RESAH DAN GELISAHNYA GADIH MINANG
Tinta Rakyat – ANGIN yang menggulir waktu ada kalanya memberi dan menyisihkan asa. Di sanalah pikiran dan jiwa disinggahi resah dan gelisah. Begitulah badan diri Gadih Minang.
Soalnya, sudah seminggu lebih proposal ditinggalkan di rumah kakek Emilia Maya Patopang.
Jangankan dirinya, Emilia Maya Patopang sendiri pun belum tahu dari kakeknya, kapan keempat pengurus PPM membahas proposal itu. Makanya, siang itu di ruang tamu, Gadih Minang kurang bergairah menyelesaikan skripsinya yang tinggal mengetik daftar pustaka.
Gadih Minang dengan diam memandang laptop di atas meja yang menampilkan file daftar pustaka di layar monitornya.
Ia tarik napas beberapa jenak melalui hidung, lalu mengumpulkannya di rongga perut.
Setelah rongga perutnya mengembung, ia keluarkan pelan-pelan melalui hidung pula, lalu dengan diam memandang Laptopnya.
Lima menit pun berlalulah.
“Cuter, udah selesai skripsinya?” sapa neneknya tiba-tiba setelah berdiri di belakangnya.
Gadih Minang seketika terkejut.
“Be…belum, Nek,” jawab Gadih Minang terbata-bata.
“Kenapa Cuter menekur aja? Ada apa?”
Gadih Minang diam.
“Nenek tidak ingin badan Cuter susut. Katakan, apa yang Cuter risaukan?” kata neneknya sambil memijit bahunya.
Gadih Minang kegelian dibuatnya.
“Ayo katakan,” kata neneknya lagi.
“Proposal sebelum resmi pulang ka Bako pulang basamo dahulu ke ranah Minang, Nek.”
“Ada apa dengan proposal itu?”
“Udah seminggu lebih kami tinggalkan di rumah Maya Mil. Sampai sekarang belum ada kabar beritanya.”
“Apa Maya Jul udah Cuter kontak? Ayahnya kan pengurus PPM juga.”
“Udah, Nek. Kak Maya Jul juga nggak tahu.”
“Apa Ajo Manih Koto, udah Cuter kontak? Kakeknya kan pengurus PPM juga.”
“Nggak-lah Nek…”
“Kenapa?”
“Naga-naganya tunduik Kak Maya Jul itu kompak dengan tunduik Cuter, tidak mendukung ikrar sebelum resmi pulang ka Bako pulang basamo dahulu ke ranah Minang.”
“Kontak Kakek Cuter. Siapa tahu udah dapat
informasinya.”
“Baik, Nek.”
Dengan segera Gadih Minang mengontak kakeknya.
Tersambung.
“Assalamualaikum, Cuter.”
“Waalaikum salam, Kek.”
‘Sehat?”
“Kurang sehat, Kek.”
“Kenapa? Ada apa?”
“Proposal para tunduik sebelum resmi pulang ka Bako pulang basamo dahulu ke ranah Minang, Kek.”
“Ada apa dengan proposal itu?”
“Udah seminggu kami tinggalkan di rumah Maya Mil. Kata kakeknya, sebelum ditandatangani, dibahas dahulu dengan para pengurus PPM, apa Kakek udah tahu hari pembahasannya?”
“Belum.”
“Yang mengikrarkan idealisme para tunduik padusi itu kan Cuter. Kawan-kawan ingin tahu perkembangannya, Kek.”
“Nanti Kakek kontak kakek Maya Mil. Skripsi Gadih udah siap?”
“Belum Kek.”
“Siapkan segera ya.”
“Ya Kek.”
“Assalamualaikum!”
“Waalaikum salam!”
Gadih Minang meletakkan HP-nya di atas meja.
“Sambil menunggu beritanya, Cuter selesaikan penulisan skripsi ya,” kata neneknya.
Gadih Minang menganggukkan kepalanya.
Nenek Gadih Minang melangkah menuju ruang tengah.
Gadih Minang pun dengan penuh gairah mengetik daftar pustaka skripsinya. (bersambung)



Komentar