Tinta Rakyat – “Masih ada tanggapan atau pertanyaan?” kata Wali Nagari Marapi melempar.
Kembali Pandeka mengangkat tangannya.
“Silahkan. To the poin aja,” kata Wali Nagari Marapi.
“Ketika tutorial, apakah peserta Paket A, B dan C disatukan?” tanyanya.
“Maksud Pandeka, bercampur peserta lelaki dengan perempuan?
“Ya.”
“Bagaimana Gadih?” kata Wali Nagari Marapi melempar.
“Tidak!” jawab Gadih Minang tanpa pengeras suara.
“Kenapa?” tanya Pandeka lagi.
“Kalau disatukan berarti kita mengikuti pola pendidikan Barat yang dibawa penjajah, yang rawan melanggar syarak mangato adat mamakai.”
“Bagaimana kalau ada yang ingin kuliah ke perguruan tinggi?”
“Diberi beasiswa.”
“Sumber dananya dari mana?”
“Sama dengan biaya pelaksanaan Paket A, B dan C, dari Yayasan Pembangunan Nagari Minangkabau!”
“Tak akan mungkin jadi kenyataan…”
“Kenapa?”
“Umbuik mudo sekarang sudah terbiasa belajar di sekolah umum!”
“Itu salah satu tujuan kami berbuat kebajikan dan kebaikan untuk umbuik mudo nagari asa nenek dan kakek! Mereka akan berakhlak mulia dengan mengamalkan nilai-nilai adat Timur yang santun dan agama berketuhanan yang tauhid!”
Pandeka diam.
“Sudah paham Pandeka?” tukas Wali Nagari Marapi.
“Belum…”
“Perihal apanya?”
Pandeka menggarut kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
Yang hadir memperhatikannya dengan diam.
Pandeka menarik napasnya dalam-dalam melalui hidungnya.
Setelah perutnya terasa gembung, ia keluarkan pelan-pelan melalui hidungnya pula.
“Kenapa kesenian tradisi yang dipelajari bukan kesenian Barat?” katanya bertanya.
“Bagaimana Gadih?” kata Wali Nagari Marapi.
Gadih Minang menarik napasnya sejenak.
“Kesenian tradisi anak nagari seperti Indang, Rabab, Saluang. Apalagi Randai teater tradisional Minangkabau. Di samping menghibur, ceritanya syarat dengan ajaran adat Timur yang santun dan agama berketuhanan yang tauhid. Sangat bertolak belakang dengan seni hiburan produk bangsa Barat seperti Band dan Orgen Tunggal…” kata Gadih Minang.
“Bagaimana Band dan Orgen Tunggal itu?” tanya Wali Nagari.
“Pemain dan penikmatnya rawan melanggar syarak mangato adat mamakai!” ujar Gadih Minang.
“Kenapa?”
“Bertemu umbuik mudo padusi dan umbuik mudo bujang ketika menontonnya. Orgen Tunggal diciptakan oleh orang luar negeri untuk seseorang yang ingin belajar menyanyi tetapi di tempat tertutup, bukan di tempat keramaian seperti sekarang ini. Apalagi kalau penontonnya menenggak miras, rawan perkelahian! Karenanyalah di Nagari Minangkabau dilarang pesta nikah dihibur dengan Band atau Orgen Tunggal!” jelas Gadih Minang.
“Itu tak mungkin terlaksana karena telah jadi idola!”
“Itu sikap yang keliru. Mari kita luruskan bersama-sama!”
Pandeka menggelengkan kepalanya.
“Baik, kita mulai dengan pelatihan bagi-ibu-ibu dan remaja putri putus sekolah. Peserta diusulkan kepala Korong?”
“Setuju!”
“Setuju, surau dan Laga-Laga difungsikan sebagai pusat pembelajaran dan pelatihan kecakapan, serta pembinaan dan pengembangan fisik dan mental spritual umbuik mudo korong?”
“Setuju!”
“Setuju disosialisasikan tiga minggu, Rancangan Peraturan Nagari tentang Pemberian Sangsi Adat dan Agama bagi umbuik mudo korong yang melanggar syarak mangato adaik mamakai?”
“Setuju!”
“Setuju urang sumando menghardik umbuik mudo korong usia sekolah yang keluyuran di luar rumah, yang tidak tahu dengan kato nan ampek, yang sumbang gaul dan busana?”
“Setuju!”
“Terakhir, setuju apabila jemaah cukup semukim, di surau korong dilaksanakan shalat lima waktu, shalat Idul Fitri dan shalat Idul Adha?”
“Setuju!” jawab sebagian banyak yang hadir.
“Tidak untuk shalat Jumatnya!” sela Pandeka dengan suara basnya.
Orang-orang yang hadir pada memandang Pandeka.
Tak seorang pun yang bicara.
Gadih Minang mahengong ke arah Wali Nagari Marapi.
“Kenapa tidak setuju untuk shalat Jumatnya?” tanya Wali Nagari Marapi.
“Shalat Jumat harus di Masjid Raya Nagari. Tradisi nenek moyang ini harus kita pertahankan!”
“Bagaimana Bapak-Bapak dan Saudara-Saudara yang hadir?” kata Wali Nagari Marapi melempar.
“Setuju!” jawab kebanyakkan yang hadir serentak.
“Tugas saya selesai. Terima kasih atas perhatiannya. Assalaamualaikum,” kata Wali Nagari Marapi.
“Waalaikum salam!” jawab sebagian banyak peserta dan undangan seketika.
Wali Nagari pun menggeser mikrofon ke dekat Viktor Tanjung.
Viktor Tanjung menggesernya ke dekat Julia Maya Panyalai.
Julia Maya Panyalai menggesernya ke depan mukanya.
“Terima kasih atas kehadiran dan perhatian semuanya. Kita akhiri pertemuan ini dengan mengucapkan Alhamdulillah,” kata Julia Maya Panyalai.
“Alhamdulillah!” jawab yang hadir serentak.
“Pemberitahuan…” kata Gadih Minang tertahan.
Para peserta dan undangan yang dimaksud, seketika memandang ke arah Gadih Minang.
“Sesuai permintaan nagari asal, mohon menemui teman-teman kami untuk penyerahan penggantian biaya beli BBM,” kata Gadih Minang.
Maka mereka pun antrilah.
Usai penyerahan, Gadih Minang dan kawan-kawan, Viktor Tanjung dan kawan-kawan, permisi kepada Wali Nagari Marapi.
Selanjutnya, dengan hati gadang mereka bersepeda beriringan menuju rumah nenek masing-masing. (bersambung)


Komentar