GALAUNYA HATI TUNDUIK PADUSI
Tinta Rakyat – APABILA angan telah mulai berlantas, saatnyalah digunakan penggalan untuk mengait asa. Sehingga kesannya semakin nyata.
Apa yang telah dilakukan Gadih Minang itu telah mulai membuahkan harapan.
Setelah kakek Gadih Minang beriya-berbukan dengan ketiga pengurus PPM lainnya, diperoleh kesepakatan, nanti malam setelah shalat Isya, para pengurus PPM akan membahas proposal mereka beserta lampirannya.
Makanya malam itu di Surau Gadang PPM Kota Kembang, begitu selesai berdoa setelah shalat Isya, Gadih Minang, Julia Maya Panyalai dan Betty Maya Jambak segera berdiri, lalu menyibak kain pembatas jemaah lelaki dengan perempuan.
Ajo Uddin bertugas memasang layar InFokus di pojok kanan mihrab.
Selanjutnya, pihak-pihak yang akan mendengarkan pembahasan proposal, berdiri dan melangkah ke tempat duduk masing-masing.
Keempat pengurus PPM duduk di samping kiri mihrab.
Kakek dan ayah mereka duduk bersandar di sebelah kiri dan kanan mihrab.
Nenek dan ibu mereka duduk dua shaf di sebelah barat tenggara surau.
Para tunduik bujang dengan kain sarung dan kopiah hitam masih melekat di badan, duduk berbanjar dua shaf di depan mihrab.
Para tunduik padusi dengan mukenah masih melekat di badannya, duduk berbanjar dua shaf di depan para tunduik bujang.
Setelah semuanya duduk pada tempatnya, kakek Emilia Maya Patopang mengkode cuternya dengan menggerakkan telapak tangan kanannya ke dadanya.
Maka Emilia Maya Patopang – melalui tunduik bujang yang duduk di depannya – menyerahkan sebuah map kepada kakeknya berisi empat rangkap proposal beserta lampirannya.
Setelah di tangannya, kakek Emilia Maya Patopang menyerahkan proposal yang asli kepada kakek Ajo Manih Koto.
Tiga foto kopinya, beliau ambil satu.
Sisanya, beliau serahkan kepada kedua pengurus PPM lainnya.
Keempat pengurus PPM pun segeralah membolak-balik isinya.
Gadih Minang dan kawan-kawan memperhatikan dengan diam.
Kakek Ajo Manih Koto selesai membolak-baliknya, lalu menarik napas beberapa jenak melalui hidungnya.
Kakek Gadih Minang dan ayah Julia Maya Panyalai memandangnya dengan kening berkerut.
Setelah mengeluarkan napas yang ditarik tadi melalui hidungnya, kakek Ajo Manih Koto mengkode dengan menggerakan telapak tangan kanannya ke dadanya.
Kakek Gadih Minang dan ayah Julia Maya Panyalai pun berdiri, lalu melangkah kemudian duduk di depan kakek Ajo Manih Koto dan kakek Emilia Maya Patopang.
Keempatnya pun baganjua-lah.
Para tunduik padusi menunggu dengan dada dag-dig-dug.
Para tunduik bujang menekurkan kepalanya.
Beberapa saat kemudian keempat pengurus PPM itu selesai baganjua.
Kakek Gadih Minang dan ayah Julia Maya Panyalai kembali ke tempat duduknya.
“Tuangku, tolong periksa proposal ini,” kata kakek Ajo Manih Koto.
Tuangku Sulaiman yang duduk bersandar di podium mihrab berdiri, lalu melangkah kemudian duduk di belakang kakek Ajo Manih Koto.
Kakek Ajo Manih Koto menyerahkan proposal di tangannya kepada Tuangku Sulaiman.
Setelah menerimanya, Tuangku Sulaiman beberapa saat membolak-balik halaman pentingnya.
Para tunduik padusi memandangnya dengan diam.
Begitu juga para tunduik bujang, memandangnya dengan diam.
Beberapa saat menit kemudian, Tuangku Sulaiman selesai membacanya.
Ia serahkan kembali proposal itu kepada kakek Ajo Manih Koto.
Selanjutnya Tuangku Sulaiman melangkah, lalu berdiri di depan mihrab.
“Menurut saya, semua pihak terkait perlu menyamakan pemahaman terhadap proposal yang dirancang para tunduik padusi ini. Kita adakan dialog, saya bersedia jadi moderatornya,” katanya.
Kakek Ajo Manih Koto melirik ketiga pengurus PPM lainnya.
Ketiga pengurus PPM lainnya itu menganggukkan kepalanya.
“Silahkan Ungku,” kata kakek Ajo Manih Koto.
Tuangku Sulaiman melangkah, lalu berdiri di mimbar surau.
Setelah berdiri, ia tarik napas beberapa jenak melalui hidungnya beberapa jenak.
“Para tunduik tolong disimak elok-elok,” kata kakek Ajo Manih Koto.
Para tunduik bujang segera memutar duduknya sehingga menghadap ke mihrab.
Para tunduik padusi memperhatikan Tuangku Sulaiman dengan diam.
Tak seorang pun yang bicara.
Beberapa jenak sunyi.
“Assalamualaikum,” kata Tuangku Sulaiman setelah mengeluarkan napas yang ditariknya tadi juga melalui hidungnya.
“Waalaikum salam!” jawab sebagian banyak hadirin nyaris serentak.
“Malam ini, sesuai undangan, para pengurus PPM dan pihak-pihak yang terkait akan membahas proposal yang dirancang para tunduik padusi. Kecuali kami berlima, kakek-nenek dan ayah-ibu pasangan tunduik, dan pihak tersangkut kait lainnya, baik langsung atau tidak langsung, belum membaca dan memahaminya. Ya?”
“Ya!” jawab mereka serentak.
“Jadi, kita perlu berdialog. Untuk menghemat waktu, kita mulai dari kakek Emilia Maya Patopang, Ketua PPM Nusantara. Kepada Pak Datuak dipersilahkan,” kata Tuangku Sulaiman. (bersambung)




Komentar