Tinta Rakyat – “Mereka merasa dilecehkan. Ketika meninjau Korong tertinggal Bodi Panyalai, panitia pembentukan Nagari Minangkabau tak mendampingi di lapangan.” kata Sekwankab. Marapi.
“Ada surat pemberitahuannya?” tanya ayah Julia Maya Panyalai.
“Ada.” kata Sekwankab.
“Kami dari panitia pembentukan tidak menerima suratnya.” jawab ayah Julia.
“Plt. Sekwan, cari tahu, di mana tersangkutnya surat Pansus itu,” tukas Bupati Marapi.
Plt. Sekwankab. Marapi menekan bel di kanan bawah meja kerjanya.
Dengan segera Wat Kamek Sekretaris Plt. Sekwankab. Marapi membuka pintu, lalu melongok ke dalam.
“Kamek, suruh Kasi Humas segera kemari!” kata Plt. Sekwankab. Marapi dengan kerasnya.
Wat Kamek Sespri Plt. Sekwankab Marapi itu pun segera keluar.
Fadhly Ajudan Bupati Marapi menutup pintu kembali.
Gadih Minang memperhatikan mereka.
Plt. Sekwankab. Marapi duduk menekur.
Bupati Marapi, kakek Ajo Manih Koto dan ayah Julia Maya Panyalai saling memandang Plt. Sekwankab. Marapi.
Terdengar pintu diketuk tiga kali.
Fadhly Ajudan Bupati Marapi membuka pintu.
Yuang Asril membuka pintu, lalu melongok ke dalam.
“Ada apa Pak Sek?” tanyanya.
“Surat pemberitahuan Pansus meninjau Korong tertinggal Bodi Panyalai Nagari Marapi, ada disampaikan kepada Panitia Pembentukan Nagari Minangkabau?”
“Ada. Penerimanya kawan saya, Sekretaris Nagari Marapi…”
“Kok dia yang menerima?”
“Kebetulan dia ke gedung dewan mencari kawannya yang anggota DPRD Marapi. Ia tandatangani tanda terimanya.”
“Pak Datuak ini ketua panitia pembentukannya, tidak ada menerima!”
Yuang Asril merah padam mukanya.
“Kontak dia!” kata Plt. Sekwankab. Marapi.
Yuang Asril dengan segera mengeluarkan ponselnya dari saku celana sebelah kanannya, lalu menghidupkannya.
Setelah hidup, ia kontak yang bersangkutan.
Tersambung.
“Apa kabar Pak Buyuang?”
“Jadi Pak Sekna Marapi serahkan kepada Panitia Pembentukan Nagari Minangkabau, surat pemberitahuan Pansus meninjau Korong tertinggal Bodi Panyalai Nagari Marapi?”
“Apa tadi Pak Buyuang? Surat Pansus Pembentukan dan Pemekaran Nagari?”
“Ya. Pak Sekna waktu itu ke DPRD mencari kawan. Saya titipkan surat itu.”
“Oh iya. Tapi…”
“Tapi apa?”
“Maaf Pak Buyuang…”
“Kenapa?”
“Saya lupa. Hari itu mendadak saya pulang ke kampung rang rumah. Ada dunsanaknya meninggal.”
“Maaf Pak Sek, saya yang salah,” kata Yuang Asril pucat.
Plt. Sekwankab. Marapi menekur dengan muka merah padam.
“Yuang, keluarlah!” kata Bupati Marapi.
Fadhly Ajudan Bupati Marapi membuka pintu.
Yuang Asril bergegas keluar.
“Plt. Sekwan, beritahu Ketua Dewan,” kata Bupati Marapi.
Plt. Sekwan segera mengontak Ketua DPRD Marapi dengan ponselnya.
Tersambung.
“Di mana posisi Pak Sek sekarang?” tanya Ketua DPRD Marapi.
“Di ruang kerja bersama Pak Bupati, dan beberapa orang dari Panitia Pembentukan Nagari Minangkabau.”
“Berarti ada sesuatu yang genting?”
“Ya. Karena kelalaian Kasi Humas kita, Ketua Panitia Pembentukan Nagari Minangkabau tidak menerima surat Pansus. Mohon Pak Ketua komunikasikan dengan Ketua Pansus.”
“Baik. Tunggu hasilnya.”
Plt. Sekwankab. Marapi meletakan ponselnya di atas meja.
Gadih Minang memperhatikan ayah Julia Maya Panyalai.
Tampak beliau memandang Plt. Sekwankab. Marapi dengan muka geram.
Plt. Sekwankab. Marapi menekurkan kepalanya.
Bupati Marapi menengadahkan kepala ke atas, lalu menarik napas beberapa jenak.
Tak seorang pun yang berbicara.
Beberapa jenak sunyi.
Julia Maya Panyalai menyikut Gadih Minang.
“Pak Bupati,” kata Gadih Minang tertahan.
“Ya. Apa?”
“Apakah kekacauan ini ada hubungannya dengan Pilkada Kabupaten Marapi nanti?”
“Pasalnya?”
“Ketika kami mensosialisasikan sinerjitas program bhakti sosial di Kantor Wali Nagari Marapi, ada yang mempertanyakannya…”
“Apa jawab kalian?”
“Sejak awal hingga sekarang, tak satu pun kalimat atau kata yang kami sampaikan berhubungan dengan Pilkada Kabupaten Marapi!”
“O begitu. Bagaimana menurut Plt. Sekwan?”
“Informan menyebutkan memang ada. Ketua DPRD berambisi memenangkan Pilkada Kabupaten Marapi!”
“O jadi dia ingin mengalahkan saya sebagai juara bertahan?”
Plt. Sekwan mengangkat kedua bahunya.
Terdengar pintu diketuk tiga kali. (bersambung)


Komentar