Tinta Rakyat – SEBAGAIMANA air dari curahan awan, waktu pun mengalir menuju akhir. Bujang Salamaik pun bersama lima balon lainnya di Kantor Wali Nagari akan mempresentasikan visi, misi dan program di hadapan
Panitia Pilwana Punggung Berpasir, dan undangan yakni elemen masyarakat pemangku kepentingan.
Mereka – termasuk pemantau dan LSM – sudah duduk pada tempatnya masing-masing.
Ketua Bamus Nagari Punggung Berpasir Ajo Kenek – yang duduk di tengah-tengah di barisan meja panitia pelaksana – melihat jam tangannya.
Hari ternyata sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB.
Maka sesuai undangan, sudah saatnya acara dimulai.
“Assalamualaikum,” katanya.
“Walaikumsalam!” jawab sebagian banyak orang.
Ajo Kenek langsung kepada maksud dan tujuannya.
“Sebagaimana telah kita ketahui bersama, berkat Ketua Bamus Nagari Induk Lubuk Beralung orang Korong Punggung Berpasir, korong kita bersama empat korong lainnya dimekarkan jadi Nagari atau nama lainnya dari Desa. Paham?”
“Paham!” jawab sebagian banyak orang yang hadir.
“Karena Pemerintah Pusat telah mensahkan pemekarannya, perlu dipilih kepala pemerintahannya yang disebut Wali Nagari. Untuk itu, kami bentuklah panitia pelaksana pemilihannya. Dan hari ini adalah
proses berikut dalam rangka pemilihan dimaksud. Paham?”
“Paham!” jawab sebagian banyak orang.
“Perlu kita ketahui bersama bahwa Calon Wali Nagari dijaring melalui bakal calon atau Balon Wali Nagari yang mendaftar. Jumlah calon sebanyak-banyak lima orang, sedang jumlah Balon yang mendaftar sebanyak enam orang. Berarti lebih satu orang. Bamus dan Panitia
Pilwana tidak berhak mengurangkannya. Yang berhaknya adalah Pemerintah Kabupaten dengan mengadakan tes tertulis dan wawancara.
Setelah itu, lima terbaiknya ditetapkan sebagai Calon Wali Nagari. Paham?”
“Paham!” jawab sebagian banyak orang.
“Agar masyarakat tidak memilih kucing dalam karung, maka sesuai dengan Peraturan Bupati, para Calon Wali Nagari wajib menyampaikan visi, misi dan programnya di hadapan Panitia Pilwana dihadiri perwakilan elemen masyarakat dan pemangku kepentingan. Paham?”
“Paham!” jawab sebagian banyak orang.
“Mari kita pertajam dan perdalam visi, misi dan program yang disampaikan para Calon Wali Nagari dengan menyampaikan pendapat, usul dan saran. Setuju?”
“Setuju!” jawab sebagian banyak orang.
“Demikian pengantar dari saya. Acara selanjutnya saya serahkan kepada Panitia Pilwana. Assalammualaikum!”
“Walaikum salam!” jawab sebagian banyak orang.
Ajo Kenek bergantian menyalami – Sutan Panyalai dan Benny Putra yang Ketua dan Sekretaris Panitia Pilwana – yang duduk di samping kiri dan kanannya, lalu berdiri dan berjalan beberapa langkah, kemudian duduk di tengah barisan meja pengurus Bamus di sebelah kanan barisan meja Panitia Pilwana.
“Assalamualaikum!” kata Sutan Panyalai Ketua Panitia Pilwana setelah Ajo Kenek duduk di tempatnya.
“Walaikum salam!” jawab sebagian banyak orang.
“Kami sebelum Ketua Bamus menyampaikan pengantar sekaligus pengarahan, telah melaksanakan undian. Untuk tidak mengulur waktu, maka sesuai hasil undian, kita persilahkan Bujang Salamaik peserta nomor satu menyampaikan visi, misi dan programnya!”
Bujang Salamaik – yang duduk di kursi panjang paling belakang – berdiri lalu memberi kode dengan mengangkat tangan kanannya ke atas.
Ajo Fuddin dan Ajo Karanggo – yang duduk di barisan paling belakang – segera berdiri.
Dengan tangan kanan memegang dokumen terjilid rapi berisi visi, misi dan program Bujang Salamaik Balon Wali Nagari Punggung Berpasir, keduanya melangkah ke depan, lalu membagikan dokumen itu kepada undangan yang duduk berbanjar di kursi panjang dari muka ke belakang meja Panitia Pilwana.
Usai membagikannya, Ajo Fuddin dan Ajo Karanggo segera kembali ke tempat duduknya.
Setelah kedua tim suksesnya itu duduk, Bujang Salamaik dengan mantap melangkah ke depan melalui pojok kiri, lalu memberikan dokumen itu kepada Ketua BMASN, Ketua LAN, dan Ketua LPM yang duduk di belakang barisan meja sebelah kiri meja panitia Pilwana.
Selanjutnya Bujang Salamaik melangkah ke kanan menuju barisan meja pengurus Bamus, lalu memberikan dokumen itu kepada ketua dan sekretarisnya, kemudian melangkah ke kanan menuju barisan meja Panitia Pilwana.
Sebelum duduk, ia serahkan dokumen tadi kepada ketua dan sekretaris Panitia Pilwana di sebelah kanan dan kirinya.
Bujang Salamaik pun duduklah, lalu mengeluarkan flashdisk dari saku kiri bajunya, dan memasukkannya ke dalam Laptop di hadapannya, kemudian ia buka file visi, misi dan programnya, lalu menayangkan covernya di layar inFokus di samping kiri belakang meja Panitia Pilwana.
“Assalamualaikum,” kata Bujang Salamaik memulai presentasinya.
“Waalaikum salam,” jawab sebagian banyak yang hadir.
“Kita mulai dengan visi sebagaimana tertampil di layar monitor ini,” kata Bujang Salamaik sambil tangan kanannya menunjuk ke belakang di mana layar InFokus telah terbentang.
Katanya, visi itu ia rumuskan melalui sorot balik. Visi ini adalah pandangan ke depan. Sebelum saya memandang ke depan, saya memandang ke belakang dan menilai kenyataan kemarin.
Orang-orang yang hadir menunggu dengan diam.
Bujang Salamaik melanjutkan. Katanya, globalisasi dan modernisasi telah membuat generasi muda kita krisis jati diri. Dahulu gaya hidup dan prilaku kita berpedoman kepada ajaran adat Timur yang santun dan ajaran agama berketuhanan yang tauhid.
“Sekarang gaya hidup dan prilaku generasi penerus kita cenderung materialisme, sekuler, pragmatis, konsumtif dan hedonis. Apabila saya terpilih sebagai wali nagari saya berkeinginan mewujudkan Nagari Punggung Berpasir yang hidup nyaman dan sejahtera masyarakatnya berdasarkan adat Timur yang santun dan berketuhanan yang tauhid,” ujarnya sambil mengulum senyumnya. (bersambung)







Komentar