Tinta Rakyat – Melihat Bujang Salamaik seperti itu, Ajo Fuddin dan Yuang Kubu seketika bertepuk tangan.
Orang-orang pun seketika pula bertepuk tangan.
Tepuk tangan berhenti setelah Sutan Panyalai Ketua Panitia Pilwana menurunkan telapak tangannya tiga kali.
“Silahkan lanjutkan,” kata Sutan Panyalai setelah tepuk tangan berhenti.
Bujang Salamaik melanjutkan presentasinya.
“Nyaman dan sejahtera masyarakatnya akan saya wujudkan melalui beberapa misi yang ditindaklanjuti dengan program kerja. Untuk lebih jelasnya saya tampilkan di layar InFokus. Silahkan Bapak-Bapak,
Ibu-Ibu dan Saudara-Saudara analisis. Saya siap menerangkannya jika ada belum sepaham. Acara saya serahkan kembali kepada Panitia Pilwana,” tuturnya.
“Baik. Kita istirahat lima menit untuk memberi kesempatan kepada peserta memahami visi, misi dan program Bujang Salamaik.
Selanjutnya dapat merumuskan pertanyaan atau pernyataan,” ujar Sutan Panyalai.
Ajo Fuddin dan Yuang Kubu spontan bertepuk tangan berulang-ulang.
Undangan pun spontan bertepuk tangan berulang-ulang.
Sejenak ruangan tempat para Balon Wali Nagari Punggung Berpasir mempresentasikan visi, misi dan programnya itu meriah oleh tepuk tangan berulang-ulang.
Sutan Panyalai menurunkan telapak tangan kanannya tiga kali.
Tepuk tangan pun berhenti.
Sebagian undangan memandang layar InFokus.
Sebagian undangan lainnya menekur menatap lantai.
Ajo Fuddin dan Yuang Kubu saling berpandangan sambil mengulum senyumnya masing-masing.
Bujang Salamaik memandang para undangan yang duduk di kanan, tengah dan kiri depannya.
Tampak Ajo Kenek di barisan meja sebelah kiri berbisik-bisik dengan Khatik Madi – wakil ketuanya – yang duduk di samping kirinya di barisan meja pengurus Bamus Nagari Punggung Berpasir.
“Silahkan sampaikan tanggapan!” kata Sutan Panyalai beberapa jenak kemudian waktu memahaminya habis.
Salah seorang dari peserta segera berdiri.
“Nama saya Udin Pagai, utusan dari kelompok-kelompok tani yang ada di Nagari Punggung Berpasir. Sebelum saya bertanya, saya ingin tahu sampai sejauh mana Balon Wali Nagari mengenal warga dan potensi wilayahnya. Boleh?”
“Boleh. Silahkan,” kata Sutan Panyalai.
“Berapa persen warga Nagari Punggung Berpasir yang mengandalkan hidupnya dari hasil pertanian dan perkebunan?”
“Menurut laporan BPS atau Biro Pusat Statistik sekitar 65 persen. Sisanya bekerja sebagai ASN, buruh tani, pedagang, petugas fungsional adat dan keagamaan.”
“O, begitu. Baik. Setelah terpilih sebagai wali nagari, apa yang akan Saudara Ujang lakukan sehingga petani merasa nyaman dan sejahtera? Sekian. Terima kasih,” katanya lalu duduk kembali.
“Silahkan ditanggapi,” kata Sutan Panyalai, lalu menggeser mikrofon ke Bujang Salamaik di kirinya.
Bujang Salamaik meraih mikrofon itu lalu meletakkannya di depan tempat duduknya.
“Jo Pagai,” kata Bujang Salamaik menghimbau.
“Ya,” kata Udin Pagai dari tempat duduknya.
“Saya mulai dengan kata nyaman. Nyaman berkaitan dengan pikiran dan perasaan yang berhubungan dengan adat dan agama…”
“Adat dan agama apa yang Ujang maksud?” sela sekaligus tanya Udin Pagai.
“Tentulah adat Timur yang santun dan agama berketuhanan yang tauhid! Kalau di nagari kita disebut adat bersandi syarak, syarak bersandi Kitabullah. Jangan sampai terjadi pembiaran sehingga globalisasi dan modernisasi menjajah dan memperbudak gaya hidup dan prilaku kita…”
“Maksud Ujang, kita tidak perlu meniru gaya hidup dan prilaku orang Barat yang tidak sesuai dengan ajaran adat Timur yang santun dan agama berketuhanan yang tauhid itu?”
“Bukan itu. Kita tak perlu mengikuti pola hidup manusia modern yang ditandai dengan transportasi dan komunikasi yang canggih. Kita pertahankan kearifan lokal sehingga rasa nyaman akan hadir dengan sendirinya…”
“Tolong terang jelaskan, kearifan lokal yang Ujang maksud?”
