KABA TERDAKWANYA UANG HILANG (10)

Karya : Rafendi Sanjaya

Tinta Rakyat – Mandeh Rubiah dan Ajo Manih berdiri, lalu berjalan beberapa langkah kemu dian duduk kembali di tempatnya.

“Jaksa, silahkan tanggapi kaba tadi,” kata Angku Palo.

Jaksa seketika berdiri.

“Kaba tadi tidak dapat jadi bahan pertimbangan!”

“Jaksa…!” sela seseorang.

“Ya. Siapa?”

“Uwan, pembela relawan Nagari Kito…”

“Oh iya. Apa?”

“Kok tidak dapat? Kenapa?”

Jaksa terdiam sejenak.

Orang-orang menunggu dengan diam.

“Sesuai BAP, Ajo Manih tetap terdakwa perampok sekaligus pembunuh Mandeh Rubiah dan tiga Parewa Bakoa!” kata Jaksa dengan lantang.

“Baik. Hakim, silahkan tanggapi kaba tadi.”

Jaksa dengan menyeringai duduk kembali.

Hakim berdiri.

“Palo…”

“Ya.”

“Sebelum memutuskan, apakah kaba tadi dapat diterima atau tidak sebagai bahan pertimbangan kebenaran perkara, untuk pendalaman pandangan dan pertimbangan, ada yang

perlu kami tanyakan kepada saksi To O…”

“Silahkan.”

Hakim melangkah ke tengah pentas, lalu berdiri di samping kanan Angku Palo dengan kepala mahengong ke To O.

Hakim mengulum senyumnya, lalu menggosokkan kedua telapak tangannya.

“To O!” katanya.

“Ambo Pak Hakim,” jawab To O lalu mahengong ke arah Hakim berdiri.

“Ajo Manih ke rumah Mandeh Rubiah dengan Saudara?”

“Tidak…”

“Kok Saudara tahu peristiwa itu? Di mana Saudara ketika itu terjadi?”

“Ambo duduk sambil minum kopi di lapau di depan rumah Mandeh Rubiah.”

“O begitu?”

“Ya.”

“Berapa jarak lapau itu dari rumah Mandeh Rubiah?”

“Sekitar empat puluh meter.”

“Apakah Saudara melihat seseorang di luar rumah Mandeh Rubiah?”

“Ya.”

“Siapa?”

To O mahengong Ajo Manih.

Ajo Manih diam.

“Sebaiknya saya tuliskan namanya di selembar kertas.”

“Baik. Manti…!”

“Ya.”

“Beri To O pena dan kertas!”

Manti Nagari berdiri dan mengeluarkan pena dan secarik kertas dari saku baju safari sebelah kanannya.

To O datang menjemputnya.

“Ambo mau menulis, pinjam punggung Pak Manti sebentar.”

Manti Nagari menyodorkan punggungnya ke To O.

To O dengan segera menulis sebuah nama, lalu menyerahkannya kepada Manti Nagari.

Manti Nagari segera membacanya.

Napasnya tiba-tiba sesak, lalu jatuh terjerembab ke lantai pentas.

“Manti pingsan. Sidang ditunda! Gin, Tan, gotong Manti ke belakang pentas!” kata Angku Palo dengan kerasnya.

Ajo Gindo dan Ajo Sutan muncul beriringan dari pintu kanan belakang pentas, lalu memapah Manti Nagari Kito ke pintu kiri belakang pentas.

Angku Palo, Hakim, Jaksa, Ajo Manih, Mandeh Rubiah dan To O pun melangkah bergegas menuju pintu kiri belakang pentas.

Gue dan Uwan berdiri lalu beriringan ke pintu keluar menuju cafe Balai Basuo Nagari Kito.

Di sana kami main domino sampai dini hari. Lawan kami pasangan Ajo Fuddin dan Ajo Karanggo. Kami menang 8-6. (bersambung)

Komentar