Tinta Rakyat – Kakek Emilia Maya Patopang menarik napas beberapa jenak.
Setelah perutnya terasa gembung, ia keluarkan perlahan-lahan melalui hidungnya.
Pihak-pihak yang terkait, memandang dengan diam.
“Ajo Manih,” kata kakek Emilia Maya Patopang dari tempat duduknya setelah tenang napasnya.
Ajo Manih Koto yang sedang menekur menatap lantai, tidak mendengarnya.
“Ajo Manih,” ulang kakek Emilia Maya Patopang.
Ajo Manih yang sedang menekur menatap lantai kembali tak mendengarnya.
“Jo, kakek Maya Mil memanggil,” bisik Rizal Tanjung yang duduk disamping kiri Ajo Manih Koto.
“Ya, Kek,” kata Ajo Manih Koto setelah menegakkan kepalanya, lalu memandang ke arah mihrab.
“Apa para tunduik bujang udah baca proposal ini?”
“Kami orang yang 39 melalui internet udah baca. Da Bujang belum…”
“Kenapa?”
“Lagi sibuk di kedai karena banyak pelanggan memesan garmen.”
“Gimana pendapat kalian orang 39?”
“Kami ngikut Da Bujang.”
“Kok gitu? Bukankah kalian udah bersumpah dengan Al-Quran untuk pulang Bako.”
Para tunduk bujang menekurkan kepalanya.
Demikian juga para kakek-nenek dan ayah-ibu mereka.
“Gadih…”
“Ya, Kek,” kata Gadih Minang yang sedang membuka file proposal pulang basamo di dalam Laptopnya.
“Kalian bermaksud akan berbuat kebajikan dan kebaikan di nagari asa nenek?”
“Ya, Kek.”
“Berarti para tunduik, sebelum resmi pulang ka Bako, pulang basamo dahulu ka ranah Minangkabau?”
“Ya, Kek.”
“Biayanya swadana. Apa maksudnya?”
“Biayanya dari kami.”
“Udah ada dananya?”
“Kami sejak SMP menabung seratus ribu rupiah per bulan. Jumlahnya kini, rata-rata 12 juta rupiah per orang. Uangnya kami simpan di Bank Syariah PPM Kota Kembang.”
“Mana bendahara kalian?”
Betty Maya Jambak – yang duduk di samping Emilia Maya Patopang – mengangkat tangannya.
Para tunduik bujang menarik napasnya.
Para tunduik padusi mengulum senyumnya.
“Benar yang disampaikan Gadih?”
“Ya, Kek,” jawab Betty Maya Jambak.
Kakek Emilia Maya Patopang mengulum senyumnya, lalu melirik ketiga pengurus PPM lainnya.
Ketiganya pada mengulum senyumnya.
“Gadih…”
“Ya, Kek.”
“Berapa lama kalian pulang basamo?”
“Kira-kira enam-tujuh bulan, bisa lebih tergantung kebutuhan.”
“Apa uang tabungan kalian itu cukup?”
“Penambahnya, rapelan uang jajan kami selama pulang basamo. Kalau udah di nagari nenek, kami nggak mungkin kelaparan. Bako kan ada!”
Mendengar jawaban Gadih Minang itu, kawan-kawannya pada mengulum senyumnya.
“Untuk sementara cukup, Ungku,” kata kakek Emilia Maya Patopang yang gelar penghulunya Datuak Rajo Angek Garang ini.
“Baik. Selanjutnya, pengurus PPM lainnya,” kata Tuangku Sulaiman.
Ayah Julia Maya Panyalai, Ketua PPM Kota Kembang, mengacungkan tangannya ke atas.
“Silahkan.”
Ayah Julia Maya Panyalai menarik napas beberapa jenak.
Orang-orang menunggu dengan diam.
“Gadih,” katanya setelah mengeluarkan kembali napasnya.
“Ya, Yah.”
“Pulang basamo ka ranah Minangkabau ini, pasti lebih banyak susahnya daripada senangnya?”
“Ya, Yah.”
“Apa kalian udah siap mental?”
“Insya-Allah, Yah.”
“Apa iya?” tukas sekaligus tanya ayah Julia Maya Panyalai sambil melirik kawan-kawan Gadih Minang.
“Iya Yah!” tukas kawan-kawannya serentak.
“Baik. Untuk pendalaman pemahaman, tayangkan di layar InFokus, apa dasar pemikiran atau latar belakang keinginan kalian ini?”
Para tunduik bujang, seketika menegakkan kepalanya menghadap ke layar InFokus. (bersambung)



Komentar