KABA KACAUNYA MINANGKABAU (12)

KARYA : RAFENDI SANJAYA 

Tinta Rakyat – “Kita masuki agenda kedua Kawan-kawan. Apakah rencana kegiatan pasca peninjauan dan pengamatan gaya hidup dan perilaku umbuik mudo di kelima nagari asa nenek dan kakek kita ini, udah bisa ditetapkan sebagai Sinerjinitas Program Bhakti Sosial PPM Kota Kembang dan PPMM Dunia?” kata Julia Maya Panyalai.

“Udah!” jawab kawan-kawannya serentak.

“Baik. Sebelum dibahas teknis pelaksanaannya, ada tanggapan atau pertanyaan dari Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, dan Saudara-Saudara para undangan kami?” kata Julia Maya Panyalai melempar.

Tak seorang pun yang bicara.

Beberapa jenak sunyi.

“Silahkan!” kata Julia Panyalai memancing.

Seseorang segera berdiri sambil berkacak pinggang.

Panjul Jambak – yang berdiri di dekat pintu masuk aula – melangkah mendekat dan menyerahkan Toa kepadanya.

“Saya Parewa, cadiak pandai Nagari Marapi,” katanya memperkenalkan dirinya.

Orang-orang dengan diam menunggu tutur katanya selanjutnya.

Katanya, banyak hal sebenarnya yang perlu dipertanyakan kepada Adik-Adik.

“Saya mulai dahulu dengan apa maksud dan tujuan kalian pulang basamo ke ranah Minang?” ujarnya bertanya.

“Sebagaimana tadi sudah kami lisankan dan tayangkan, maksud dan tujuan kami pulang basamo ka nagari asa nenek dan kakek adalah untuk berbuat kebaikan dan kebajikan sehingga masyarakat kelima nagari asa nenek dan kakek hidup nyaman dan sejahtera berdasarkan kepada adat basandi syarak,syarak basandi Kitabullah dengan menerapkan syarak mangato adat mamakai! Dengan kaum perempuan berpenghasilan sendiri dengan usaha masak-memasak, jahit-menjahit, anyam-menganyam, menanam dan mengolah ubi kayu jadi makanan ringan, tukang bordir mukenah, pekerja usaha konveksi atau garmen!”

“Maksud dan tujuan kalian pulang basamo sangat rancak tetapi susah jadi kenyataan…”

“Kenapa?” tukas sekaligus tanya Julia Maya Panyalai.

“Mamak adat dan mamak syarak kalian sudah terbiasa menghamba kepada materialisme dan hirarki jabatan fungsional. Umbuik mudo pada umumnya tidak ingin dikungkung aturan adat dan agama! Untuk sementara cukup!” kata Parewa lalu duduk kembali.

“Baik. Masih ada yang akan bertanya?”

Seseorang segera berdiri sambil berkacak pinggang pula.

Panjul Jambak mengambil Toa dari tangan Parewa dan menyerahkannya kepadanya.

“Saya, Mantiko Ketua BPAN Nagari Tandikek. Mengapa umbuik mudo belajar Paket A, B dan C bukan pendidikan umum atau kejuruan di sekolah-sekolah?”

“Gadih, sampaikan landasan pemikirannya di layar InFokus,“ kata Julia Maya Panyalai.

Gadih Minang menampilkannya di layar InFokus.

Pendidikan dan pengajaran yang mempertemukan murid lelaki dengan murid perempuan dalam ruang kelas, bukan pendidikan dan pengajaran ala Timur tetapi pendidikan dan pengajaran ala Barat. Akibatnya, umbuik mudo bangsa terutama yang bermukim di kota-kota metropolis rawan melanggar syarak mangato adat mamakai.

Sebagai upaya mengembalikan kehidupan umbuik mudo Desa atau (nama lain) Na benar-benar beradat Timur yang santun dan berketuhanan yang tauhid, surau difungsikan sebagai pusat pembelajaran Paket A, B, dan C, dan pelatihan keterampilan untuk kecakapan hidup.

“Selesai,” kata Gadih Minang.

“Baik. Ada tanggapan atau pertanyaan?’ kata Julia Maya Panyalai melempar.

Seseorang segera mengangkat tangan kanannya, lalu berdiri di depan kursinya.

Panjul Jambak segera mengambil Toa dari tangan Mantiko, lalu menyerahkannya kepadanya.

“Saya, Pandeka, cadiak pandai Nagari Singgalang. Bulan depan akan dilaksanakan Pilkada. Apakah pertemuan ini ada hubungannya dengan Pilkada Kabupaten Marapi nanti?”

Mendengarnya, yang duduk di depan, pada mahengong ke belakang memandang Pandeka.

“Memang kelima kabupaten asa nenek dan kakek kami dipimpin orang Maya-Minangkabau. Dan maju kembali sebagai calon bupati juara bertahan. Tetapi…” kata Julia Maya Panyalai tertahan sambil menarik napas beberapa jenak melalui hidungnya.

Pandeka mahengong Parewa yang duduk lima kursi di samping kirinya.

Parewa kebetulan mahengong Pandeka pula.

Parewa dengan segera menarik telapak tangan kanannya ke atas tiga kali dengan cepatnya. (bersambung)

Komentar