KABA : Tele-nya Nagari Kami (18)

Karya : Rafendi Sanjaya

Tinta Rakyat – “Kita lanjutkan presentasi dengan nomor undian dua dipersilahkan,” kata Sutan Panyalai.

Martiyus Makjang segera berdiri dari tempat duduknya di samping kanan barisan meja pengurus Bamus.

Tangan kanannya memegang mikrofon.

“Ketua Panitia Pilwana,” katanya.

“Ya. Ada apa?”

“Setelah kami teliti, ternyata visi, misi dan program balon nomor undian dua, tiga, empat dan lima, sama dengan visi, misi dan program balon nomor undian pertama. Kenapa sampai demikian?”

“Kami panitia mengupahkan mengeditnya kepada orang yang sama!”

“Bujang Salamaik balon nomor undian satu juga demikian?”

“Tidak! Ada foto kopi visi, misi dan program Bujang Salamaik pada orang yang menerima upah sebagai editor!”

“Jadi bagaimana?”

“Kami nomor undian dua sampai lima sepakat tidak mempresentasikan visi, misi dan program karena sudah dilakoni nomor undian satu!” tukas H. Jaslitar, salah seorang dari lima presenter lainnya.

“Maju sebagai Balon Wali Nagari tetap?”

“Tetaplah!”

“Bagaimana Jo Nek? Setuju?”

“Tanyakan kepada undangan!”

“Bagaimana undangan presentasi? Setuju?”

Tak seorang pun yang berbicara.

Beberapa jenak sunyi.

“Karena tidak ada yang menjawab berarti setuju. Kita lanjutkan dengan presentasi visi, misi dan program balon terakhir dengan nomor undian enam, dan satu-satunya dari unsur wanita. Dipersilahkan!” kata Sutan Panyalai.

Balon yang dimaksud segera berdiri di tempat duduknya.

“Nama saya Bundo Kanduang. Setelah timbang-menimbang saya putuskan tidak perlu lagi mempresentasikan visi, misi dan program…”

“Kenapa?” sela sekaligus tanya Sutan Panyalai.

“Yang memberi semangat saya maju sebagai Balon Wali Nagari Punggung Berpasir adalah Da Ujang, presenter visi, misi dan program nomor undian pertama tadi. Makanya…”

“Ia berjanji membuatkan visi, misi dan program Bundo Kanduang!

Ya?” tukas dan tanya Sutan Panyalai.

“Ya!”

“Apakah we e ada hubungan pribadi dengan Bundo Kanduang?”

“Bundo enggan menjawabnya di depan umum, biar Rabab sajalah yang menyampaikan.”

“Ya Jang?”

“Tak etis dijawab di forum ini!”

“O, begitu.”

“Saya mohon pengertian Panitia Pilwana dan undangan, presentasi saya tumpangkan kepada Da Ujang,” sela Bundo Kanduang.

“Bagaimana undangan sekalian?” kata Sutan Panyalai melempar.

Tak seorang pun yang berbicara.

Beberapa jenak sunyi.

“Karena semua diam berarti setuju. Sebelum ditutup kita minta Ketua Bamus menyampaikan arahannya. Kepada Jo Nek dipersilahkan,” kata Sutan Panyalai.

Ajo Kenek berdiri di tempat duduknya.

“Sesuai peraturan panitia tidak berhak menggugurkan balon.

Keenamnya lusa kita usulkan dengan catatan, balon nomor undian dua sampai lima besok sore menyerahkan kemasan ulang sehingga berbeda

dengan visi, misi dan program Bujang Salamaik! Setuju?”

“Setuju!” jawab orang banyak yang hadir.

“Baik. Sutan Panyalai silahkan tutup presentasi!”

Sutan Panyalai pun menutup presentasi dengan mengucapkan Alhamdulillah!

Orang-orang pun satu-persatu berdiri, lalu melangkah meninggalkan ruangan presentasi di ruang rapat Kantor Pemerintah Nagari Punggung Berpasir itu. (bersambung)

Komentar