Audiensi Tak Direspon, Maha Siswa Gelar Aksi Tuntut Evaluasi 1 Tahun Pitu Vista Bupati Lampung Selatan

Lampung858 Dilihat

Tintarakyat-Lampung Selatan

Gaung aspirasi lantang bersuara di bumi khagom mufakat, menyusul demonstrasi dari ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Front Cipayung Plus dan BEM Lampung Selatan di depan Kantor Bupati dan Gedung DPRD Kabupaten Lampung Selatan, Senin. (23/2/2026).

Gelombang Aksi tersebut menyo’al sekaligus menyoroti kinerja Bupati Egi dan Wakil Bupati Syaiful yang sudah satu tahun memimpin daerah kabupaten Lampung Selatan yang di pandang hanya janji fatamorgana.

Para aksi menyampaikan orasinya, sekitar pukul 13.30 wib. Situasi sempat memanas ketika sejumlah perwakilan dari mahasiswa mencoba memasuki area kantor bupati untuk memastikan keberadaan Radityo Egi Pratama.

Namun sungguh disayangkan, Radityo Egi Pratama tak berada di lokasi, disebutkan sedang di luar daerah. Hanya Asisten Pemerintahan Setdakab Lampung Selatan, M. Darmawan, yang menemui massa aksi.

Dengan tidak adanya Bupati, memicu rasa kecewa yang menambah tensi suasana semakin panas dari para aksi.

Selanjutnya massa aksi bergerak ke Gedung DPRD Lampung Selatan untuk menyampaikan tuntutan serupa kepada para wakil rakyat.

Namun, perwakilan massa aksi hanya ditemui oleh Wakil Ketua I DPRD Lampung Selatan, Merik Havit, SH, MH. Politisi muda dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuanga.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan mahasiswa semua yang hadir di sini. Kantor DPRD ini adalah kantor rakyat, kantor yang dibangun pakai uang rakyat. Jadi siapapun bebas menyampaikan aspirasi dan memberikan masukan kepada kami,” ucap Merik di hadapan para demonstran.

Menanggapi tuntutan mahasiswa yang ingin meminta bertemu langsung dengan Ketua DPRD, Merik menjelaskan bahwa hampir seluruh anggota DPRD tengah mengikuti kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) yang telah terjadwal sebelumnya.

“Namun saya sebagai unsur pimpinan juga di DPRD akan memastikan bahwa apa yang menjadi tuntutannya akan kami perjuangkan dan diteruskan kepada pimpinan,” Ujar merik.

Mahasiswa secara khusus menyoroti satu tahun masa kepemimpinan Bupati Radityo Egi Pratama dan Wakil Bupati M. Syaiful Anwar.

Mereka menilai sejumlah janji kampanye yang terangkum dalam konsep “Pitu Vista” belum terealisasi secara nyata di tengah masyarakat.

Mahasiswa yang menuntut evaluasi menyeluruh atas tujuh misi pembangunan yang menjadi dasar kepemimpinan Egi–Syaiful selama satu tahun terakhir.

Menurut mereka, berbagai gagasan dan kritik konstruktif sebelumnya telah disampaikan melalui jalur audiensi dan saran resmi, namun’ tidak mendapatkan respons yang memadai dari pemerintah.

“Nanti akan kami sampaikan secara rinci tujuh misi itu ketika kami bertemu langsung dengan Bupati Lampung Selatan,” Ujarnya Mesyur dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Lampung Selatan.

Ia menegaskan, Cipayung Plus dan BEM Lampung Selatan hadir sebagai mitra kritis pemerintah daerah, bukan sebagai oposisi tanpa dasar. Namun, minimnya kehadiran pejabat saat aksi berlangsung justru mempertegas kekecewaan mereka.

“Kami sudah di Kantor Bupati, yang hadir bukan Bupati bahkan bukan Wakil Bupati. Kami ke Gedung DPRD, dari sekitar 50 anggota DPRD hanya satu yang hadir. Ini menunjukkan minimnya keseriusan dalam menerima aspirasi rakyat,” tegas Mesyur.

Usai melakukan deklarasi di depan Kantor Bupati, mahasiswa memberikan ultimatum. Mereka menegaskan akan kembali turun ke jalan dengan jumlah massa lebih besar apabila dalam 1×24 jam tidak ada kepastian jadwal audiensi langsung dengan Bupati.

“Kami akan menggelar aksi jilid II dengan massa yang lebih banyak dari hari ini,” ancamnya.

Sementara itu, Asisten Pemerintahan dan Kesra Lampung Selatan, M. Darmawan yang menemui mahasiswa di lokasi aksi, menyampaikan pesan dari Bupati yang saat ini berada di Jakarta.

“Bupati Lampung Selatan akan menjadwalkan waktu lain untuk bertemu adik-adik mahasiswa. Silakan sampaikan apa yang perlu disampaikan nanti dalam forum tersebut,” ujar Darmawan.

Dalam aksi tersebut, sejumlah spanduk bernada kritik terbentang bertuliskan, “Mu Lampung Selatan Maju? Jangan cuma janji manis, kami perlu pemimpin yang bijak. Buktikan kerjamu, jangan hanya omongan” serta “Evaluasi 1 Tahun Pitu Vista Bupati Lampung Selatan.”

Ultimatum yang disampaikan mahasiswa menjadi sinyal bahwa gelombang protes terhadap evaluasi satu tahun kepemimpinan di Lampung Selatan berpotensi memanas di jagad bumi khagom mufakat.

Aksi yang di gaungkan para maha siswa tersebut seolah meruntuhkan prestasi yang diterima Kabupaten Lampung Selatan dalam kurun waktu setahun terakhir ini.
(**)

Komentar