Tinta Rakyat – “Bagaimana ketua-ketua?” kata Wali Nagari Marapi.
Ketua-ketua lembaga mitranya dimaksud saling mengangkat bahunya.
“Bagaimana Adik-Adik tunduik padusi dan anggota pulang basamo PPMM Dunia?” tanya Wali Nagari Marapi.
Gadih Minang segera mengangkat tangannya.
“Silahkan,” kata Wali Nagari Marapi.
“Apa tujuan kami ndak rancak?” kata Gadih Minang bertanya.
“Pihak yang berseberangan, silahkan menjawab!” kata Wali Nagari Marapi.
Pemuda berambut cepak segera berdiri.
“Memang rancak, tetapi…”
“Tetapi apa?” tukas sekaligus tanya Gadih Minang.
“Memecah rasa persatuan dan kesatuan masyarakat korong. Selama ini alek baik dan alek buruak dikerjakan bersama-sama. Keluarga yang terkena sangsi tidak mungkin melaksanakannya karena tidak terlatih…”
“O begitu. Lalu?”
“Keluarga yang terkena sangsi pun merasa malu. Hidup mereka jadi tak nyaman!”
“Apa masalahnya?”
“Egaliter atau kebersamaan warga korong selama ini mau dikemanakan?” kata pemuda berambut cepak lalu duduk kembali.
“Bagaimana Gadih?” kata Wali Nagari Marapi.
“Untuk sementara cukup,” kata Gadih Minang.
“Adik-adik peserta pulang basamo anggota PPMM Dunia, ada tanggapan?” kata Wali Nagari Marapi melempar.
Viktor Tanjung mengangkat tangannya.
“Silahkan,” kata Wali Nagari Marapi.
“Bagaimana kalau pelaksana dan pengawasnya, diperkuat dengan lima pemuda korong sebagai parik paga korong?” kata Viktor Tanjung melempar.
“Bagaimana Adik-Adik anggota Persatuan Pemuda Nagari Marapi?” tukas Wali Nagari Marapi melempar.
Pengunjuk rasa diam.
Sejenak sunyi.
“Honor bulanannya dari Yayasan Pembangunan Nagari Minangkabau,” kata Viktor Tanjung lagi.
“Setuju!” kata seseorang dengan kerasnya.
Orang-orang yang hadir menoleh ke arahnya.
Rupanya Pandeka.
Ia duduk di kursi barisan paling belakang.
“Apa alasan Uda Pandeka setuju?” tanya Viktor Tanjung.
“Manti dan Dubalang jabatan fungsional. Sejak ekonomi sulit, jabatan itu mati suri. Jadi, adik-adik hidupkan kembali, atau membangkit batang terendam,” katanya dan duduk kembali.
“Bagaimana kawan-kawan dari Persatuan Pemuda Minang Nagari Marapi?” kata Viktor Tanjung.
“Kami tidak setuju!” jawab seseorang dengan kerasnya.
Orang-orang yang hadir menoleh kepadanya.
Rupanya Parewa yag duduk di kursi di depan Pandeka yang tampak cengar-cengir sambil melototkan matanya.
“Kenapa Uda Parewa tidak setuju?” tanya Viktor Tanjung.
“Manti dan Dubalang itu perpanjangan tangan mamak adat dan mamak syarak. Hak veto beliau menunjuk siapa orang yang akan menjabatnya…”
“O begitu,” sela Viktor Tanjung.
“Ya!”
“Apa masalah?”
“Pemuda korong itu jumlahnya banyak, kebutuhan terbatas, bagaimana mengangkatnya?”
Parewa lalu duduk kembali.
“Bagaimana kawan-kawan pemuda Minang Nagari Marapi?” tanya Viktor Tanjung lagi.
“Kami tetap menuntut, Pemerintahan Nagari Marapi jangan memberlakukan sangsi adat dan agama di Nagari Marapi!”
Usai menuturkannya, pemuda berambut cepak, lalu melangkah ke luar aula dengan kawan-kawannya mengiringi dari belakangnya.
Pandeka dan Parewa pun berdiri dan mengiringinya dari belakang.
Keempat pimpinan lembaga Pemerintah Nagari Marapi saling menggelengkan kepalanya.
Gadih Minang dan kawan-kawan, Viktor Tanjung dan kawan-kawan pun serentak berdiri lalu memberi salam dengan kedua telapak tangan di dada kepada keempat pimpinan lembaga Pemerintahan Nagari Marapi itu.
Setelah keempat pimpinan lembaga Pemerintah Nagari Marapi itu membalasnya dengan cara yang sama, mereka pun melangkahlah beriringan menuju tempat parkir, lalu dengan hati mangka bersepeda menuju rumah nenek masing-masing. (bersambung)




Komentar