KABA KACAUNYA MINANGKABAU (19)

KARYA : RAFENDI SANJAYA

Tinta Rakyat – Fadhly Ajudan Bupati Marapi segera membuka pintu.

“O, Pak Ketua. Silahkan masuk,” kata Bupati Marapi lalu berdiri.

“Assalamualaikum,” kata Ketua DPRD Marapi.

“Waalaikum salam,” jawab mereka serentak.

Ia melangkah sambil menyalami Bupati Marapi, kakek Ajo Manih Koto, ayah Julia Maya Panyalai dan Viktor Tanjung. Usai bersalaman, ia duduk di samping kanan Bupati Marapi, lalu menengadahkan kepalanya, kemudian menarik napas beberapa jenak.

Bupati Marapi, Plt. Sekwankab. Marapi, kakek Ajo Manih Koto, ayah Julia Maya Panyalai dan Viktor Tanjung memperhatikannya dengan diam.

Gadih Minang dan Julia Maya Panyalai mengulum senyum.

“Saya sudah sampaikan kepada kawan-kawan Pansus, kenapa Panitia Pembentukan Nagari Minangkabau tidak mendampingi Pansus ketika meninjau ke lapangan.” ujar Ketua DPRD.

“Bagaiman reaksi mereka Pak Ketua?” tukas ayah Julia Maya Panyalai seketika.

“Mereka enggan menanggapi. Saya jadi bingung jadinya.”

“Kok bingung jadinya Pak Ketua?”

“Karena saya tidak paham, apa maksud dan tujuannya?”

Bupati Marapi menengadahkan kepalanya.

Plt. Sekwankab. Marapi menekurkan kepala menatap meja kerjanya.

Tak seorang pun yang berbicara.

Beberapa jenak sunyi.

Sayup-sayup terdengar bunyi pukulan Gandang dan Tasa.

Karena bunyinya semakin keras, Bupati dan Ketua DPRD Kabupaten Marapi serentak berdiri, lalu berjalan beberapa langkah, kemudian berhenti di belakang jendela.

Kakek Ajo Manih Koto melirik Gadih Minang, Julia Maya Panyalai dan Viktor Tanjung, lalu mengkode dengan kepala ke atas.

Ketiganya pun serentak berdiri, lalu berjalan beberapa langkah, kemudian berhenti di belakang kedua beliau.

Tampak dari kaca jendela, di halaman gedung dewan, dua orang sambil berjalan menabuh Gandang dan Tasa.

Di belakangnya berjalan beriringan, perwakilan masyarakat pengusul nagari baru yang tidak dibenarkan masuk ke gedung dewan.

Setelah berhenti, seseorang mengaturnya menjadi 16 barisan.

Yang berdiri paling depan, memamerkan plank papan nama Nagari baru yang mereka usulkan.

Tiba-tiba datang seseorang dengan Toa di tangan, lalu berhenti di depan penabuh Gandang dan Tasa.

Setelah melihat ke kiri, ke kanan dan ke belakang, ia beri kode dengan menaikan telapak tangan kanannya ke atas.

Bunyi Gandang dan Tasa pun bertalu-talu, lalu berhenti ketika sampai pada puncak nada dan irama hoyak Tabuik Piaman.

“Pak Ketua Dewan, segeralah pimpin rapat. Kami jangan digantung tak bertali,” teriaknya dengan Toa.

“Astagfirullah. Masyarakat pengusul Nagari baru berunjuk rasa,” kata Bupati Marapi.

Kakek Ajo Manih Koto dan ayah Julia Maya Panyalai segera bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan beberapa langkah, kemudian berdiri pula di depan jendela yang satu lagi.

“Mak Datuak, siapa pemegang Toa itu?” tanya Ketua DPRD Kabupaten Marapi sambil melirik kakek Ajo Manih Koto.

“Bujang Angek, dubalang Korong tertinggal Bodi Panyalai Nagari Marapi,” jawab kakek Ajo Manih Koto.

“Pak Ketua, bagaimana solusinya?” tanya Bupati Marapi.

“Saya kontak dulu Ketua Pansus.”

Ketua DPRD Kabupaten Marapi segera menghidupkan ponselnya.

Setelah hidup, ia keraskan volume suaranya, lalu memencet nomor Ketua Pansus.

Tersambung.

“Assalammualaikum Ketua.”

“Waalaikum salam…”

“Ada apa Ketua?”

“Massa pengusul Nagari baru, sedang unjuk rasa di halaman gedung dewan. Mereka menuntut kita segera rapat.”

“Baik. Kami segera ke gedung dewan.”

Ketua DPRD Kabupaten Marapi mematikan ponselnya.

“Ayo kita ke ruang rapat,” ujar Bupati Marapi.

Maka dengan diawali Ketua DPRD Kabupaten Marapi, mereka pun melangkahlah beriring-iringan memasuki ruang sidang.

Begitu masuk, terdengar tepuk tangan yang meriah dari keenam belas delegasi masyarakat pengusul Nagari baru.

Bupati Bupati dan Ketua DPRD Kabupaten Marapi terus melangkah menuju pentas, lalu duduk di belakang barisan meja yang ada papan nama jabatannya.

Setelah duduk, Ketua DPRD Kabupaten Marapi menyalami kedua Wakil Ketuanya yang duduk di kirinya.

Selesai bersalaman, Ketua DPRD Kabupaten Marapi melirik ke depannya. Tampak di deretan meja sebelah kiri, Ketua dan anggota Pansus sudah duduk di kursinya masing-masing.

Di samping kiri dan kanan Pansus, sudah duduk pula di kursi pimpinan dan anggota Komisi I, II dan III.

Ketua DPRD melirik Plt. Sekwankab. Marapi – yang duduk di pojok kanan pentas aula – lalu mengkodenya.

Plt. Sekwankab. Marapi berdiri, lalu dengan sebuah map di tangan kanan berjalan beberapa langkah menuju pentas aula. Lalu menyerahkan sebuah map berisi daftar hadir anggota dewan kepada Ketua DPRD Kabupaten Marapi, kemudian melangkah kembali ke tempak duduknya.

“Assalammualaikum,” katanya sambil membaca daftar hadir Pimpinan dan Anggota DPRD Kabupaten Marapi itu.

“Waalaikum salam!” jawab sebagian banyak yang hadir. (bersambung)

Komentar