BERULAHNYA KETUA DPRD KABUPATEN MARAPI
Tinta Rakyat – AIR yang lagi mengalir menuju muaranya, sempat menggigil ketika diembus angin yang tak sengaja lalu.
Seminggu kemudian, DPRD Kabupaten Marapi menggelar rapat paripurna guna membahas Ranperda tentang Pembentukan dan Pemekaran Nagari.
Rapatnya dijadwalkan pukul sepuluh pagi.
Pukul sembilan lewat lima puluh menit, dari rumah nenek Julia Maya Panyalai, Gadih Minang beserta anggota delegasi pengusul pembentukan Nagari Minangkabau, dengan tiga Kereta Kencana – yang disaisi kakek Ajo Manih Koto, Viktor Tanjung, dan ayah Julia Maya Panyalai – dengan hati gadang tiba di tempat parkir DPRD Kabupaten Marapi.
Setelah menambatkan ketiga Kereta Kencana, mereka melangkahlah menuju pintu masuk yang tertutup dan dijaga dua orang berseragam Satpol PP.
Karena berjalan paling depan, Gadih Minang duluan tiba di depan pintu.
“Dari Nagari baru mana?” tanya salah seorangnya yang tertulis di papan nama di sebelah kanan atas dadanya: Eri Gunung.
“Nagari Minangkabau,” jawab Gadih Minang.
“O nagari baru yang masuk usulannya lima menit waktu katingga itu. Tunggu sebentar…”
“Ada apa?”
“Kami laporkan dahulu kepada Pak Plt. Sekwan,” kata anggota Satpol PP yang satu lagi yang tertulis di papan nama di sebelah kanan atas dadanya Bujang Pandawa.
“Baik. Kami tunggu,” kata Gadih Minang.
Eri Gunung menutup pintu.
Tak seorang pun yang bicara.
Beberapa jenak sunyi.
Beberapa jenak kemudian, terdengar pintu dibuka dari dalam ruang sidang.
Muncul seseorang yang di papan nama di sebelah kanan dada atasnya tertulis Mak Andah Taslim.
“Maaf, saya Plt. Sekwankab. Marapi. Benar dari Nagari Minangkabau?” katanya bertanya.
Gadih Minang menganggukan kepalanya.
“Silahkan masuk!”
Mereka pun masuk beriring-iringan menuju meja di mana terpampang papan nama Nagari Minangkabau. Setelah duduk di samping kanan Julia Maya Panyalai, Gadih Minang melirik ke atas pentas. Tampak dua Wakil Ketua DPRD Marapi, dengan saling diam, duduk di belakang meja pimpinan rapat.
Di depan pentas, kursi anggota dewan tampak masih banyak yang kosong.
Di kirinya, telah penuh oleh pegawai berpakaian seragam dinas Pemerintah Kabupaten Marapi.
Gadih Minang melihat jam tangannya.
Waktu mendekati pukul sepuluh.
Sesuai undangan, rapat paripurna dimulai pukul sepuluh, tetapi kursi Ketua DPRD Kabupaten masih kosong.
Kakek Ajo Manih Koto mahengong ke belakang.
Karena Gadih Minang duduk di belakang beliau, muka mereka saling berhadapan.
“Gadih,” kata beliau.
“Ya, Kek.”
“Sms ajudan. Tanyakan di mana Pak Bupati?”
“Baik, Kek.”
Gadih Minang segera menghidupkan ponselnya, lalu via sms mempertanyakan kepada ajudan keberadaan Bupati Marapi.
Sambil menunggu balasannya, Gadih Minang menggarut kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
Beberapa saat kemudian masuk sms balasannya.
Gadih Minang segera membacanya: di ruang kerja Plt. Sekwankab. Marapi.
Gadih Minang menyampaikannya kepada kakek Ajo Manih Koto.
“Balas. Kita ke sana: Kakek, ayah Maya Jul, Gadih, Maya Jul dan Viktor Tanjung.”
Lalu, dengan mengacungkan jari telunjuk tangan kanan, mereka pun melangkah beriringan menuju ruang kerja Plt. Sekwankab. Marapi.
Beberapa saat kemudian, mereka pun tibalah di depan ruang kerja Plt. Sekwankab. Marapi.
Fadhly Ajudan Bupati Marapi – yang telah menunggu di depan pintu – mempersilahkan mereka masuk.
Setelah masuk, kakek Ajo Manih Koto dan ayah Julia Maya Panyalai dan Viktor Tanjung, bergantian menyalami Bupati dan Plt. Sekwankab. Marapi.
Gadih Minang dan Julia Maya Panyalai memberi salam dengan kedua telapak tangan di dada.
“Silahkan duduk,” kata Plt. Sekwankab. Marapi setelah membalas salam keduanya dengan cara yang sama.
Kakek Ajo Manih Koto, ayah Julia Maya Panyalai dan Viktor Tanjung duduk di kursi sofa panjang di samping kanan Bupati Marapi.
Gadih Minang dan Julia Maya Panyalai duduk di kursi di depan Bupati Marapi.
Bupati Marapi melirik Plt. Sekwankab. Marapi.
“Apa maksud Mak Datuak kemari?” tanya Plt. Sekwankab. Marapi.
“Ingin tahu, apa sebab rapat belum juga dimulai?”
“Tim Pansus Pembentukan dan Pemekaran Nagari Dalam Wilayah Daerah Kabupaten Marapi, tidak mau menghadiri sidang…”
“Kenapa?” (bersambung)



Komentar