hanya dua orang, apa daya dan upaya yang harus dilakukan Ujang untuk memenangkannya?”
“Saya tidak boleh memberi tahunya…”
“Kenapa?”
“Saya penyelenggara Pilwana. Harus netral!”
“O begitu.”
“Sebaiknya kita minta pendapat Ujang!” tukas seseorang sambil menggebrak meja.
Orang-orang pada melirik ke arah meja yang digebrak itu.
Rupanya Ajo Jadi.
Dia sedang tidur-tidur ayam dengan kepala terkelungkup di atas meja palanta sebelah barat.
“Silahkan Jang!” tukas Ajo Karanggo.
“Baik,” kata Bujang Salamaik, lalu menarik napas beberapa jenak melalui hidungnya.
Orang-orang menunggunya dengan diam.
Lagi-lagi beberapa jenak sunyi.
“Saya tidak ingin terjebak dalam spekulasi. Saya akan bermain apabila pluit telah dibunyikan wasit!” katanya sambil mengeluarkan napas yang ditariknya tadi melalui hidungnya.
Lagi-lagi tak seorang pun yang bicara.
Lagi-lagi beberapa jenak sunyi.
“Kapan Ujang menggalang intensif suara pemilih?” tanya Ajo Fuddin seketika.
“Sambil jalan saja. Hari hampir tengah malam. Ciak, ini biaya minuman malam ini. Assalamualaikum!” kata Bujang Salamaik.
“Waalaikum salam!” jawab banyak pelanggan
serentak.
Bujang Salamaik melangkah menuju sepeda Rellynya.
Setelah melepas standarnya, ia racak menuju jalan negara menuju gubuknya.
Pelanggan pun satu-persatu meninggalkan Warung Kopi Aciak Kijun. (bersambung)




Komentar