KABA KACAUNYA MINANGKABAU (13)

KARYA : RAFENDI SANJAYA 

Tinta Rakyat – “Adinda Julia…” kata Pandeka.

“Ya.”

“Jangan digantung, apa tetapinya itu?”

“Sejak pembukaan sampai sekarang, tidak satu kata atau kalimat pun yang mengarah kepada Pilkada Kabupaten Marapi. Sinerjitas program bhakti sosial kami dalam rangka berbuat kebajikan dan kebaikan untuk masyarakat kelima nagari asa nenek dan kakek,” jawab Julia Maya Panyalai.

“Tetapi kami merasa sedang menggantang asap,” tukas Parewa lalu berdiri.

Gadih Minang dan kawan-kawan serentak memandang Julia Maya Panyalai.

“Kami tidak paham apa maksud merasa sedang menggantang asap. Tolong Uda Parewa jelaskan” kata Julia Maya Panyalai.

“Itu…”

“Apa?”

“Program bhakti sosial kalian tidak jelas sumber dananya!”

“Dari Yayasan Pembangunan Nagari Minangkabau!” tukas Viktor Tanjung yang duduk di sebelah kanan Julia Maya Panyalai.

“O begitu. Sebagian besar undangan saya yakini menyambut optimis. Saya pribadi dan sebagian kawan-kawan merasa pesimis. Walaupun kalian beri honor pelaksananya, nagari asa nenek kalian dengan kehidupan masyarakatnya nyaman dan sejahtera tidak mungkin terwujud…”

“Kenapa begitu?”

Pandeka kembali mahengong Parewa.

“Pandeka katakan sajalah biar adik-adik kita ini memaklumi,” kata Parewa seketika dari tempat duduknya.

“Adik-Adik. Umumnya urang nagari asa nenek kalian sekarang ini berpaham masyarakat liberal yang menghamba kepada materialisme sehingga adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah dan syarak mangato adat mamakai hanya sekedar selogan!”

“Baik. Kita masuk agenda pengusulan Nagari Minangkabau. Uda Viktor Tanjung dipersilahkan!”

Julia Maya Panyalai menggeser mikrofon ke Viktor Tanjung.

Viktor Tanjung segera meletakan mikrofon itu ke depan mukanya, lalu menarik napas beberapa jenak melalui hidungnya.

“Nagari Minangkabau kami bangun dengan pulang basamo sekali lima tahunan sehingga telah nyaris sempurna infrastruktur, fasilitas umum dan fasilitas sosialnya. Sekarang lima tahunan kelimanya.”

“Apa sumber mata pencaharian mereka?” tukas sekaligus tanya Pandeka seketika.

“Sejak 10 tahun lalu dibuka perkebunan kelapa dan dibangun pabrik-pabrik padat karya…”

“Apa sumber mata pencaharian lainnya?” sela Parewa.

“Karyawan berbagai pabrik padat karya; sepeda, konveksi, garmen, mukenah, sepatu, terompa dan berbagai makanan dan minuman ringan dalam kemasan dengan pemasaran bekerja sama dengan mall dan mini market anggota PPMM Dunia yang ada di berbagai kota di seantero nusantara!”

“Apakah distributor dan pedagang pengencer lainnya ada yang bukan anggota PPMM Dunia?” sela Pandeka pula.

“Ada! Dua orang kakek anggota PPM Kota Kembang keturunan urang Minangkabau di mana seorang cucu perempuan beliau ikut pulang basamo. Namanya Gadih Minang.”

“Anggota PPMM Dunia juga bertunduik?”

“Ya.”

“Kenapa tunduik padusi kalian tidak ikut pulang basamo?”

“Menghargai tunduik padusi Kota Kembang di mana tunduik bujangnya tidak bisa pulang basamo ke ranah Minang.”

“Itu bukan bertunduik namanya.”

Viktor Tanjung menggeser mikrofon ke arah Julia Maya Panyalai.

Julia Maya Panyalai segera meletakannya ke depannya.

“Tunduik kami datang menyusul!” kata Julia Maya Panyalai lalu menggeser mikrofon ke dekat Viktor Tanjung.

Pandeka diam.

“Tahukah Uda Pandeka…” kata Viktor Tanjung menggantung.

“Apa?” kata Pandeka bertanya.

“Berapa KK keturunan asli Minangkabau yang bermukim di kompleks perumahan PPM Kota Kembang?”

“Mana Uda tahu. Berapa?”

“Dua KK!”

“Hanya dua KK?”

“Ya!”

“Siapa KK-nya?”

“Orang tua Gadih Minang dan orang tua tunduiknya, Bujang Minang!”

“Idealis sekali Gadih Minang. Jauh-jauh datang ke ranah Minang hanya untuk menyenangkan hati tunduik padusi PPM Kota Kembang dan tunduik bujang PPMM Dunia!”

“Viktor!” sela Wali Nagari Marapi seketika.

“Ya. Apa Pak Wali.”

“Benarkah, rencana kegiatan dari sinerjitas program bhakti sosial telah dilaksanakan di kelima korong tertinggal yang akan kalian usulkan sebagai Nagari Minangkabau?”

“Ya. Hasilnya, mereka hidup nyaman dan sentosa karena menerapkan adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah atau syarak mangato adat mamakai! Apalagi urang sumando di cikal bakal Nagari Minangkabau hanya sebagai tamu malam!”

“O seperti ranah Minang di zaman saisuak ketika sanak-kemenakan masih sedikit sedang pusaka tinggi berupa sawah, kolam dan ladang masih banyak.”

“Ya!”

“Syukurlah! Semoga dapat jadi contoh oleh nagari lainnya!”

“Bagaimana Pak Wali? Masih ada yang akan ditanyakan?”

“Untuk sementara cukup,” kata Wali Nagari Marapi.

“Undangan kami yang lainnya, ada pertanyaan?” kata Julia Maya Panyalai melempar. (bersambung)

Komentar