KABA KACAUNYA MINANGKABAU (4)

KARYA : RAFENDI SANJAYA 

BERTAMUNYA MINTUO GADIH MINANG

Tinta Rakyat – WALAUPUN hujan dan badai datang menerjang, selayaknyalah biduk terus dikayuh untuk mewujudkan maksud dan tujuan.

Itulah pertanda insan yang teguh prinsipnya, serta tegar gairah dan semangat hidupnya.

Makanya Gadih Minang – malam itu – usai berdoa setelah shalat Isya, segera melepas satu-persatu perangkat shalatnya, melipatnya kemudian meletakannya di atas kasur tempat tidurnya.

Setelah tergeletak, dengan segera Gadih Minang berjalan beberapa langkah menuju meja belajar di samping kanan belakang tempat tidurnya.

Usai duduk, Gadih Minang mengeluarkan Laptop dari dalam tas yang tergeletak di atas meja, dan menghidupkannya.

Setelah Laptopnya itu operasional, Gadih Minang segera membuka folder skripsinya, selanjutnya menampilkan file tentang daftar pustakanya.

Usai file itu tertampil, Gadih Minang mengeluarkan buku notes dari dalam tasnya yang tergeletak di depan Laptop, lalu meletakkannya di samping kanan Laptopnya.

Gadih Minang membaca segera tulisan tangannya dalam buku notes itu.

Baru saja jemarinya akan mengetik nama pengarang dari buku yang jadi referensi untuk penelitian skripsinya, tiba-tiba terdengar suara ibunya memanggilnya dengan kerasnya.

“Gadih! Gadih!”

“Ya, Bunda,” jawab Gadih Minang segera.

“Keluarlah! Ada tamu khusus sekaligus istimewa!”

Gadih Minang terkesima dibuatnya.

Gadih Minang sejenak terdiam.

“Ada Gadih dengar suara Bunda?”

“Ada Bunda.”

“Segeralah ke ruang tamu!”

“Ntar Bunda, Gadih beres-beres dahulu.”

Gadih Minang segera berdiri, lalu berjalan ke lemari.

Membuka pintunya, mengambil sebuah kain selendang berwarna merah muda, lalu melilitkannya ke kepala hingga terjuntai di bawah dadanya.

Kemudian dengan segera Gadih Minang membuka kotak bedak, lalu memoles kedua pipinya.

Usai berbedak, dengan segera Gadih Minang melangkah menuruni lantai dua menuju lantai satu rumah neneknya.

Setiba di batas ruang tengah dengan ruang tamu, Gadih Minang pelan-pelan menyibak kain pembatasnya.

Tampaklah ibunya sedang duduk dengan di samping kanannya seorang perempuan sebayanya.

Di depan dan di samping kiri keduanya, duduk neneknya yang sambil merenda menghadap ke ruang tengah.

Gadih Minang melangkah ke ruang tamu.

Setelah dekat, darahnya segera berdesir kencang.

Walaupun hanya punggungnya yang tampak, tetapi dari warna baju kurung yang dipakainya, Gadih Minang menyakini bahwa tamu ibunya adalah adik ayahnya, alias ibu dari Bujang Minang, tunduiknya.

Dengan pelan-pelan Gadih Minang melangkah mendekati ketiganya.

“Assalammualaikum,” kata Gadih Minang.

Ibu tunduiknya menoleh ke arahnya.

“Waalaikum salam,” jawab ibu tunduiknya.

Gadih Minang menyalami ibu tunduiknya, lalu duduk di samping kiri neneknya.

Gadih Minang tak sanggup memandang ibu tunduiknya.

Seketika perasaannya merasa tak nyaman.

Ibu Gadih Minang menyikut calon Bisannya.

“Sudah semakin gadis calon menantu Mintuo,” kata ibu tunduiknya seketika.

Neneknya mengangkat kepalanya.

Tampak oleh Mintuo-nya, wajahnya memerah tersipu malu.

Gadih Minang kembali menekurkan kepalanya menatap lantai.

Tak seorang pun yang bicara.

Beberapa jenak sunyi.

Ibu Gadih Minang kembali menyikut calon Bisan-nya.

“Gadih…” kata ibu tunduik-nya seketika.

“Ambo, Mintuo,” kata Gadih Minang.

“Benar, si Bujang, tunduik Gadih, kemarin datang bertamu?”

“Ya, Mintuo.”

“Ngapain kalian?”

“Berdiskusi…”

“Tentang apa?”

“Idealisme: sebelum resmi pulang ka Bako para tunduik pulang basamo dahulu ke ranah Minangkabau.”

“O ikrar yang Gadih lafas dahulu dengan Al-Quran setelah bersumpah dengan Al-Quran untuk pulang ka Bako itu?”

Gadih Minang menganggukan kepalanya.

“Apa tanggapan tunduik Gadih?”

“Keheranan…”

“Keheranan?”

“Ya. Masa untuk berbuat kebajikan dan kebaikan, jauh-jauh dari perantauan datang ke ranah Minangkabau.”

“Menurut Da Bujang, bagaimana rencana kalian itu?’

“Keberatan…”

“Kenapa?”

“Sebab udah dua-tiga tahun wisuda, Da Bujang ingin kami segera menikah.”

“Itu pula yang kami bicarakan tadi,” tukas ibu tunduik-nya sambil mencubit paha ibunya.

Gadih Minang mengangkat kepalanya, lalu melirik ibunya.

Ibunya mengangguk.

“Kapan Gadih wisuda?” tanya ibu tunduik-nya.

“Lebih kurang dua bulan lagi jika skripsi Gadih siap.”

“Gimana setelah wisuda kalian nikah?”

Mendengarnya, Gadih Minang sejenak terkesima, lalu melirik neneknya.

Nenek Gadih Minang segera terjaga dari terkesimanya.

“Sebaiknya kita saja yang membahasnya. Gadih, masuklah ke kamar,” kata neneknya.

Gadih Minang segera berdiri, lalu memberi salam dengan kedua telapak tangan di dada.

Ibu tunduik-nya membalasnya dengan cara yang sama.

Dengan kepala masih menekur menatap lantai, Gadih Minang melangkah gontai menuju kamarnya di lantai dua, lalu menghempaskan diri di kasur, dan menangis terisak-isak. (bersambung)

Komentar