BERMUSYAWARAH DAN BERSOSIALISASI PROGRAM
Tinta Rakyat – GADIH Minang dan kawan-kawan, Viktor Tanjung dan kawan-kawan pun tibalah di nagari asa nenek dan kakek masing-masing.
Mereka ke sana dengan lima bus PPM Kota Kembang.
Sesuai proposal, rencana kegiatan program bhakti sosial dirancang setelah meninjau dan mengamati prilaku dan gaya hidup umbuik mudo nagari asa nenek mereka masing-masing.
Peninjauan dan pengamatan itu dilaksanakan selama lima hari.
Karena yang ke lapangan hanya perwakilan, perlu diadakan musyawarah untuk menyamakan persepsi sekaligus sosialisasi.
Maka pada hari ketujuhnya, mereka laksanakan musyawarah mupakat sekaligus sosialisasinya di aula Kantor Wali Nagari Marapi.
Gadih Minang dan kawan-kawan memakai baju kurung dan celana panjang dari kain sutera – dengan selendang melilit kepala, dan jilbab menutup dada – berterompa jepit dari kulit rusa.
Sedang Viktor Tanjung dan kawan-kawan bercelana jao, berbaju gunting cino, berterompa jepit dari kulit rusa dengan kupiah hitam menutup kepala.
Gadih Minang – yang duduk di kanan Julia Maya Panyalai di belakang meja di pentas aula – melihat jam tangannya.
Hari menyatakan tepat pukul sepuluh, saatnya dimulai acara.
Gadih Minang menyikut Julia Maya Panyalai.
“Assalammualaikum!” kata Julia Maya Panyalai.
“Waalaikum salam!” jawab sebagian banyak hadirin.
Julia Maya Panyalai terlebih dahulu menyampaikan puji syukur ke hadirat Tuhan yang tauhid, salawat kepada nabi akhir zaman, dan salam penghormatan kepada seluruh elemen peserta dan undangan yang hadir.
Selanjutnya Julia Maya Panyalai menyampaikan siapa mereka.
Katanya, mereka adalah dua kelompok rombongan pulang basamo ke Nagari Asa nenek dan kakek di ranah Minangkabau.
Kelompok pertama adalah, kami keturunan Maya Minangkabau yang lahir dan besar di rantau urang, terdiri atas 38 tunduik padusi PPM Kota Kembang. Kelompok kedua adalah, 40 tunduik bujang anggota PPMM Dunia.
“Kami yang 38 orang tunduik padusi PPM Kota Kembang bermaksud mewujudkan idealisme sebelum resmi pulang ka Bako, berbuat kebajikan dan kebaikan dahulu di lima nagari asa nenek dengan melaksanakan sinerjitas bhakti sosial!” ujar Julia Maya Panyalai sambil menarik napas beberapa jenak dari hidungnya.
Peserta dan undangan menunggu dengan diam.
Usai sesak dadanya mereda, Julia Maya Panyalai menyampaikan maksud dan tujuan pulang basamo 40 anggota PPMM Dunia, yakni berbuat kebajikan dan kebaikan kepada masyarakat dan pemerintah kelima nagari asa kakek mereka.
Untuk menyamakan pemahaman dengan pemuka masyarakat dan pimpinan pemerintah kelima nagari asa nenek, hari ini dilaksanakan musyawarah dan sosialisasi program bhakti sosial dengan tiga agenda. Pertama, mensosialisasikan rencana kegiatan sinerjinitas program bhakti sosial pasca peninjauan dan pengamatan perilaku dan gaya hidup umbuk mudo kelima nagari asa nenek. Kedua, membahas teknis pelaksanaannya. Ketiga, membahas sumber biayanya.
“Untuk menghemat waktu, kita minta Gadih Minang menampilkan di layar InFokus, rencana kegiatan dari sinerjitas program bhakti sosial dimaksud,” ujar Julia Maya Panyalai.
Lalu Gadih Minang menampilkan di layar InFokus, rencana kegiatan tindak lanjut pasca peninjauan kelima korong tertinggal di batas sepadan kelima kabupaten dan nagari asa nenek mereka.
Pertama, menggabung dan mengusulkan kelima korong tertinggal pada batas sepadan Nagari dan Kabupaten Marapi, Sago, Singgalang, Tandikek, dan Talang – sebagai Nagari Minangkabau, nagari Bakonya pulang basamonya 40 anggota PPMM Dunia.
Kedua, meresmikan pembentukan Nagari Minangkabau, dan melantik Pjs pimpinan kelima lembaga pemerintahannya.
Setelah dua kali tayang, Gadih Minang menampilkan di layar InFokus, rencana kegiatan tindak lanjut sinerjinitas program bhakti sosial pasca peninjauan ke korong-korong tidak tertinggal nagari asa nenek mereka.
Pertama, peningkatan kesejahteraan keluarga melalui usaha ekonomi kreatif dan produktif yang diawali dengan pelatihan keterampilan tangan berupa anyam-anyaman dan jahit-menjahit. Pesertanya ibu rumah tangga, dan gadis usia 17 tahun ke atas yang putus sekolah untuk lima angkatan. Komposisi pesertanya, sepuluh orang per korong per angkatan.
Kedua, peningkatan kesejahteraan keluarga dengan optimalisasi pemanfaatan lahan tidur dengan penanaman ubi kayu dan pisang timbatu kemudian diolah jadi makanan ringan dalam kemasan.
Pemasarannya bekerja sama dengan Mall PPM Kota Kembang.
Setelah dua kali tayang, Julia Maya Panyalai meminta Gadih Minang menampilkan di layar InFokus, rencana kegiatan tindak lanjut sinerjinitas program bhaksi sosial pasca peninjauan gaya hidup dan perilaku umbuik mudo kelima kabupaten dan nagari asa nenek mereka.
Peserta dan undangan memperhatikannya dengan diam.
Pertama, revitalisasi fungsi Laga-Laga dan surau korong sebagai pusat pembinaan dan pengasuhan ketahanan fisik, mental, spritual dan intelektual umbuik mudo korong melalui baca tulis Al-Quran, praktek shalat lima waktu berjamaah, pengajian ilmu agama berketuhanan yang tauhid, didikan subuh, pelatihan Pencak Silat dan seni tradisi nagari, belajar Paket A, B dan C dengan tutornya didatangkan dari dinas terkait kabupaten.
Kedua, dalam rangka membumikan kembali adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, diberlakukan pemberian sangsi adat dan agama bagi keluarga umbuik mudo korong pelanggar syarak mangato adat mamakai. Pelaksana lapangannya diberi honor bulanan.
Ketiga, dalam rangka meningkatkan ketahanan mental dan spiritual generasi penerus kepemimpinan nagari, direvitalisasi fungsi urang sumando korong sebagai penghardik umbuik mudo korong usia akil balig yang sumbang tutur kata, sumbang busana dan sumbang pergaulan. Penghardik diberi honor bulanan.
Keempat, dalam rangka kemudahan beribadah, apabila jemaah cukup semukim (40 orang) dibolehkan di surau korong dilaksanakan shalat lima waktu berjemaah, shalat Jumat, shalat Idul Fitri, dan shalat Idul Adha. Imam, garin dan muazin surau korongnya diberi honor bulanan.
“Udah selesai,” kata Gadih Minang.
Julia Maya Panyalai menarik mikrofon, lalu meletakannya ke depan mukanya. (bersambung)



Komentar