Umbuik Mudo Kabupaten Asa Nenek dan Kakek Tolak Dibentuknya Nagari Minangkabau
Tinta Rakyat – BAGAI hujan yang seketika turun lebat dan mendadak berhenti, di saatnyalah gairah hidup menggerutu.
Besoknya pukul setengah tiga, Gadih Minang, Emilia Maya Patopang, dan Betty Maya Jambak dengan hati mangka tiba di gedung DPRD Kabupaten Marapi.
Mereka ke sana dengan Kereta Kencana yang disaisi Julia Maya Panyalai guna – sesuai sms ayah Julia Maya Panyalai – menghadiri unjuk rasa penolakan pembentukan Nagari Minangkabau.
Setiba di simpang tiga jalan menuju gedungnya, tampak ratusan pemuda berbaris di samping kiri halamannya.
Julia Maya Panyalai menghentikan kereta, lalu turun kemudian menambatkannya dengan mengikat tali kekangnya di tiang tempat parkir.
“Menjelang Uda Viktor Cs datang, kita di sini dahulu memperhatikan mereka,” kata Julia Maya Panyalai.
Ketiga kawannya turun pula dari kereta, lalu mengiringi langkah Julia Maya Panyalai menuju trotoar jalan.
Jaraknya – dari tempat parkir gedung DPRD Kabupaten Marapi – sekitar 25 meter.
Beberapa langkah kemudian mereka sampai di trotoar, lalu berdiri berdampingan memperhatikan halaman gedung DPRD Kabupaten Marapi itu.
Tampak pemuda berambut cepak – dengan tangan kanan memegang Toa – melangkah lalu berdiri dengan sikap tegak menghadap kawan-kawannya.
“Danru, siapkan barisan!” teriaknya dengan Toa.
Kawan-kawannya dengan serentak menyiapkan barisannya.
Pemuda berambut cepak dengan sigap mundur tiga langkah.
“Perentang spanduk, maju ke depan!” teriaknya.
Dua kawannya dengan langkah tegap maju ke depan.
Yang berdiri di sebelah kiri menyerahkan kayu spanduk kepada kawannya yang berdiri di sebelah kanannya.
“Satu, dua, tiga..!” teriak pemuda berambut cepak.
Maka spanduk pun terentanglah.
Mereka baca isinya: “Pimpinan dan Anggota DPRD Kabupaten Marapi Tolak Pembentukan Nagari Minangkabau!”.
Sayup-sayup terdengar di belakang mereka, bunyi ringkikan kuda bersahut-sahutan, ditingkah bunyi pukulan Gandang dan Tasa bertalu-talu sesuai nada dan irama hoyak tabuik Piaman.
Mereka putar badan, lalu melirik ke arah bunyi itu.
Rupanya rombongan pulang basamo anggota PPMM Dunia.
Mereka datang dengan tiga Kereta Kencana, dan satu truk dengan masing-masing kendaraan berbendera PPMM Dunia.
Setelah turun dari kendaraan, mereka dengan tertib berjalan beberapa langkah, lalu berbaris lima banjar di samping kanan kubu Persatuan Pemuda Minang Kabupaten Marapi.
Kapolres dan Ketua DPRD Kabupaten Marapi tiba-tiba muncul beriringan dari dalam gedung dewan, lalu berdiri berdampingan sekitar tujuh meter di depan pengunjuk rasa.
Ketua DPRD melirik Kapolres Kabupaten Marapi yang berdiri di samping kanannya.
Kapolres mengkode Ipdapol Teguh Chaisar Sikumbang – Kasi Negoisasi Bag Ops – yang berdiri di samping kanannya dengan menaikan telapak tangan kanannya ke depannya.
Kasi Negoisasi – dengan tangan kiri memegang Toa – itu pun maju lima langkah ke depan, lalu berhenti dengan sikap berdiri tegak.
“Perhatian untuk kedua kelompok pengunjuk rasa,” katanya dengan Toa.
Kedua kubu pengunjuk rasa mendengar dengan diam.
“Supaya unjuk rasa berlangsung aman dan tertib, penyampaian orasi jangan sampai menyinggung SARA. Bersedia?”
“Bersedia!” jawab kedua ketua pengunjuk rasa serentak.
“Silahkan Pak Ketua!”
Kasi Negoisasi pun mundur lima langkah ke samping kanan di depan barisan pengunjuk rasa.
Ketua DPRD Kabupaten Marapi maju selangkah ke depan.
“Persatuan Pemuda Minang Kabupaten Marapi, silahkan sampaikan orasi,” katanya.
Pemuda berambut cepak dengan tegap berjalan tiga langkah, lalu berkelok ke kanan tiga langkah pula dan berbalik menghadap kawan-kawannya.
“Siap gerak!” teriaknya dengan Toa.
“Siap gerak!” ulang kawan-kawannya.
“Pimpinan dan anggota DPRD Kabupaten Marapi!” teriaknya dengan Toa.
“Pimpinan dan anggota DPRD Kabupaten Marapi..!” ulang anggotanya serentak.
“Tolak pembentukan Nagari Minangkabau!” teriaknya lagi.
“Tolak pembentukan Nagari Minangkabau!” ulang anggotanya serentak.
“Untuk sementara cukup sekian!” teriaknya.
“Untuk sementara cukup sekian!” ulang anggotanya serentak.
Pemuda berambut cepak dengan sigap melangkah kembali ke tempat berdirinya.
“PPMM Dunia, silahkan sampaikan orasi,” kata Ketua DPRD Kabupaten Marapi.
Viktor Tanjung – dengan tangan kanan memegang Toa – berjalan beberapa langkah lalu berhenti menghadap kawan-kawannya.
“Siap gerak!” katanya dengan Toa.
“Siap gerak!” ulang kawan-kawannya.
“Pimpinan dan anggota DPRD Kabupaten Marapi!”
“Pimpinan dan anggota DPRD Kabupaten Marapi!” ulang kawan-kawannya pula.
“Mohon setujui pembentukan ke-16 Nagari baru!”
“Mohon setujui pembentukan ke-16 Nagari baru!” ulang kawan-kawannya lagi.
“Bukan Nagari Minangkabau saja!”
“Bukan Nagari Minangkabau saja!” ulang kawan-kawannya lagi.
“Sekian. Terima kasih!”
“Sekian. Terima kasih!” ulang kawan-kawannya lagi. (bersambung)


Komentar