Tinta Rakyat – “Tunggu!” kata seseorang dari jauh dengan kerasnya.
Gue mahengong ke arah datangnya suara. Tampak seseorang melangkah bergegas di pekarangan Balai Basuo Nagari Kito.
Setelah dekat, rupanya Manti Nagari Kito.
Ia terus melangkah memasuki serambi.
Ajo Sutan dan Ajo Gindo urung meninggalkan serambi.
Manti Nagari Kito memasuki serambi, lalu berdiri di antara Ajo Gindo dan Ajo Sutan.
Uwan diam.
Gue sikut Uwan.
“Ada apa Manti?” tanya Uwan.
“Ajo Manih harus disidangkan!”
“Kenapa?”
“Dia telah mencemarkan nama baik Nagari Kito!”
Manti Nagari Kito melapak tangan kirinya dengan telapak tangan kanannya.
Bunyinya terdengar bergaung.
Orang-orang yang ada di dalam cafe Balai Basuo Nagari Kito pada keluar, lalu berdiri berkerumun di depan pintu.
Salah seorang dari mereka, Labai Nagari Kito, menyeruak kerumunan orang-orang, lalu berdiri di samping kanan Manti Nagari Kito.
“Oh Labai. Ada apa?” kata Manti Nagari Kito.
“Benar Ajo Manih merampok sekaligus membunuh Mandeh Rubiah dan tiga Parewa Koa?” tanya Labai Nagari Kito.
“Labai hadir di penguburan tadi kan?”
“Ya.”
“Yang dikuburkan itu mayat Mandeh Rubiah dan tiga Parewa Koa kan?”
“Kata siapa mayat Mandeh Rubiah dan tiga Parewa Koa?”
“Aduh Labai! Kata siapa lagi kalau bukan kata orang banyak, termasuk Ajo-Ajo yang sekarang ada di serambi Balai Basuo Nagari Kito ini!”
“Ya. Mayat orang!” kata Ajo Gindo dan Ajo Sutan nyaris serentak.
“Iyakan Labai!” kata Manti Nagari Kito.
“Bagaimana menurut kalian?” tanya Labai Nagari Kito kepada kerumunan orang-orang.
Orang-orang yang berkerumun pada diam tetapi saling berpandangan.
“Kok Angku-Angku semua pada diam?” tanya Manti Nagari Kito.
“Mereka diam bukan berarti tidak punya pendapat. Cuma…”
“Kalau buka pendapat khawatir muncul masalah baru?”
“Ya.”
“Pemerintah Nagari Kito ini memberi hak kepada semua warga bebas menyatakan pendapat asal….”
“Tidak mengganggu stabilitas ketenteraman dan ketertiban masyarakat serta pemerintahan dalam nagari. Begitu kan Manti?”
“Iyalah!”
Labai Nagari Kito dengan tangan kanannya seketika menarik Manti Nagari Kito ke pojok kanan serambi.
“Yang Manti kuburkan itu hanya…”
“Apa?”
Labai Nagari Kito segera mahengong kepada kerumunan orang-orang yang memandangnya dengan saling diam.
Sejenak sunyi.
Gue sikut Uwan.
“Katakan saja Mak Labai apa yang sebenarnya,” kata Uwan.
Manti Nagari Kito menggeser badannya.
“Hanya batang pisang!” katanya tepat di pangkal telinga Manti Nagari Kito.
“Hanya batang pisang?” gumam Mantari Kito.
“Ya. Kami melihat penguburan bukan dengan mata kepala tetapi dengan…”
“Apa?” tukas sekaligus tanya Manti Nagari Kito.
“Mata hati. Yang dikuburkan itu bukan mayat orang, hanya batang pisang. Oleh karena itu bebaskan Ajo Manih!”
“Apa? Bebaskan Ajo Manih?”
“Ya!”
“Apa logikanya?” tukas sekaligus tanya Ajo Gindo.
“Perampokan sekaligus pembunuhan itu hanya rekayasa Manti Nagari Kito!” jawab Labai Nagari Kito.
“Hanya rekayasa Manti Nagari Kito?”
“Ya!”
Manti Nagari Kito tertawa terbahak-bahak.
Orang-orang yang berkerumun di depan pintu masuk cafe melangkah beriringan, lalu mengerubungi Manti Nagari Kito.
Manti Nagari Kito menguak kerumunan orang-orang, lalu berjalan beberapa langkah, kemudian berhenti di pojok barat serambi.
“Tidak ada lagi kesempatan Ajo-Ajo menyelamatkan Ajo Manih…”
“Apa logikanya?” tukas sekaligus tanya Uwan seketika.
“BAP-nya telah saya tandatangani selaku Kuasa Jabatan Wali Nagari Kito. Tunggulah undangan hari sidangnya!”
“Baik. Kami tunggu hari sidangnya!” kata Labai Nagari Kito.
Manti Nagari Kito dengan diiringi Ajo Gindo dan Ajo Sutan melangkah bergegas meninggalkan serambi.
Kami memandangnya sambil menggelengkan kepala. (bersambung)


Komentar