Tinta Rakyat – MENUNGGU saatnya semakin tiba, seperti menggantangi hari-hari sembari mengharap keberuntungan tak menjauh pergi.
Begitulah gejolak dalam badan diri Gadih Minang.
Besoknya setelah magrib, Gadih Minang mengalai-ngalai di ruang tamu.
Kepalanya menekur menatap meja bertaplak kain songket bersulam benang emas, sedangkan kedua kakinya yang terbungkus celana panjang dari kain sutra terjulur di bawah meja.
Terdengar suara seseorang mendehem-dehem di luar ruang tamu.
Gadih Minang tak mendengarnya.
Kembali terdengar suara seseorang mendehem-dehem.
Terdengar oleh Gadih Minang.
Gadih Minang mengangkat kepala dan melihat ke pintu, ke arah datangnya suara.
Dari kacanya yang tersimbah kain gorden, tampaklah tunduik-nya, Bujang Minang, berdiri dengan kepala menekur.
Gadih Minang berdiri, lalu membuka pintu.
“Assalamualaikum!” kata Bujang Minang.
“Waalaikum salam! Masuklah Da,” jawab Gadih Minang.
Bujang Minang masuk, lalu duduk di kursi yang menghadap ke dinding kamar nenek-kakeknya.
Gadih Minang duduk di depan dinding kamar nenek-kakeknya itu.
Keduanya duduk berhadapan, dibatasi meja bertaplak kain yang dibordir keempat pinggirnya dan bersulam benang emas di tengah-tengahnya.
Nenek Gadih Minang yang duduk di ruang tengah sambil merenda di depan TV, berdiri dan melangkah ke ruang tamu, lalu duduk di kursi di samping kiri cuter-nya itu.
Bujang Minang menekur menatap lantai.
Tak seorang pun yang bicara.
Beberapa jenak sunyi.
“Kok Nak Bujang diam aja? Katakan, apa maksud Nak Bujang datang lagi bertamu,” kata nenek Gadih Minang.
“Ujang memang ada maksud datang lagi bertamu, Nek,” kata Bujang Minang.
“Ungkapkanlah.” ujar nenek.
Bujang Minang menghela napas beberapa jenak.
Gadih Minang dan neneknya menunggu dengan diam.
“Apa Gadih udah tahu, dari 40 pasang tunduik, dua pasang tunduik Minang. Sisanya tunduik Maya-Minang.”
“Ya!”
“Apa penandanya?”
“Dari tiga kata nama tunduik padusi-nya, Maya pada kata keduanya..!”
“Apa tetap lanjut idealisme yang Gadih lafalkan dengan Al-Quran itu?”
“Lanjut..!”
Bujang Minang menggaruk kepalanya.
Gadih Minang tersenyum, terpamer lesung pipitnya yang menggemaskan Bujang Minang apabila tak sengaja memandangnya.
“Gimana menurut Nenek?” kata Bujang Minang bertanya.
Nenek Gadih Minang mengangkat bahunya.
Bujang Minang menekurkan kepalanya.
Gadih Minang mengulum senyumnya.
Tak seorang pun yang bicara.
Beberapa jenak kembali sunyi.
Tiba-tiba terdengar bunyi klason kendaraan memasuki halaman rumah.
Gadih Minang berdiri, lalu melangkah ke pintu, dan membukanya.
“Nek, Ayah dan Ibu pulang,” kata Gadih Minang setelah membuka pintu.
Bujang Minang berdiri dan melangkah menuju pintu.
Gadih Minang turun ke halaman.
Ayah dan ibu Gadih Minang melangkah beriringan menaiki jenjang rumah.
“Assalamualaikum,” kata ayah Gadih Minang di depan pintu.
“Waalaikum salam,” jawab Bujang Minang.
Gadih Minang beserta ayah dan ibunya masuk beriringan ke rumah.
Bujang Minang memberi salam dengan kedua telapak tangan di dada.
Ayah dan ibu Gadih Minang membalasnya dengan cara yang sama.
“Silakan duduk,” kata ayah Gadih Minang.
Bujang Minang duduk kembali di kursinya tadi.
Ayah dan ibu Gadih Minang pun duduk membelakang jendela.
Angin sepoi-sepoi masuk dari kisi-kisi jendela.
Dinginnya terasa setelah menerpa tubuh mereka.
Mereka sempat menggigil dibuatnya.
Ibu Gadih Minang mengkode ayah Gadih Minang dengan menggerakkan alis matanya ke atas.
Ayah Gadih Minang menarik napas beberapa jenak.
Mereka memandang dengan diam.
Beberapa jenak kembali sunyi.
Ibu Gadih Minang menyikut ayah Gadih Minang.
“Udah ponakan bicarakan dengan ayah-ibu, rencana nikah kalian?” kata ayah Gadih Minang seketika.
“Udah. Ayah dan ibu setuju kami segera menikah.”
Mendengarnya, darah Gadis Minang berdesir kencang.
Teringat seketika, idealisme yang ia ikrarkan dahulu dengan Al-Quran setelah bersumpah dengan Al-Quran untuk pulang ka Bako.
Ibu Gadih Minang diam.
Bujang Minang juga diam.
Beberapa jenak kembali sunyi.
Ayah Gadih Minang mengkode ibunya dengan menggerakkan pula alis matanya ke atas.
“Kapan ayah-ibu Ponakan kemari?” tanya ibu Gadih Minang.
“Insya Allah lusa. Ujang permisi…”
“Kok cepat amat pulangnya?” sela ibu Gadih Minang.
“Ujang mau membereskan pembukuan pabrik konveksi kakek hari ini.”
Bujang Minang berdiri, lalu memberi salam dengan kedua telapak tangan di dada.
Ayah-ibu Gadih Minang membalas dengan cara yang sama.
Bujang Minang melangkah menuju pintu.
Ibu Gadih Minang mengkode Gadih Minang dengan mengerutkan alis matanya ke atas, lalu memandang ke arah pintu.
Gadih Minang segera berdiri dan melangkah menuju pintu.
Terdengar bunyi mesin sepeda motor tunduik-nya.
Setelah bunyinya hilang, Gadih Minang balik kanan, lalu bergegas melangkah menuju kamarnya di lantai dua.
Sesampai di sana, ia hempaskan diri di kasur, lalu menangis terisak-isak.
“Cuter, Cuter!” terdengar suara neneknya menyeru namanya.
Gadih Minang segera bangkit, lalu duduk menghadap ke pintu.
Neneknya muncul dengan perlengkapan renda di tangan kanannya.
“Jangan cemas. Nenek dan Kakek akan memperjuangkan Cuter dan kawan-kawan pulang basamo dahulu ke ranah Minang!”
Gadih Minang tersenyum, lalu memeluk erat neneknya. (bersambung)


Komentar