“Hidup sederhana bukan bermewah-mewah tetapi berhutang ke sana sini. Paham Jo Pagai?”
“Untuk sementara Ajo pahamkan saja. Bagaimana dengan kata kedua: sejahtera?”
“Sejahtera secara batin bukan fisik. Untuk mencapai sejahtera secara batin kita perlu sejahtera secara fisik. Untuk itu Ujang akan membangun fasilitas penunjangnya…”
“Tentu butuh dana?” tukas Udin Pagai.
“Ya! Dananya dari Dana Alokasi Umum Nagari atau DAUN, dan atau dari Dana Desa atau DD. Keduanya berasal dari pemerintah. DAUN dari pemerintah kabupaten, DD dari pemerintah pusat.”
“Apa-apa saja fasilitas penunjang itu?”
“Sesuai kebutuhan masyarakat. Misalnya membuka jalan baru untuk memperlancar pengangkutan hasil sawah dan ladang. Selain itu, merehab dan merevitalisasi fungsi surau sehingga jadi pusat pengsahan dan pengembangan fisik, mental dan spritual generasi muda pewaris adat dan agama!”
“Apa rencana kegiatannya?”
“Pelatihan seni, adat dan budaya seperti Silat, Indang, kajian dan pidato adat, seni membaca dan tafsir Al-Quran, bagi yang putus sekolah karena termasuk keluarga tidak mampu disediakan belajar Paket A, B
dan C, serta pendidikan dan pelatihan kecakapan hidup untuk remaja putri.”
“Saya sudah paham. Terima kasih,” kata Udin Pagai sambil mengacungkan jempol tangan kanannya ke atas.
“Berikutnya tanggapan dari ninik mamak Nagari Punggung Berpasir. Kepada yang mewakili dipersilahkan,” kata Sutan Panyalai lalu menarik mikrofon ke dekat Bujang Salamaik.
Ketua Lembaga Adat Nagari atau LAN Punggung Berpasir Bhr Dt. Rky Nan Mulia mengangkat tangannya.
“Silahkan Mak Datuak,” kata Bujang Salamaik.
“Di nagari kita ini terdapat enam suku dipimpin sebelas penghulu yang bergelar datuak. Ya?”
“Ya, mak datuak.”
“Akibat pusaka tinggi berupa sawah atau ladang banyak yang tergadai bahkan terjual untuk biaya perumahan, pendidikan dan pernikahan anak-kemenakan, penghulu nyaris tak berperan lagi dalam membina dan mengarahkan kehidupan sanak-kemenakannya. Ya?”
“Saya dengar demikian adanya mak datuak?”
“Apa rencana Ujang sehingga harkat dan martabat penghulu berharga di tengah-tengah kaum atau sanak- kemenakannya?”
“Dibuat peraturan nagari tentang kewajiban melaksanakan syarak mangato adaik mamakai atau SMAM bagi masyarakat Nagari Punggung Berpasir. Pembuatnya Wali Nagari dan Bamus. Sedang LAN dan BMASN disediakan biaya bersidang paling kurang lima kali dalam setahun untuk merumuskan kebijakan tentang adat dan agama!”
“Cukup. Terima kasih,” kata Bhr Dt. Rky Nan Mulia Ketua LAN Punggung Berpasir.
“Masih ada tanggapan?” kata Sutan Panyalai.
Uncu Ilyas Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat atau LPM Nagari Punggung Berpasir mengangkat tangannya.
“Untuk membina dan mengarahkan generasi muda dan olah raga, apa rencana kegiatan yang akan Ujang laksanakan?” katanya bertanya.
“Disediakan anggaran untuk LPM melaksanakan kegiatan pembinaan dan pengembangan pramuka, generasi muda, seni budaya, dan olah raga!”
“Cukup. Terima kasih,” kata Uncu Ilyas.
“Masih ada tanggapan?” kata Sutan Panyalai.
Tak seorang pun yang berbicara.
Beberapa jenak sunyi.
“Kalau begitu. Kita persilahkan Saudara Bujang Salamaik kembali ke tempat,” kata Sutan Panyalai.
Bujang Salamaik berdiri, lalu memberi salam kepada orang-orang yang hadir dengan kedua telapak tangan di dada.
Setelah mendapat balasannya dengan cara yang sama, Bujang Salamaik melangkah menuju tempat duduk Ajo Fuddin dan Yuang Kubu, lalu bergantian menyalaminya.
Usai bersalaman Bujang Salamaik pun duduklah. (bersambung)


Komentar