Umbuik Mudo Nagari Nenek, Unjuk Rasa Tolak Diberlakukannya Sangsi Adat dan Agama
Tinta Rakyat – BESOKNYA, pukul sepuluh pagi, Persatuan Pemuda Minang kelima Nagari asa nenek Gadih Minang dan kawan-kawan akan berunjuk rasa serentak di kantor Wali Nagari masing-masing.
Sesuai SMS ayah Julia Maya Panyalai, Gadih Minang dan kawan-kawan, Viktor Tanjung dan kawan-kawan diwajibkan menghadiri unjuk rasa itu di kantor Nagari asa neneknya.
Pukul sembilan lewat sepuluh menit, berangkatlah mereka dengan sepeda ke Kantor Wali Nagari Marapi.
Yang padusinya di depan.
Yang bujangnya – anggota PPM Dunia – mengiringnya dari belakang.
Pukul sepuluh kurang sepuluh, tibalah mereka di tempat parkir Kantor Wali Nagari Marapi.
Setelah memarkir sepeda, mereka melangkah beriringan menuju bagian belakang yang ada pintu masuknya menuju ruang kerja Wali Nagari Marapi.
Belum sempat memasuki ruang kerja beliau, terdengar teriakan.
“Hidup umbuik mudo Minang Nagari Marapi!”
Wali Nagari Marapi keluar dari ruang kerjanya diiringi Ketua LPM, Ketua LMAN, dan Ketua LMSN Marapi.
Ketika berpapasan dengan Gadih Minang dan kawan-kawan, Viktor Tanjung dan kawan-kawan, Wali Nagari Marapi mengajak mereka ikut serta.
Mereka iringilah dari belakang.
Setiba di teras, tampak ratusan anggota Persatuan Pemuda Minang Nagari Marapi berdiri berkerumun di halaman.
Dua orang di antaranya – yang berdiri paling depan – merentang sebuah spanduk.
Gadih Minang membaca isinya “Masyarakat Korong Resah! Cabut Sangsi Adat dan Agama!”
“Assalammualaikum,” kata Wali Nagari Marapi.
“Waalaikum salam!” jawab pengunjuk rasa serentak dengan kerasnya.
“Kebetulan perwakilan peserta pulang basamo sudah hadir. Silahkan sampaikan orasi,” kata Wali Nagari Marapi.
“Orasi sudah kami sampaikan melalui spanduk. Pak Wali harus turun tangan. Pandu kami berdialog dengan mereka yang mengusulkan sangsi adat dan agama!” kata pemuda berambut cepak yang berdiri di barisan belakang.
“Baik, silahkan ke aula!”
Melangkahlah mereka dengan tertib menuju aula.
Gadih Minang dan kawan-kawan, Viktor Tanjung dan kawan-kawan dari belakang mengekori langkah Persatuan Pemuda Minang Nagari Marapi.
Mereka pun masuklah.
Di depan pentas aula di belakang barisan meja, Wali Nagari Marapi duduk berdampingan dengan Ketua LPM, Ketua LMAN, dan Ketua LMSN Marapi.
Gadih Minang dan kawan-kawan, duduk berdampingan di belakang barisan meja di pojok sebelah kanan pentas aula.
Viktor Tanjung dan kawan-kawan duduk berdampingan di belakang barisan meja di pojok kiri pentas aula.
Pengurus dan anggota Persatuan Pemuda Minang Nagari Marapi duduk di belakang barisan meja di depan pentas.
“Dialog kita mulai. Yang mewakili Persatuan Pemuda Minang Nagari Marapi silahkan sampaikan unek-unek,” kata Wali Nagari Marapi setelah semuanya duduk.
Pemuda berambut cepak mengangkat tangannya dan berdiri.
“Selama ini alek baik dan alek buruak diurus tuo korong dan labai korong…”
“Ya. Lalu?”
“Karena tidak terbiasa melaksanakannya, bisa kelabakan keluarga pelanggar sangsi adat dan agama….”
“Apa usul Saudara?” tukas dan tanya Wali Nagari Marapi.
“Pemerintah Nagari Marapi jangan berlakukan peraturan yang memberi sangsi adat dan agama!”
“O begitu?”
“Ya!”
Pemuda berambut cepak itu duduk kembali. (bersambung


Komentar